HarianBernas.com – Luthfi H Mas?ud, CCP, CPC, CH, CHt menjadi orang Betawi asli Duren Tiga, Jakarta Selatan yang pertama menjadi seorang Professional Coach di Indonesia dan memiliki Coaching Firm karena tidak banyak orang Betawi asli yang menggeluti dunia coaching.
Baginya, menjadi profesional coach yang tersertifikasi dan diakui ICF (International Coach Federation), bukan saja sebagai profesi melainkan sebagai identitas diri yang bisa digunakan di manapun berada, baik dalam keluarga, bisnis, maupun komunitas sosial.?Dengan identitas diri sebagai seorang coach, kebermanfaatnya dapat dirasakan oleh banyak orang,?ungkapnya ke Harian Bernas (22/3).
Ia pun membagikan pengalaman uniknya yang menjadi cikal bakalnya untuk tertarik terus menggeluti coaching, yaitu saat menjadi Sales Coach di Loop Indonesia Consulting tahun 2010 mendampingi Distributor salah satu FMCG terbesar di Indonesia area Jakarta Timur (Karawang, Purwakarta, Pemanukan dan Subang). ?Setiap harinya, saya selalu melakukan tandem dengan para sales ke pasar-pasar tradisional. Saat pertama kali saya melakukan tandem dengan salah satu sales yang sudah senior (saya masih ingat saat itu hari Jum?at) kita sudah sepakat saat pagi hari untuk jalan bareng (maksudnya pakai motor masing-masing). Entah kenapa sang sales bawa motornya ngebut sehingga saya nggak bisa ikutin dari belakang. Singkat cerita, saya ketinggalan jejak dari sales tersebut karena tidak tahu daerahnya akhirnya saya putuskan tidak melanjutkan tandem. Esok paginya, saat morning briefing, saya tanya kenapa ditinggal saat tandem (para sales ketawa semua). Akhirnya, sang sales pun bicara dengan berbagai macam alasan: ?Begini coach Luthfi, kalo hari Jum?at itu toko-toko buka hanya sampai jam 11. Kalo telat datang ke toko, saya ga bisa kejar target?. Ok, alasan diterima, hahaha,? terangnya.
Business Coach ini pun membagikan pengalaman uniknya ketika melakukan pekerjaannya.?Saat men-delivery training di salah satu perusahaan di Surabaya. Awal sesi training masih aman terkendali, tapi setelah break pagi dan melanjutkan trainingnya, ternyata mati lampu hampir tiga jam. So apa yang bisa saya lakukan? Dalam hati, inilah dinamikanya menjadi trainer, harus siap dengan kondisi apapun yang terjadi saat mendelivery training. Situasi ini juga banyak di alami oleh teman-teman saya. Alhamdulillahnya, saya menguasai isi slide materi dan trainingnya pun tetap jalan dengan fasilitas seadanya tanpa mic, gelap, dan panas,? tuturnya.
Education Coach memiliki alasan tersendiri untuk terus menekuni bidang profesinya sampai sekarang ini. Saat tahun 2000, ia bekerja sebagai direct sales representative di consumer finance di salah satu bank asing di jakarta. Setiap awal bulan, selalu ada sesi Coaching Clinic yang di lakukan Sales Manager untuk mengevaluasi performance tim sales. Cara melakukan Coaching Clinic pun tidak terstruktur dan terprogram ya semau-maunya Sales Managernya saja. Saat menjadi Sales Manager, ia pun juga melakukan hal yang sama persis apa yang dilakukan atasannya dulu, bedanya lebih manusiawi saja sedikit.
Sejak saat itu, ia menjadi penasaran tentang bagaimana melakukan Coaching ke anak buah. ?Akhirnya, tahun 2010, saya pindah kerja dari Industri Perbankan ke People Development (Training, Coaching & Consulting) di Loop Indonesia Consuliting. Saya menemukan jawabannya What & Why Coaching. Yang luar biasanya, orang yang pertama kali meng-coaching saya tahun 2000 akhirnya belajar tentang coaching sama saya di tahun 2013. Alhamdulillahnya, sampai saat ini, saya masih terus mengedukasi masyarakat tentang coaching melalui seminar, training dan workshop. Saya pun mempraktekannya di rumah dan beberapa klien yang saya dampingi sampai saat ini,? bebernya.
Founder Educasia Institute ini memaparkan tentang permasalahan yang sering ditemui dalam bidang profesinya sebagai coach. ?Cepat panas, cepat dingin. Idealnya, cepat panas, lama dinginnya. Artinya, saya cepat sekali berubah dalam kondisi tertentu. Saya menyikapinya dengan kembali dan fokus kepada value hidup saya, di mana coaching menjadi kendaraan menuju tujuan hidup saya dan saya selalu mengkaitkan sesuatu dengan value saya,? paparnya.
Pendiri Koperasi DIA17 ini pun membeberkan tentang tantangan yang akan dihadapi ke depannya. ?Tantangan yang saya hadapi, perubahan teknologi yang sangat cepat. Kecepatan perubahan teknologi tidak dibarengi dengan OTAK dan LOGIKA mahluk hidup seperti manusia. Semua serba instan dan mempengaruhi prilaku manusia. Saya menyikapinya dengan 3 hal, yaitu miliki Knowlagde, Experience, dan Methodology yang saling bersinergi satu sama lain. Orang yang memiliki Experience sudah pasti punya Knowlagde, tapi bila tidak memiliki Methodology akan menjadi sia-sia saja. Sebagai seorang Coach saya mempunyai 3 hal tersebut,? bebernya.
Suami dari Santi Dian Lestari ini pun mengemukakan pendapatnya bahwa coaching ini penting dilakukan dan dibagikan kepada masyarakat.?Coaching di Indonesia saat ini lagi seksi. Banyak orang yang tertarik mendalami Coaching. Buat saya Coaching is Methodology. Coaching bisa dikaitkan dengan apapun yang berada di sekitar kita. Misalkan, pola pengasuhan anak, pola pengajaran siswa di sekolah, pengembangan pribadi dan karir, pengembangan bisnis dan tim, dan lain sebagainya. Karena Coaching menjadi hal penting buat saya maka sejak tahun 2011, saya pun merasa punya kepentingan untuk mengedukasi Coaching kepada masyarakat sehingga terbangun kesadarannya untuk mau belajar mendalami dan tentang coaching,? urainya.
Pengagum sosok Ibu, Ustazah Hj Hamamah ini membagikan inspirasi kepada orang lain yang membaca kisahnya ini.?Manusia tercipta menjadi seorang pemimpin di muka bumi ini (Kholifah fil Ardhi). Setiap pemimpin memiliki jiwa seorang coach. Latihlah diri Anda untuk menjadi seorang coach agar dapat memberikan banyak manfaat untuk sesama. Sehebat apapun seorang coach pasti punya personal coach yang selalu menjaga agar tetap on the track pada goals yang ingin dicapai,? jelasnya.
Ia juga membagikan saran kepada orang yang ingin meraih kesuksesan seperti yang dicapainya saat ini. ?Ada 3 plus 4 hal penting yang perlu diperhatikan, yaitu: Value adalah arah dan tujuan yang jelas dalam mencapai kehidupan yang ingin dicapai dengan memiliki Visi, Misi dan Value/Culture. People adalah memiliki Smart Goals yang jelas dan terkoneksi dengan Value serta ketarampilan-keterampilan apa saja yang harus dimiliki agar mudah mencapainya. Process adalah bagaimana Anda memiliki cara yang sistematis dan terstuktur untuk mencapai Visi Anda. Untuk menunjang 3 di atas, harus punya 4 Dreams + Goals + Plans + Actions,? terangnya.
Penyuka hobi fotografi ini membocorkan tentang rencana atau projectnya dalam waktu dekat ini. ?Insyaallah dalam waktu dekat dengan Master Coach Getty, Pak Noegroho, dan Bu Anna melalui #SMART LESEHAN- SINERGI UNTUK NEGERI (SUN) mengumpulkan para Pemilik Binis dengan nama CEO Forum, kelas UKM dengan NGOPI4E Forum untuk program Pendampingan Bisnis Daerah Usaha Kampung Milyarder yang akan dilakukan di Jakarta, Bandung, Yogjakarta dan Surabaya. Dan akan terus merambah keseluruh Kota-kota di Indonesia dengan semangat SUN (Sinergi Untuk Negeri) dengan visi Green Spirit Awarness through Value Synergy,? ujarnya.
Coach bersertifikasi dari Loop Indonesia Consulting ini membagikan impiannya ke depannya. ?Punya lembaga pendidikan dengan pola asuh anak didik menggunakan metodologi coaching dan mampu menghidupkan dan menjalankan nilai-nilai universal (Living Value) dan melahirkan pemimpin-pemimpin bangsa yang memiliki value tinggi,? pungkasnya.
