HarianBernas.com ? Pengalaman buruk di Somalia tidak membuat AS merasa kecut. Chicago Tribune memberitakan kalau AS mengirimkan pasukannya ke Somalia untuk membantu menumpas kelompok militan Al-Shabaab.
Terakhir kali AS menempatkan pasukan regulernya di Somalia adalah pada tahun 1994. Setahun sesudah insiden jatuhnya helikopter Black Hawk di tengah-tengah ibukota Mogadishu yang berujung pada tewasnya 18 prajurit AS.
Peristiwa jatuhnya helikopter beserta foto-foto para korban yang beredar sesudahnya membuat publik AS begitu terkejut sehingga mereka pun meminta agar militer negaranya segera mundur dari Somalia. Kendati AS memang menarik mundur pasukannya, AS tidak benar-benar melepas Somalia sepenuhnya. Dalam perang melawan Al-Shabaab ini, AS mengirimkan penasihat militer dan mengoperasikan drone untuk keperluan serangan udara.
Kebijakan pengiriman pasukan reguler AS ini merupakan tindak lanjut dari perintah Donald Trump di bulan Maret yang meminta agar ada tindakan yang lebih keras terhadap Al-Shabaab. Nantinya begitu tiba di Somalia, pasukan AS yang berjumlah puluhan personil tersebut bakal terlibat dalam pelatihan pasukan pemerintah Somalia supaya mereka bisa menjadi lebih efektif di medan perang.
Kurangnya kedisiplinan dan stok persenjataan yang memadai menjadi kendala utama pasukan pemerintah Somalia dalam menumpas Al-Shabaab yang aktif di wilayah sekitar ibukota Mogadishu. Pasukan pemerintah Somalia sebenarnya tidak sendirian karena mereka dibantu oleh pasukan Uni Afrika yang berkekuatan 22 ribu personil.
Namun Uni Afrika berencana menarik mundur pasukannya secara total pada tahun 2020 sehingga ketika penarikan mundur tersebut benar-benar terealisasi, pemerintah Somalia berharap sudah memiliki pasukan yang sudah cukup mandiri dan terampil.
