HarianBernas.com – Hyacintha Susanti Jahja, akrab dipanggil Susan kini menekuni bidang pekerjaan learning provocateur. Titik baliknya sehingga menekuni profesi saat ini ketika bekerja di PT Astra International Tbk, tepatnya di divisi AMDI (Astra Management Development Institute) dan mengikuti training ?Siapakah Aku?.
Pendekatan dari training ini adalah menulis dan refleksi diri, menggali bagian terdalam dari hakikat diri sendiri. ?Pada saat itu, saya menemukan bahwa passion saya men-develop orang lain. Saya suka kalau melihat orang lain menjadi tahu atau menguasai sesuatu hal yang tadinya belum dikuasainya. Saya suka melihat orang lain berkembang dan mengoptimalkan potensinya sesuai dengan yang sudah Tuhan berikan kepadanya. Itulah yang konsisten saya wujudkan hingga saat ini,? ungkapnya ke Bernas (13/4).
Founder Business Growth ini membagikan pengalaman uniknya terkait profesinya ketika diundang untuk menghadiri salah satu partner?s conference di Salt Lake City, USA (Zenger Folkman, Top 20 Leadership Training of The World). Selain conference, ia juga mengikuti standarisasi kualifikasi fasilitator Zenger Folkman dalam program Train the Trainers bagi para partners mereka.
Di hari pertama program, ia baru tahu bahwa di dalam program ini setiap peserta akan secara bergiliran akan memfasilitasi kelas fasilitator mereka yang terdiri dari para fasilitator dari berbagai belahan dunia.
Walaupun ini bukan program Train the Trainers pertama yang ia ikuti dan dibawakan dalam bahasa Ingris, tetapi ini kali pertama ia memfasilitasi kelas yang pesertanya adalah para fasilitator yang sudah terbiasa memfasilitasi kelas di berbagai negara di dunia. ?Saya baru tahu sehari sebelumnya tentang hal ini! Ditambah dengan jetlag yang masih ada akibat perbedaan waktu 13 jam dari jam Jakarta maka lengkaplah kekagetan dan muncul ketakutan dalam diri saya saat itu,? ujarnya.
Selanjutnya, malam harinya, ia berusaha mempersiapkan diri sebaik-baiknya. Pagi harinya ketika hendak tampil, baginya, rasanya bunyi detak jantungnya seolah bisa terdengar rekan sebelah karena deg-degannya. Setelah selesai, tibalah momment feedback session. Surprisingly, ternyata apa yang dibawakan mendapatkan banyak apresiasi dari fasilitator negara-negara tetangga. Mereka suka dengan metafora penyampaian, metodologi games, dan simulasi yang dibawakan untuk memperjelas materi yang menjadi bagian untuk disampaikan.
Dari peristiwa tersebut, ia belajar bahwa jangan sampai ketakutan menghentikan langkahmu, tetapi hentikanlah ketakutanmu dengan melangkah. ?Karena apa yang kita takutkan kemungkinan besar tidak terjadi. Kalau kita berhasil, kita bangga dan kalau kita gagal, kita dapat pengalaman. Keduanya adalah keuntungan. So, always challenge your fear,? terangnya.
Coach ini menceritakan tentang permasalahan yang sering dihadapi dalam pekerjaannya. ?Ketika memfasilitasi kelas, permasalahan yang sering saya hadapi adalah ketika bertemu dengan peserta-peserta training yang merasa dirinya sudah tahu dan sudah pintar, padahal sesungguhnya apa yang diketahuinya adalah hanya kulit luarnya saja. Kepada mereka, saya melakukan pendekatan personal selama jam istirahat dan memancing dengan beberapa pertanyaan yang akhirnya menyadarkan diri mereka sendiri bahwa ternyata apa yang mereka ketahui baru sampai pada kulitnya,? jelasnya.
Untuk tantangan ke depannya, istri dari Berny Gomulya, seorang inspirator dan penulis beberapa buku best seller menjawab bahwa sebagai fasilitator, banyak orang bilang bahwa e-learning adalah ancaman terbesar. ?BusinessGrowth melihatnya bisa sebagai ancaman, tetapi sesungguhnya bisa sebagai peluang, tergantung pola pandang kita. Dengan adanya e-learning yang katanya sebagai ancaman bagi para fasilitator, justru sebenarnya menjadi peluang untuk kami membagikan ilmu kepada lebih banyak orang. Bukan hanya kepada yang hadir di kelas, tetapi kepada mereka yang tidak hadir di kelas. Justru hal ini bisa menjangkau lebih banyak audiens. Ini justru peluang untuk mengembangkan manusia di manapun juga, di waktu yang mereka suka. Jadi itulah sebabnya kami merintis Studilmu, sebuah platform untuk para fasilitator dan nara sumber berbagi ilmu ikut mencerdaskan bangsa dalam onlilne learning,? bebernya.
Pengagum Mother Theresa ini juga terus berusaha menjadi pribadi yang selalu bersyukur dalam keadaan apapun karena ia selalu berusaha melihat dari sisi positif sehingga tidak ada alasan untuk tidak bersyukur. Baginya, keadaan kita bukan alasan untuk tidak bersyukur. Rasa syukur adalah yang membuat kita merasa bahagia.
Di dalam kesibukannya, ia memiliki cara tersendiri untuk mengembalikan mood agar semangat bekerja. ?Memulai dari mengubah pikiran saya. Orang sukses bekerja bukan hanya pada saat dia sedang mood bekerja. Orang sukses bekerja pada saat dia merasa perlu bekerja. Karena saya mau belajar untuk menjadi sukses maka saya belajar bukan mood menentukan apa yang akan saya lakukan, tetapi saya menentukan mood saya sendiri. Saya masih terus belajar untuk hal ini,? katanya.
Alumni Universitas Atma Jaya ini pun memberikan inspirasi dan sarannya kepada orang lain yang membaca kisahnya ini. ?Always be yourself, but better everyday. Keluarlah dari zona nyaman kebiasaan Anda sehari-hari dan lihat peluang untuk belajar minimal satu hal baru setiap hari. Jadi, hal baru apa yang Anda pelajari hari ini? Untuk saran, jangan bandingkan diri Anda dengan orang lain, kecuali untuk belajar. Tetapi, selalu bandingkan diri Anda hari ini dengan diri Anda sendiri di hari kemarin. Apakah diri Anda sekarang lebih baik dari diri Anda kemarin? Dalam hal apa?? paparnya.
Penyuka hobi membaca ini mengungkapkan pencapaian yang paling membanggakan baginya. ?Pertama, saat saya membuat program dari kebutuhan perusahaan klien lalu para peserta, atasan dan HR-nya merasakan manfaat program tersebut di dalam perusahaan mereka karena sepulang training ternyata adanya perubahan perilaku yang terjadi. Lalu, mereka mengirimkan ungkapan terima kasih secara khusus dan melakukan repeat order secara berkala. Kedua, pada saat saya memfasilitasi kelas dan peserta menyatakan ?Sebenarnya saya sudah beberapa kali mengikuti training yang serupa, tetapi baru kali ini saya mendapatkan insights yang mendalam tentang topik ini?. Ketiga, saat saya melakukan coaching dan peserta/karyawan berkata,?Dari sekian banyak coaching yang pernah saya dapatkan, baru kali ini saya berubah pola pandang, termotivasi, dan merasa jelas akan langkah kongkrit apa yang perlu saya lakukan untuk berubah mengarah kepada keberhasilan saya?,? urainya panjang.
Konsultan HR ini membocorkan projectnya dalam waktu dekat dan impiannya.?Untuk project, BusinessGrowth (dengan partner saya) sedang memiliki misi untuk mencerdaskan lebih banyak manusia Indonesia dengan membuat online learning yang berkualitas dengan harga terjangkau. Sekaligus, mengeksplisitkan ilmu dari para narasumber berkualitas sehingga pembelajaran dan wisdom yang telah mereka akumulasikan dari pengalaman hidup mereka dapat diabadikan menjadi warisan bagi generasi selanjutnya. Dengan adanya online learning ini, harapannya akan lebih banyak lagi manusia Indonesia yang hendak bertumbuh dapat belajar di mana saja dan kapan saja. Untuk impian, melihat lebih banyak lagi manusia Indonesia berkembang dan bertumbuh mengoptimalkan potensi mereka masing-masing dan bermanfaat bagi sesama mereka,? pungkasnya.
