HarianBernas.com – Yohanes Siyamta, namanya turut ambil bagian dalam khasanah sastra Jawa yang berkembang di Yogyakarta. Beberapa bukunya memberi nuansa lain tentang pilihan artikulasi yang lain atas budaya Jawa. Ia menulis tembang, geguritan, cerkak dan esai tentang Jawa.
Tumbuh dari keluarga yang terbatas, orangtua angkatnya bekerja sebagai tukang becak dan penjual gorengan. Namun, demi ngopeni seorang anak perjuangannya begitu luar biasa. Bahkan bapaknya memiliki harapan agar kelak anaknya bisa lebih dari apa yang dijalani orang tuanya sekarang.
Baca juga: 18 Jenis Konjungsi, Pengertian, dan Contoh Kalimat Terlengkap
Keinginan orangtuanya itu dijawab oleh Pak Yamta. Selepas tamat dari bangku SMP, ingin meneruskan di SPG agar kelak setelah lulus bisa jadi Guru dan bisa membantu orangtua. Namun, kenyataan berkata lain. Motivasi belajarnya ingin meneruskan lagi sampai ke jenjang perguruan tinggi.
“Kenapa memilih sekolah SPG agar bapak dan ibu kelak tidak usah lagi bekerja biar saya saja yang bekerja. Maksud hati ingin memuliakan dan membahagiakan orang tua. Tapi kok ya aneh, SPG dengan nilia bagus kok tidak kuliah. Saya tergerak untuk kuliah. Waktu itu Bapak menyakatakan oleh kuliah angger isa ketampa neng negri, nek ora bapak ora kuwat,” katanya. Alhasil diterima di IKIP Yogyakarta (sekarang UNY) di jurusan Sastra Jawa. Jurusan yang tidak begitu popular dan favorit bahkan sampai hari ini termasuk langka.
Dari aktivitas kuliahnya ia sudah nyambi mencari pekerjaan sebagai tenaga pengajar honorer dan ngelesi. Karena bapaknya pernah berujar, untuk biaya kuliah bapak masih kuat nanggung tapi untuk biaya tugas dan sang, Yamta disuruh mencari sendiri. Lulus dari sastra Jawa ternyata tidak menjadi guru, karena waktu itu ia justru mendaftar di Yayasan Slamet Riyadi (Universitas Atma Jaya Yogyakarta) sebagai Staf sejak bulan November 1990. Desember 1993 hingga Februari 2010 Staf Administrasi di FISIP. Maret hingga November 2010, ia dipindahkan ke Fakultas Ekonomi bersama dengan tawaran alih fungsi dari administrasi menjadi tenaga fungsional pustawakan. Tepat pada Desember 2010, ia berpindah di perpustakaan sebagai Pustakawan.
Baca juga: 51 Jenis Font Keren untuk Desain dan Menulis Buku 2021
Sebagai pegiat sastra Jawa yang sekaligus Pustakawan, memang ia tidak lagi termasuk orang baru di dalam jagad budaya Jawa. Ia sejak kuliah sudah mulai menulis geguritan dan tembang. Kecintaannya terhadap sastra Jawa sudah mendarah daging. Meskipun pekerjaan di perpustkaan yaitu di bagian referensi dan membuat tulisan, Ia tetap masih berkarya dengan menulis sastra Jawa. Aktif juga di Sanggar Sastra Jawa Yogyakarta sejak tahun 1991. Kecintaan yang dalam itu ia buktikan ketika sebuah pertanyaan muncul dalam dirinya “mosok lulusan sastra Jawa tidak punya karya, ya buat apa ilmu saya?” tegasnya. Dari situlah motivasinya untuk terus berkarya tidak pernah kendur.
Ia sangat fasih menulis sastra Jawa, tetapi bisa juga menulis bahasa Indonesia. Walaupun sempat muncul rasa fanatik terhadap bahasa Jawa, namun ia pernah buktikan bahwa tulisannya dengan bahasa Indonesia pernah dimuat di salah satu koran di Yogyakarta tahun 2007. Dengan dimuatnya tulisan itu, ia menjadi bangga bahwa tulisannya ternyata mendapatkan apresiasi. Saat itu, menulis opini tentang pembelajaran bahasa Jawa yang terkait dengan buku pelajaran yang susah didapat di toko-toko buku karena pengalaman dari anaknya secara langsung.
Jawa yang melekat pada dirinya bukan lagi soal budaya, namun sudah menjadi spirit dalam hidup Pak Yamta. Ia masih aktif menulis buku sampai detik ini. Seluruh tulisannya ingin ia dokumentasikan agar secara pendokumentasian karya tersebut dapat terawat dengan baik. Tapi, ada pengalaman menarik ketika ibunya beralih berjualan dari gorengan menjadi jualan lotek.
Waktu itu, tulisan karyanya sudah cukup banyak di kertas-kertas yang sudah dikumpulkan. Saat ingin membukukan semua catatannya itu, ia bertanya pada ibunya “Mak, kertas-kertas kula sing teng map-map nika teng pundi, nggih? Ibunya menjawab: Waahhh wis taknggo buntel lotek,” kenangnya dengan senyum. Dari peristiwa itulah ia tergerak untuk mendokumentasikan menjadi buku. Sampai akhirnya, ia berhasil menerbitkan sendiri bukunya mulai dari Donganing Maling (2008), Obrolan Pak Praba di Majalah Praba dilebeli Lodheh Kahanan (2009) dan karya lainnya. Awalnya, setiap tahun, ia ingin mengeluarkan 1 buku.
Baca juga: Interpretasi: Pengertian, Tujuan, dan Macam-macamnya
Pilihan launching bukunya pun tergolong unik dan otentik. Donganing Maling pernah ia bacakan di Gembira Loka. Sedangkan, Lodheh Kahanan dilaunching dengan cara dibacakan sambil berjalan kaki dari Tugu Pal Putih sampai alun-alun Utara. Kelima buku terbitan terakhir dilaunching di makam para imam Seminari Tinggi Kentungan Yogyakarta. Ia memilih tempat yang tidak biasa itu agar bahasa Jawa semakin menarik dan dilirik oleh publik. Sejak pembacaan Donganig Maling di Gembira Loka itu, ia semakin dikenal oleh publik Yogyakarta dan namanya menjadi lebih popular lagi sebagai seorang pegiat sastra Jawa.
Pak Yamta masih memiliki kebiasaan menulis dan mengajar ekstra kulikuler bahasa Jawa bagi mahasiswa Seminari Tinggi Kentungan Yogyakarta untuk materi budaya Jawa dan berbahasa Jawa dengan tepat dan benar. Kegiatan ini wajib bagi calon romo Keusukupan Agung Semarang dan Purwokerto. Kadang sesekali masih menjadi MC atau pranata adicara di sebuah hajatan.
Ia berpesan kepada anak muda agar terus mencintai bahasa Jawa. Kepribadian Jawa itu kuat. Meski sekarang ini, globalisasi dan teknologi informasi begitu kencang, kuatkanlah dari dalam dengan mempelajari budaya daerah khususnya Jawa. “Dengan mendalami budaya daerah menurut saya tidak bakal ketinggalan jaman, katrok atau ndesa, kok,” imbuh pria yang mengidolakan Widayat, Suparta Broto dan Bondan Nusantara ini.
Pak Yamta menutup perbincangan siang itu dengan quote yang ia ambil dari Kitab Nabi Ayub “Telanjang lahirku dari ibu dan telanjang pula matiku. Tuhan yang memberi Tuhan yang mengambil, terpujilah nama Tuhan.” Spirit ini yang menjadi kekuatan hidup baginya maka ia berpegang teguh dan berserah diri pada Tuhan agar tidak gentar menghadapi tantangan apapun di dalam hidup.
Baca juga: Mengenal Pengertian dan Ciri-ciri Komik sebagai Karya Sastra
