Kebumen,HarianBernas.com-Bupati Kebumen HM Yahya Fuad melontarkan gagasan, pemilihan kepala desa (pilkades) serentak di Kabupaten Kebumen mendatang tanpa politik uang. Akan ada beberapa desa yang dijadikan contoh, menyelenggarakan pilkades tanpa politik uang. Komitmen ini, untuk memberi kesempatan masyarakat yang punya potensi, tetapi tidak punya uang banyak untuk mencalonkan diri.
Gagasan itu hari Kamis (13/4), oleh HM Yahya Fuad benar benar diwujudkan, dengan mencanangkan Pilkades serentak tanpa politik uang. Di hadapan 200-an peserta rapat koordinasi persiapan pilkades serentak tahun 2017, HM Yahya Fuad memastikan, komitmen ini akan dilaksanakan dalam penyelenggaraan pilkades di 49 desa, pada tahun 2017 ini.
Pilkades tanpa politik uang, masyarakat yang tak punya uang bisa ikut pilkades sehingga ketika terpilih, tidak memikirkan untuk mengembalikan ?modal? mencalonkan diri. Kepala desa yang terpilih tanpa politik uang, bisa bekerja lebih tenang, selama memimpin desa.
Pemkab Kebumen mengalokasikan anggaran untuk biaya penyelenggaraan pilkades. Desa dengan jumlah penduduk kurang dari 2000 jiwa, bantuannya Rp 15 juta. Desa dengan jumlah penduduk 2000 jiwa sampai 2999 jiwa bantuannya Rp 20 juta. Bantuan terbanyak untuk desa dengan jumlah penduduk paling sedikit 3000 jiwa, bantuannya Rp 25 juta. Bantuan penyelenggaraan pilkades, panitia pilkades, dilarang memungut uang dari calon.
Pengamatan Bernas di setiap pilkades, calon mengeluarkan biaya untuk menjamu pendukungnya. Di beberapa desa dibebani biaya penyelenggaraan dengan dalih bantuan Pemerintah kurang. Ada juga panitia pilkades meminta calon untuk memberi uang saku kepada pemilih. Praktek politik uang yang paling sulit diukur besarnya ?wuwur? dalam bentuk uang. Besaranya bervariasi, tergantung kemampuan calon.
Pengguna jejaring sosial menanggapi komitmen ini beragam. Postingan Heru Riyanto, SIP, Penyidik Pegawai Negeri Sipil di Satuan Polisi Pamong Praja Kebumen tentang pencanangan pilkades tanpa politikuang ditanggapi nettizen/ pengguna jejaring sosial. Umumnya mereka tidak yakin politik uang tidak ada.
Politik uang masih ada dengan beragam cara. Bahkan, ada netizen menyebut, politik uang tidak hanya terjadi pada pilkades yang lalu. Pada pemilihan bupati yang lalu, politik uang terjadi. ?Lagi pilbup wingi sing marahi money politik si sopo,? kata Hananto Pratikno netizen asal Gombong. (nwh)
