HarianBernas.com-Pada awalnya Jimmy Susanto mengaplikasikan NLP (Neuro Linguistic Programming) buat dirinya sendiri. Kronologinya tahun 2001, ia berkuliah di Amerika Serikat. Bulan Agustus saat itu tengah musim panas. Ketika suhu baru 42 derajat, kulit tubuhnya tidak kuat dengan terik cuaca dan tidak mampu bertahan, bahkan katanya suhu panasnya bisa meningkat hingga 50 sampai 70 derajat.
?Akhirnya, saya dibawa pulang untuk mengobati kulit saya. Peristiwa 911 terjadi, tidak bisa balik kuliah ke Amerika, padahal kulit saya sudah sembuh. Di situlah saya stress dan kebawa tidur, yang membuat dilema, lalu menjadi suatu masalah. Di situlah titik balik saya, mulai 2005-2006, mulai mempelajari pengembangan diri, seminar-seminar mulai ikut, mulai ikut organisasi. Mulailah ketemu, brosur dan buku-buku. Ada dua pelatihan saya memutuskan ikut, kalau nggak itu NLP atau hipnosis. Akhirnya, saya ikut training NLP. Di situ cikal bakalnya, tahun 2009,? ungkapnya ke Harian Bernas ketika ditemui di Hotel Harper Yogyakarta,Jumat siang (30/3).
Tahun 2009, ia belajar NLP level praktisi di Jakarta, lalu mengambil level masternya tahun 2011. Dengan bekal itu, ia bisa membuka kelas, praktisi, master praktisi, sampai level trainernya juga bisa bikin. Tujuannya supaya teman-teman atau orang yang belajar ini bisa mendapat suatu keilmuan dalam bentuk pengembangan diri. Nanti aplikasinya, mereka bisa ke diri mereka sendiri dan orang lain.
?Dari situ, tahun 2012, saya memutuskan, kayaknya perlu belajar ke Florida, Orlando, Amerika selama sebulan. Dari situ, saya belajar lagi tidak hanya satu sumber, tapi belajar NLP dari lima guru yang berbeda,? tuturnya.
NLP trainner ini banyak menceritakan tentang manfaat dari NLP.
?Kita bisa menolong orang. Ada satu orang punya trauma pisau dan garpu yang sudah tahunan. Dengan psychotherapy, dalam hitungan menit, bisa hilang. Dibawa keluar, kita tunjukkan pisau dan garpu tidak takut lagi. Banyak hal yang bisa kita bantu dengan NLP. Selain itu, kita bisa mencoaching orang yang trauma terhadap sesuatu, lalu bisa hilang. NLP juga bisa buat ke bisnis. Banyak sekali para pebisnis yang tidak tahu cara berkomunikasi. Dalam NLP diajarkan cara berkomunikasi dari berbagai sisi. Bukan hanya berkomunikasi, tapi juga public speaking. Membangun kedekatan dan hubungan. Sebagai pimpinan dalam bisnis memotivasi karyawannya, ada ilmunya di NLP sehingga mengatasi masalah karyawannya atau timnya. Tentunya, bisa membantu buat dirinya sendiri dulu karena bisnis itu bukan robot, manusia semua, termasuk diri dia sebagai karyawan, pimpinan, dan pemilik,? urainya.
Peraih National Academy of Best-Selling Authors dari Amerika Serikat ini menceritakan tentang permasalahan yang sering dijumpai dalam bidang profesinya.
?Saya agak idealis untuk membentuk suatu pelatihan NLP. Jadi, terjadi di kondisi sekarang, orang bikinnya dengan singkat. Lebih murah, tapi isinya kurang. Kalau Anda mau lengkap dan komplit, ambilah yang full sertifikasi 6 sampai 7 hari, lebih mahal. Akan tetapi, permintaan di pasar, sedikit orang yang mau mengeluarkan puluhan juta dan cuti seminggu penuh. Di situ kendalanya. Banyak yang minta dipecah-pecahin ngeteng, dua hari dua hari sampai menjadi delapan hari, tapi saya masih idealis,? terangnya.
Peraih 100 Best Global Coaching Leaders ini juga mengungkapkan bahwa melihat peluang besar karena sentralisasi keilmuan (NLP) hanya di Pulau Jawa, terutama di Jakarta.
?Banyak sekali yang di luar Pulau Jawa, tidak mendapat ilmu ini. Memang ada segelintir orang yang belajar dari Pulau Jawa untuk dipakai di core bisnisnya dia. Yang terjadi malah peluang untuk belajar. Contoh, saya tanya teman-teman di Kalimantan, Sulawesi, Sumatera. Yang banyak terjadi adalah pecahannya (pelatihan NLP) yang sehari dua hari tersebut, tapi sebutannya dengan NLP. Sebutannya, bagaimana dapetin duit dengan lebih cepat, itu sama saja dengan NLP sehingga yang terjadi adalah orang selalu pengen cepat kaya, menurut saya bagus juga karena meningkatkan kesadaran orang untuk ikut pelatihan,? bebernya.
Pengagum Brian Tracy, seorang tokoh bisnis ini memaparkan alasan menekuni bidang profesi sebagai NLP Trainer. ?Sudah kecebur dan ilmu ini harus setiap orang miliki. Belajar dari pengalaman hidup saya, berobat sana-sini, terapi sana-sini, konsultasi sana-sini karena indikasi stres. Fokus, neuro lingustic program, neuro (otak, pikiran, dan jaringannya yang ada di kita). Neuro itu bukan hanya otaknya saja, segala yang kita lakukan, yang kita dapat dari penglihatan, pendengaran, perasaan, pengecapan, dan penciuman. Lalu linguistic, segala yang sesuatu kita ucapkan secara kata-kata, pemrograman kata-kata, baik yang terucap maupun yang ke dalam (eksternal dan internal). Programming itu apa, programming orangtua, programming diri kita, programming diri kita, programming pola kerja kita, dan mindset kita. Nah, NLP itu, bagaimana kita bisa memprogram pola kita dari tata bahasa kita dan pikiran kita untuk menjadi lebih baik. Karena itu, kita akan tahu, program kita yang salah di mana. Begitu sudah dilakukan perbaikan-perbaikan akan lebih efektif dan lebih cepat,? paparnya panjang.
Penyuka hobi mengantar anak sekolah setiap pagi ini membagikan inspirasi dan sarannya untuk yang membaca kisahnya ini.?Tidak punya S1, tidak lulus kuliah, tapi mendapat tawaran S2 dari Belanda karena dinilai kompetensinya melawati tahap itu. Jadi, banyak orang sukses di sana ternyata tidak lulus kuliah sama sekali. Di sini, yang saya lakukan untuk memotivasi Anda, tapi bukan berarti Anda tidak harus lulus sekolah atau putus sekolah. Tapi, bagaimana Anda yang sudah dapat ilmu bangku sekolah, harus lebih hebat dari saya. Motivasinya, jika saya seorang tidak lulus sarjana bisa lebih makmur, kenapa Anda yang sarjana tidak bisa lebih makmur dari saya. Untuk saran, bikinlah orang-orang lebih sukses dari Anda. Bangunlah orang-orang sukses tersebut. Kenapa, ini akan menjadi suatu legacy. Orang itu akan saling berkolarborasi untuk Anda. Jarang sekali untuk menjadi musuh. Sangat besar untuk menjadi partner. Ketika Anda mengembangkan mereka, saling kolaborasi, network semakin berkembang, bukan menjatuhkan,? jelasnya.
Silver Master Trainer of NLP ini membagikan mottonya kepada pembaca, yaitu Always Make Peace, Love, dan Prosper. ?Saya percaya, orang untuk sukses harus dapatin yang Peace dulu. Peace itu ada dua, internal (kedamaian pribadi) dan eksternal, (memberikan kedamaian di luar). Setelah itu, baru bisa Love. Setelah mendapatkan kedamaian diri, Anda baru bisa mencintai diri sendiri. Jika tidak bisa berdamai dengan diri sendiri, bagaimana Anda bisa mencintai diri Anda. Setelah mempunyai interpeace dan interlove, Anda baru bisa eksternal peace dan Anda baru bisa berdamai dengan orang lain dan bisa mencintai orang lain. Ketika punya peace dan love, Anda baru bisa prosper, bisa kaya atau profit, baru bisa berkembang tidak hanya dari segi materi, tapi dari segi kenyaman, dsb. Setelah itu, baru bisa prosper atau sejahtera,? ujarnya.
Director PT. Pengembang Lintas Pengetahuan ini membocorkan tentang project dalam waktu dekat dan impiannya.?Untuk project, saya ingin mengembangkan guerilla marketing untuk ukm se-Indonesia dan untuk impian, saya ingin mempunyai rumah tanah dan punya target sekian duit yang saya didiamkan supaya dapat bunga,? pungkasnya.
