HarianBernas.com – Serangan rudal yang dilakukan oleh AS ke pangkalan udara Suriah membawa efek domino bagi hubungan AS dan Rusia. Presiden Vladimir Putin melalui juru bicaranya mengecam insiden tersebut dan menganggapnya sebagai bentuk pelanggaran terhadap kedaulatan suatu negara. Ia juga memperingatkan kalau tindakan AS bakal menimbulkan kerusakan serius pada hubungan bilateral AS dan Rusia.
Tanggapan Rusia terhadap tindakan AS bukan hanya berupa kecaman semata. Bloomberg memberitakan kalau Rusia membekukan kesepakatan dengan AS mengenai ruang udara di Suriah. Kesepakatan tersebut dimaksudkan agar pesawat-pesawat militer AS dan Rusia tidak saling bertabrakan di udara ketika menjalankan misinya masing-masing.
Pakar hubungan internasional Andrei Kortunov merasa khawatir akan dibekukannya kesepakatan tersebut. ?Kesepakatan ini membantu mencegah konfrontasi militer langsung dalam situasi yang sulit ini. Kita tidak mau menciptakan Perang Dunia III,? papar Kortunov. Menlu Rusia Sergei Lavrov berharap kalau insiden ini tidak akan menimbulkan konsekuensi negatif yang hasilnya tidak dapat lagi diubah.
Menurut Donald Trump dalam pidatonya, diluncurkannya rudal-rudal Tomahawk ke pangkalan udara Shayrat milik Suriah merupakan balasan dari AS pasca serangan gas beracun yang menurut Trump dilakukan oleh militer Suriah. Rusia dan pemerintah Suriah di lain pihak membantah kalau serangan gas tersebut dilakukan oleh militer Suriah. Mereka mengklaim kalau gas beracun tersebut berasal dari timbunan senjata milik pemberontak yang terhantam bom pesawat Suriah.
