HarianBernas.com – Sedia payung sebelum hujan. Pepatah itulah yang bisa digunakan untuk mendeskripsikan tindakan Piql. Perusahaan yang berbasis di Norwegia tersebut membangun bunker di Pulau Svalbard yang terletak di lepas pantai Norwegia untuk menyimpan dokumen dan literatur bernilai sejarah tinggi.
Pembangunan bunker tersebut dilakukan dengan bantuan perusahaan batu bara yang juga berasal dari Norwegia. Kebetulan lokasi yang digunakan untuk mendirikan bunker tersebut merupakan kompleks pertambangan yang sudah tidak lagi digunakan. Piql meyakini kalau bunker yang mereka dirikan bisa menampung dokumen-dokumen di dalamnya hingga seribu tahun berikutnya.
Sejauh ini sudah ada tiga negara yang mengirimkan arsip-arsip nasionalnya ke bunker tersebut. Ketiga negara tersebut adalah Norwegia, Brazil, dan Meksiko. Data yang dikirimkan ke Piql nantinya akan dikonversi ke dalam format gulungan film peka cahaya sebelum kemudian disimpan di dalam bunker.
Menurut Piql, format tersebut menjadikan data yang bersangkutan tidak mungkin dimanipulasi atau dihapus. Data dalam format demikian juga dijamin aman dari serangan peretas. Rencananya gulungan film yang sudah dibuat akan disimpan di dalam ruang penyimpanan yang suhunya selalu berada di bawah nol derajat Celcius.
Bunker yang dibangun oleh Piql bukanlah satu-satunya bunker di Pulau Svalbard. Pada tahun 2008, pegiat lingkunga Cary Fowler yang dibantu oleh lembaga riset CGIAR membangun bunker di Pulau Svalbard untuk menyimpan biji-bijian dari seluruh dunia.
