HarianBernas.com – Thomas Budi Gunawan kini pekerjaannya fokus pada bidang profesi sebagai konsultan management, sebuah kegiatan yang memerlukan pengetahuan tersendiri untuk mampu membaca identitas perusahaan sehingga nantinya akan bisa terbentuk suatu prinsip perusahaan.
Ia kini juga menjabat owner dan head coach di Infinite Proficiency Coaching, sebuah lembaga yang berkompetensi untuk membangun organisasi perusahaan menjadi tim pemenang, berdaya saing, kuat, dan efisien.”Saya hanya fokus di konsultan management saat ini. Kemampuan saya sangat khusus untuk membentuk prinsip perusahaan. Masih sangat baru dan tidak ada profesional lain yang mempunyai program sejenis, plus sangat membutuhkan pengetahuan dan kemampuan untuk membaca identitas perusahaan,? ungkapnya ke Harian Bernas, (31/3).
Untuk pencapaian saat ini, ia memiliki pengalaman unik, khusus yang menjadi titik baliknya ketika berproses sehingga menjadi seperti sekarang ini. ?Keterpurukan beruntun dalam hidup pribadi dan usaha yang mendekatkan saya pada Tuhan hingga ke posisi saat ini,? tuturnya.
Konsultan ini pun membagikan pengalaman uniknya selama menekuni pekerjaan sebagai konsultan management seperti banyaknya perusahaan yang belum memiliki atau masih jauh dari standar profesional.?Perusahaan di Indonesia umumnya masih jauh dari standard profesional yang dibutuhkan untuk berkembang maksimal. Cukup unik karena perusahaan raksasa pun banyak yang tidak mempunyai prinsip,? jelasnya.
Ia pun tak memungkiri tentang sosok istri yang memiliki peran atas apa yang dicapainya saat ini. Baginya, sosok istri sebagai teman yang mau berbagi saat keadaan apapun.?Istri saya yang masih terus setia dan mendampingi saya dalam segala kondisi baik atau buruk, kejayaan atau keterpurukan,? ucapnya.
Baginya, menjadi seorang konsultan management diartikan sebagai bentuk bimbingan Tuhan tentang apa yang sudah dipersiapkan. Mengapa menekuni bidang yang digeluti sampai sekarang, ia juga mengaku tidak paham. Menurutnya, semua bimbingan Tuhan mempersiapkannya untuk saat ini dan masa depan yang akan dibukakan.Padahal ketika ditanya tentang cita-cita masa kecil, ia menjawab ingin seorang pilot meski sekarang hanya bisa menjadi pilot untuk peswat pribadi. ?Ya, ingin jadi pilot. Tampaknya sekarang cuma bisa jadi pilot pesawat pribadi,? ujarnya.
Untuk apa yang membentuk pola pikirnya saat ini, mantan Director PT. Mandiro Sakti Niaga ini menjawab bahwa ada dua ayat dari Alkitab yang memengaruhinya. Bahkan, dua ayat ini menjadi motto bagi dirinya untuk menjalani kehidupan sehari-harinya. ?Amsal bab 3 ayat 5, ?Percayalah kepada Tuhan dengan segenap hatimu dan janganlah bersandar pada pengertianmu sendiri dan Kolose bab 3 ayat 23,?Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia?. Kedua paham ini yang membentuk dan membangun pola pikir saya,? urainya.
Tak lepas sebuah permasalahan, ia pun menceritakan tentang kendala yang paling sering dihadapi. ?Absennya pemahaman prinsip perusahaan. Saya harus terangkan pentingnya dan apa itu prinsip perusahaan dan dampaknya pada kinerja perusahaan dan interaksi dengan konsumen,? katanya.
Untuk tantangan pada bidang pekerjaan ke depannya, ia pun memiliki jawabannya tersendiri. ?Saya harus mempersiapkan diri untuk tugas-tugas dari Tuhan. Semua mulai dibentangkan dan tampaknya akan sangat besar dan dasyat. Saya harus siap saat dibutuhkan. Karenanya, saya belajar dan berdoa setiap hari,? ucapnya.
Ia pun meyakini bahwa bidang yang digeluti ini penting dilakukan dan dibagikan kepada masyarakat.?Kalau masyarakat tidak maju pola pikirnya, selamanya negara ini akan kacau dan tidak akan mencapai kemakmuran dan keamanan umum yang baik,?katanya.
Hobi angkat besinya pun ternyata memiliki pengaruh kepada kesuksesan yang dicapai saat ini. ?Angkat besi membutuhkan ketekunan untuk bisa berhasil dan bertambah kuat dalam latihan ini. Cukup sesuai dengan sifat saya dan membantu saya untuk melepas semua stres saat berpikir atau terlalu dalam merenungkan suatu topik,? jawabnya.
Ia pun memiliki habit khusus yang dibangun selama ini untuk mendukung pekerjaannya. ?Mendengar dan mengingat sebanyak mungkin perkataan orang-orang untuk saya analisa valid atau tidaknya. Kebanyakan tidak valid. Level kebijaksanaan publik masih sangat rendah,? ujarnya.
Untuk mengembalikan mood agar kembali bersemangat bekerja, ia akan membaca Kitab Suci. ?Sekarang saya bisa dengarkan audio booknya. Kalau sudah lelah, saya akan stop dan mulai menulis untuk semua pikiran saya. Saya berpikir, jauh lebih baik kalau menulis,? jelasnya.
Alumni Saint Mary's University of Minnesota ini pun membagikan inspirasi dan sarannya kepada orang yang membaca kisah Anda ini. ?Untuk inspirasi, Tuhan mempunyai rencana luar biasa pada kita semua, tinggal apakah kita sadar dan mau mengikuti jalan yang ditunjuk / dibentangkan Nya. Untuk saran, tanyakan dulu pada Tuhan apa yang Ia inginkan dari Anda. Kita punya tugas dan bakat unik yang sudah dibekalkan dan Tuhan ingin kita maju dan bahagia sesuai kodrat kita masing-masing. Sesudah dapat informasi, baru tindak lanjuti untuk berusaha semaksimal mungkin dan setekun mungkin di bidang yang dikhususkan Tuhan pada kita sambil tekun berdoa,? bebernya.
Untuk tokoh yang diidolakan atau yang membuat termotivasi, ia menjawab Yesus karena Ia sempurna. Baginya, kalau mau belajar dari manusia, Yesuslah yang paling ideal untuk dipelajari. Plus karena sifat darinya sebagai konsultan, menrurutnya, kebijaksanaan Yesus sangat membantu untuk pekerjaannya. Untuk itu, kondisi lingkungan tak terlalu memengaruhinya. ?Tidak terlalu, saya hampir selalu melawan arah dengan keinginan atau apa yang dilakukan orang lain. Bersandar pada Tuhan lah yang membuat saya seperti sekarang. Saat saya berusaha dengan kekuatan sendiri, saya tidak kemana-mana,? terangnya.
Owner Infinite Proficiency Coaching ini membocorkan project dalam waktu dekat dan impiannya. ?Untuk project, peluncuran kembali Fountain Pen dan menulis sambung di Jakarta. Untuk impian, memajukan kebudayaan baca tulis dan peningkatan kualitas pola pikir anak-anak di seluruh Indonesia,? pungkasnya.
