HarianBernas.com – R Yanssen saat ini menekuni bidang profesi sebagai trainer dan penulis, yang bergerak di bidang pengembangan manusia khususnya karyawan, spesifiknya Leadership dan Managerial Development Program. Baginya, profesinya menjadi unik ketika profesinya bukan hanya di depan peserta pelatihan saya atau bukan hanya sekedar di depan kelas, melainkan harus diterapkan dalam prinsip-prinsip kehidupan pribadinya.
Ia pun tak lupa dengan sosok yang memperkenalkannya dalam bidang ilmu pengembangan manusia. ?Coach dan mentor yang menjerumuskan saya, memperkenalkan saya dalam pengembangan manusia, yaitu bapak Adi Suryantoro,?ungkapnya ke Bernas (18/4).
Sekarang, sarjana Sastra Inggris ini tergabung di Kawan Lama Group (Industrial Supply Chain Industri, Retail Chain Shop, E-Commerce, dll) sebagai Sr. Trainer Managerial Development Program. Ia pun membagikan pengalaman uniknya di dalam pekerjaan. ?Ketika mengajar dalam satu hari di dua kota yang berbeda, pagi di Surabaya, dan malamnya di Bali. Selain fisik yang terkuras, tetapi harus good performa di depan audience,? tuturnya.
Alasan menekuni bidang pekerjaannya sampai sekarang ini, ia menjawab bahwa ada kecocokan antara profesi dan nilai-nilai hidupnya sehingga akhirnya semua itu terangkum menjadi passion/ hasratnya. Jika ada orang bilang hobi menjadi pekerjaan maka baginya, passion menjadi pekerjaan. Permasalahan pun tak luput dari pekerjaannya. ?Permasalahan, menghadapi berbagai macam tipe, karakter, paradigm audience saya dengan berbagai background pendidikan, keahlian dan adat budaya setempat. Menyikapinya, saya biasanya mencari/sourcing mendalami latar belakang siapa audience saya,? terangnya.
Alumni Universitas Sarjanawiyata Taman Siswa ini juga memaparkan tentang tantangan ke depan terkait pekerjaannya saat ini. ?Tantangan ke depan adalah bagaimana memadupadankan seorang trainer/pembicara dengan perkembangan digital yang semakin hari semakin berkembang. Begitu juga dengan model pengembangan manusia yang dituntut cepat dan mampu minimal beadaptasi dengan persaingan. Menyikapinya, seorang Trainer harus open mind dengan perubahan. Selalu belajar hal hal yang baru, jangan pernah membatasi diri (memunculkan stigma-stigma negative dalam pikiran dan alam bawah sadar kita). Update dengan perubahan karena ilmu pengetahuan selalu bergerak maju. Seperti teknologi, sekarang trend belum tentu ke depanya masih trend. Selalu ada jenis, tipe, dan model yang baru. Begitu juga seorang trainer/ pembicara harus selalu punya jurus-jurus baru untuk mengembangkan manusia,? urainya.
Penyuka hobi bermain musik ini menjelaskan bahwa bidang digeluti ini penting dilakukan dan dibagikan kepada masyarakat.?Kenapa penting, profesi ini sebagai jembatan kebutuhan antara manajemen dengan employee, di mana profesi ini sebagai fasilitator untuk menerjemahkan apa yang dibutuhkan manajemen kepada employee atau profesi ini membantu orang lain untuk membuka pikiran yang sebenarya semua jawaban itu ada di setiap manusia. Peran trainer/pembicara membantu orang tersebut menemukan jawaban itu dari setiap kebutuhan manusia. Karena pada hakikatnya motivator terhebat adalah diri kita sendiri, sedangkan trainer/ pembicara adalah hanya sebagai jembatan/ fasilitator,? jelasnya.
Kenapa perlu dibagikan ke masyarakat luas, ia menjawab bahwa dengan profesi ini, tugas utamanya adalah Sharing Knowledge-berbagi Ilmu apa yang kami miliki kami bagi. Trainer/pembicara bukanlah dewa yang maha tahu, tapi karena di dalam dirinya ada passion untuk berbagi maka dengan senang hati akan membagikan Knowledge-Experince Itu. ?Jika seandainya semua orang punya keinginan yang tulus dan minat untuk berbagi, niscaya semua orang akan memiliki Knowledge Skill yang merata,? imbuhnya.
Diploma Informasi Manajemen membangun habit khususnya selama ini untuk mendukung pekerjaannya. ?Pagi hari dalam perjalanan menuju kantor, saya biasanya berdoa. Salah satu doa saya, semoga pekerjaan saya ini memberikan kontribusi kepada orang lain, apa yang saya bagikan kepada peserta menjadi added value dan bermanfaat. Membaca, browsing adalah habit kedua saya, supaya selalu update dengan kondisi terkini. Habit yang ketiga adalah satu bicara yang lain mendengarkan. Maksudnya adalah saya selalu mendengarkan siapapun yang berbicara karena Listening adalah kompetensi dasar dalam Komunikasi.Dari mendengarkan, kita bisa membantu orang lain untuk menemukan jawabanya,? terangnya.
Alumni Universitas Gadjah Mada ini memiliki cara tersendiri untuk mengembalikan mood agar kembali bersemangat bekerja. ?Saya selalu kembalikan ke tujuan akhir saya bekerja (merujuk pada tujuan akhir saya ketika saya bekerja) apa yang menjadi big rock/ batu besar dalam kehidupan saya itulah yang akan saya Ingat. Ini adalah prinsip habit kedua dalam 7 Habit karya Stephen R Covey (begin with the end in mind). Hal itu berfokus dengan apa yang Anda inginkan dan bagaimana cara meraihnya. Tentunya, supaya ini menjadi jelas dan terukur pergunakanlah Konsep SMART : Specific (khusus), Measurable (terukur), Attainable (dapat dicapai), Relevant (relevan), Time-Based (berbasis waktu),?ujarnya.
Penyuka hobi menulis ini membagikan inspirasi kepada orang yang membaca kisahnya ini.?Profesi trainer/pembicara masih sangat terbuka luas selama di muka bumi masih ada manusia karena selama itu juga manusia perlu dikembangkan dan dididik. Untuk menjadi trainer/ pembicara, value yang harus dimiliki pertama adalah minat yang tulus dan tertarik untuk membantu dan mengembangkan orang lain. Banyak orang yang pintar di muka Bumi ini, tetapi belum tentu orang itu ada minat yang tulus untuk berbagi knowledge dan experience yang dimiliki kepada orang lain,? jelasnya.
Pengagum sosok guru-guru TK-nya di TK Maria Assumpta, Klaten, Jawa Tengah ini juga membagikan sarannya kepada orang yang ingin meraih kesuksesan seperti yang dicapainya saat ini. ?Apapun profesi Anda, ?Damn I Love My Job?, cintai-perdalam-jadikan Anda expert dan master dalam bidang pekerjaan Anda. Yang kedua, tidak boleh sombong dengan apa yang Anda miliki saat ini. Ketiga, selalu belajar,?Jadikan Anda pribadi yang rakus dan lapar terhadap ilmu yang belum Anda kuasai?. Dan yang terakhir, jadilah sosok pribadi yang setia loyal dengan profesi Anda di manapun Anda berkarya, ?Jam terbang menunjukan kualitas Anda?,? tuturnya.
Pemilik cita-cita ingin menjadi pilot sewaktu kecil ini membocorkan project terdekat dan impian terbesar ke depannya. ?Untuk project, dalam teori 7 Habit Stephen R Covey, perilaku yang ketujuh adalah Sharpen The Saw (mengasah mata gergaji) maka dalam profesi yang saya geluti kurang lebih 11 tahun, saya akan memperdalam keilmuan saya terkait dengan Human Resources and Learning People Development. Seperti kebanyakan orang mengatakan jika main air sekalian basah kuyup. Untuk impian, pada usia maksimal 45 mendatang, di mana masih ada sisa waktu saya 11 Tahun, saya ingin mempunyai usaha sendiri di mana semua pengalaman dan pengetahuan saya dapat saya limpahkan dalam media yang saya kelola sendiri,?pungkasnya.
