HarianBernas.com – Sebelum secara penuh menjadi anggota DPRD DIY, Anton Prabu Semendawai, SH, Mkn ini memiliki sebuah rentang perjalanan hidup di negeri orang yang menjadi titik baliknya atas apa yang dicapainya saat ini. Ia pun menyadari tentang pentingnya memiliki gelar akademik di universitas. ?Dulu awalnya memang bergerak di dunia hiburan, entertain, dan MC. Sebelumnya, juga pernah bekerja di Australia. Belum kuliah. Di negara orang, susah juga kalau tidak punya title dan kepandaian atau kecerdasan, agak susah,? katanya mengisahkan ketika mengadu nasib di Australia ke Harian Bernas.
Akhirnya, ia balik ke Indonesia untuk kuliah di jurusan hukum di Universitas Gadjah Mada. Inilah yang diajarkan orangtua bahwa tidak bisa memberikan harta kecuali ilmu. Untuk mempunyai ilmu, ia merasakan penuh perjuangan. ?Di situlah titik baliknya. Ketika di negara orang lain susah, saya berpikir bahwa saya harus selesai kuliah. Setelah mencapai prestasi itu, kita harus bermanfaat untuk orang lain dan keluarga. Kata filsuf Derrida, tidak ada orang yang bodoh, yang ada pengetahuannya yang berbeda. Intinya, kita harus memiliki pengetahuan, entah apapun itu. Tidak ada orang yang superman, yang tahu pengetahuan semuanya,? tuturnya.
Waktu kuliah, ia juga bekerja di furniture, sebuah perusahaan dari Belanda, bahkan membuka restoran juga, bernama Junction. Pemilihan kuliah jurusan hukum pun terjadi karena latar belakang keluarga yang juga telah berkecimpung di dunia hukum. ?Kebetulan, ayah saya advokat senior. Kakak saya juga lulus belajar hukum. Adik juga telah lulus mengenyam kuliah hukum di UII. Sebelumnya, saya pingin ekonomi. Kembali lagi, darah itu mengalir dari atasnya, hukum itu tadi. Pengetahuan saya di bidang hukum. Setelah lulus, terus menjadi advokat, menjadi legislatif. Legislatif pun ada kaitannya dengan hukum karena kita membuat undang-undang, produk hukum, legislasi. Semua saling berkaitan dan tidak lepas dengan apa yang sudah digariskan yang di Allah SWT,? urainya panjang.
Setelah lulus Sarjana Hukum, ia pun menekuni profesi advokat seperti anggota keluarga lainnya. Setelah secara penuh menjadi anggota DPRD DIY pun, pemilik impian masa kecil ingin menjadi presiden ini pun masih memiliki satu hal yang masih diimpikan untuk diwujudkan, yaitu mau membuat restoran Jawa. Untuk dukungan atas apa yang telah dicapainya saat ini, ia mengaku pihak keluraga sangat berperan. ?Kalau yang pertama, support Ibu, doa-doa ibu yang pasti mujarab. Istri karena di balik kesuksesan laki-laki karena doa istri,? tuturnya.
Ketika sudah melakoni pekerjaan menjadi anggota dewan di DPRD Kota Yogyakarta, ia pun terus selalu ingin menambah pengetahuannya dengan mendaftar di S2 Notaris di UGM dan sudah kuliah selama 1 semester. Alhasil, setelah terpilih, ia harus cuti sebentar. ?Kemarin pas menjabat DPRD Provinsi, saya wisuda untuk S2-nya. Saya tetap menyelesaikan pendidikan,? imbuhnya.
Pengalaman menjadi anggota dewan, baginya, juga merupakan pengalaman unik apalagi ketika pemilihan, ia begitu merasakan jalan yang penuh perjuangannya di waktu pencalonan itu. ?Waktu itu, bagaimana kita meyakinkan masyarakat. Waktu meyakinkan orang dengan berbagai macam background. Sangat banyak merasakan susah dan senang di waktu pencalonan. Itulah cerita-cerita uniknya. Uniknya, waktu menjabat, hampir tiap hari harus ke kantor,? bebernya.
Sisi lain juga diungkapkan anggota dewan ini, yaitu sebetulnya, waktu kuliah S1 Hukum itu, ia ingin di Hukum Internasional. ?Saya inginnya ke United Nation (UN) khusus daerah-daerah konflik. Tiba-tiba, saya masuk ke dewan ini, tapi bidang hukum memang menjadi passion saya karena di legislasi ini, kita juga harus membuat produk-produk hukum yang baik. Produk hukum harus aplikatif. Produk hukum inilah yang mengatur anggota dewan dan yang membuatnya,?jelasnya.
Sebagai anggota dewan, Ketua DPC Gerindra Kota Yogyakarta ini juga tak memungkiri adanya permasalahan yang dihadapi dalam rutinitasnya sehari-hari. ?Ini kan lembaga politik. Ada perbedaan-perbedaan pandangan, terutama di komisi atau di pansus. Tetapi, bagaimana kita menyelaraskan dengan komunikasi, dengan dialektika politik, dan dengan lobi-lobi karena semua partai politk itu sama, hanya ada perbedaan yang mendasar di anggaran dasarnya. Kita Gerindra partai yang nasionalis, kita mengedepankan ekonomi kerakyatan. Itu yang harus kita bawa ke dewan. Enam program aksi dari Pak Prabowo itulah yang harus kita perjuangkan di dewan,?paparnya.
Untuk tantangan, Ketua Tidar (Tunas Indonesia Raya) se-Provinsi ini menjawab bahwa bagaimana caranya terpilih lagi. ?Cara menyikapinya, kita harus semakin sering turun ke masyarakat. Tahu apa yang masyarakat inginkan, tahu kekurangan-kekurangan yang ada di masyarakat itu seperti apa, memperjuangkan aspirasi partai, dan memperjuangkan aspirasi masyarakat,? jelasnya.
Ia pun menerangkan tentang alasannya terus ingin menekuni profesinya sebagai anggota dewan. ?Karena wakil rakyat, harus mendengarkan apsirasi masyarakat/konstituen. Kita bergerak di bidang politik. Selama masih ada negara, pasti ada politik. Nah, bagaimana politik ini menjadi politik yang santun dan politik yang bermanfaat bagi masyarakat. Kami ini hibah terbaik yang diberikan dikembalikan ke masyarakat,?tukasnya.
Anggota dewan ini pun memiliki kebiasaan khusus untuk mendukung bidang pekerjaannya ini. ?Kebiasaan, turun ke masyarakat. Dalam program, ingin membuat rumah aspirasi, warung-warung angkringan atau koperasi garuda yang ingin dimunculkan ke masyarakat. Roh dari ekonomi di Indonesia ini adalah koperasi, terutama koperasi dari partai dulu yang bisa membawa kemaslahatan bagi masyarakat. Itu yang baru saya bangun dan berkembang. Beberapa titik baru mau saya jalankan. Untuk mengembalikan mood, mendengarkan mars Gerindra dan lagu-lagu pergerakan dari Gerindra,? katanya.
Wakil rakyat ini pun tak lupa membagikan inspirasi dan sarannya kepada orang yang membaca kisahnya ini. ?Kalau ingin terjun ke dunia politik, jangan setengah-setengah. Dunia politik itu tidak bisa ditinggalkan atau disambi-sambi karena turun ke masyarakat akan menyita waktu, di pekerjaan juga. Untuk kaum muda sekarang, jangan antipati kepada politik. Politik sekarang kalau baca di berita, politik itu dinamis. Kalau punya passion di bidang politik, masuklah ke politik. Dulu juga ikut demo-demo waktu mahasiswa, tetapi aspirasi kita tidak langsung bisa. Kini, sebagai anggota dewan, kita ada tiga fungsi, budgeting, pengawasan, dan legislasi. Di legislasi ini, kita bisa bermain di ranah-ranah politik itu. Anggota dewan itu membuat uu dengan eksekutif. Untuk saran, belajar dan bekerja. Belajar, belajar, belajar. Belajar, berdoa, dan bekerja,? terangnya.
Pengagum sosok Prabowo ini pun membocorkan tentang project terdekat dan impiannya. ?Satu, akan lebih sering lagi turun ke masyarakat dan membangun koperasi Garuda Yaksa Nusantara, membangun bisnis restoran Jawa dan ingin S3. Untuk impian, saya ingin lebih maju lagi ke depan, entah itu menjadi DPR RI atau menjadi walikota,? pungkasnya.
