HarianBernas.com – Dalam perjalanan karirnya, Marcellinus Retmono Adi pernah menjalani berbagai pekerjaan, tapi ia masih belum bisa menemukan apa yang diharapkannya sesuai hatinya. Ia pernah menjadi dosen di universitas swasta, tapi merasa tidak pantas mengajar karena belum memiliki pengalaman.
“Saya tidak melanjutkan kontrak (menjadi dosen-red) dan bekerja di Perusahaan Astra Group. Saya belajar bekerja dengan sistem yang bagus. Saya selanjutnya bekerja di Perusahaan Kontraktor Batubara, di sini saya belajar beradaptasi dengan lingkungan baru dan orang dengan berbagai karakter. Saya lalu dipindah ke Jakarta (kantor Pusat) menjadi trainer, pekerjaan yang saya harapkan. Selanjutnya, saya memutuskan untuk mengundurkan diri untuk ikut Kursus Pembimbing Rohani di Girisonta,” ungkapnya ke Bernas (22/3).
Baca juga: 14 Universitas Jurusan Teknik Informatika Terbaik di Indonesia
Saat ini, Retmono Adi atau akrab dipanggil Didik ini menekuni bidang profesi Praktisi Psikodrama (terapi Psikologis dengan Drama) dan Ketua Pengurus Yayasan Indriya-Nati. Alasan terus menekuni bidang tersebut karena bidang keilmuannya di psikologi dan minatnya di teater apalagi dari keluarga guru sehingga ada keinginan kuat untuk mengajar. Namun, ia tidak ingin terjebak dalam birokrasi administrasi maka menjadi “pengajar” freelance (Praktisi Psikodrama). Ia pun tak lupa dengan dukungan orang-orang yang berperan atas apa yang capainya saat ini. “Ibu dan Bapak. Ibu mengarahkan untuk belajar sepanjang hidup. Bapak belajar rendah hati dan kesabaran,” tuturnya.
Tentang pengalaman unik yang menjadi titik balik baginya ketika berproses sehingga menjadi seperti sekarang ini, trainer ini menjawab ketika mengikuti Retret 30 Hari di Girisonta. “Dibimbing merefleksikan perjalanan hidup dari bayi hingga dewasa, mengungkap rasa bersalah, mengungkap kemarahan, kesedihan (segala rasa), berdamai dengan masa lalu, berdamai dengan diri, mendekat kepada Illahi, mohon ampun dan bersyukur, mohon rahmat, dan berani menjalani hidup yang baru,” jelasnya.
Sarjana Psikologi ini membagikan pengalaman uniknya di pekerjaan ketika masih bekerja di pedalaman Kalimantan Timur. ”Di tahan di kantor polisi, sebagai saksi untuk tindak kekerasan yang terjadi di lokasi kerja. Persaingan vendor untuk katering camp di Pedalaman Kalimantan Timur. Saya sebagai yang bertanggung jawab terhadap Personalia dan General Affair di camp. Masa kontrak katering berakhir, perlu tender lagi. Terjadi persaingan kelompok (ormas lokal) untuk masuk menjadi penyuplai. Pertemuan di kantor (saya tidak tahu ada kejadian/konflik di camp sebelah) yang ternyata mereka sudah siap siap untuk perkelelahian. Di kantor terjadilah perkelahian massal. Ada yang terluka kepalanya berdarah. Polisi (brimob yang memang bertugas mengamankan camp) datang melerai. Yang terluka dibawa ke rumah sakit dan menuntut keadilan. Yang melukai di tahan di kantor polisi. Isu tersebar akan ada aksi balas dendam dari kelompok yang merasa dirugikan. Saya ikut dibawa ke kantor polisi untuk dimintai keterangan, lebih dari 10 jam, dan harus lapor tiap hari. Beberapa hari itu, saya selalu dikawal anggota brimob. Kejadian tersebut sampai Jakarta, lalu mengirim team khusus untuk keamanan camp dan mencegah konflik Horisontal. Akhirnya, bisa didamaikan dan perusahaan memberikan ganti rugi. Saat cuti, saya diminta ke Jakarta dan selanjutnya saya di mutasi ke camp lain,” urainya panjang.
Baca juga: 10 Universitas Negeri dan Swasta di Bandung serta Jurusannya
Alumnus UGM ini pun menceritakan tentang permasalahan yang paling sering dihadapi dalam pekerjaannya. “Sehubungan dengan penentuan berapa saya meski dibayar. Saya kesulitan untuk meminta bayaran dan agak kurang suka publikasi. Beberapa rekan sering menertawakan hal tersebut. Saya lalu meminta tolong teman untuk menjadi manager saya agar membantu mempublikasi Psikodrama dan mengurusi administrasi dan keuangannya,”jelasnya.
Director Yayasan Indriya-Nati ini pun mengungkapkan tentang tantangan ke depan yang akan dihadapi tantangan dalam bidang pekerjaannya. Menurutnya, akan ada banyak kebutuhan orang orang membutuhkan terapi sehingga akan tetap belajar dan mengembangkan berbagai teknik terapi yang sesuai dengan kebutuhan. Ia pun juga menerangkan bahwa bidang yang digeluti ini penting dilakukan dan dibagikan kepada masyarakat.”Psikodrama adalah metode pembelajaran dari pengalaman. Psikodrama lebih mengutamakan praktek dan implementasi sehingga dapat melengkapi apa yang tidak didapat dibangku sekolah (kuliah),” jelasnya.
Penyuka hobi bermain teater ini membangun habit khusus selama ini untuk mendukung pekerjaannya, yaitu dengan membaca dan melatih kepekaan. Dirinya pun terkesan dengan kutipan “Saya dipanggil bukan untuk sukses. Saya dipanggil untuk setia” dari Bunda Theresa. Dengan mengingat kalimat tersebut, hatinya pun merasa dikuatkan. Ia pun memiliki cara tersendiri untuk mengembalikan mood agar kembali bersemangat bekerja.”Berefleksi, mengingat kembali apa yang menjadi tujuan dari apa yang saya kerjakan,” ucapnya.
Baca juga: Jurusan IT: Pengertian, Mata Kuliah, dan Prospek Kerja Terbaru
Pengagum sosok Anthony De Mello yang mengajarkan kesadaran diri dan keberanian menjadi diri sendiri baginya ini membagikan inspirasi dan sarannya kepada orang yang membaca kisahnya. “Keberanian menapaki masa depan dengan keyakinan akan rencana Nya. Untuk saran, berani memberi kontribusi,” ujarnya.
Untuk pencapaian yang paling membanggakan, terapis ini menjawab saat mendapatkan pendidikan terbaik di SMA terbaik di Jawa Tengah (SMA 3 Semarang), kuliah di universitas negeri ternama di Indonesia (Psikologi UGM), dan bekerja di perusahaan nasional. “Yang paling membanggakan adalah keberanian saya untuk memutuskan mundur dari pekerjaan sebagai General Trainer di Perusahaan Batubara demi mengikuti Kursus Pembimbing Rohani di Girisonta selama 60 hari,” jawabnya.
Penyuka hobi membaca ini membagikan rencana atau projectnya dalam waktu dekat.”Sebagai Praktisi Psikodrama, saya ingin memberikan workshop Psikodrama di luar Pulau Jawa. Sebagai Ketua Pengurus LKSA Indriya-Nati, saya ingin menjalin kerjasama dengan Dinas Sosial untuk Program Pendampingan Anak dan Perempuan di Yogyakarta. Untuk impian, sebagai Praktisi Psikodrama, saya ingin adanya Assosiasi Psikodrama Indonesia. Sebagai Ketua Pengurus LKSA Indriya-Nati, saya ingin Indriya-Nati menjadi LKSA yang dapat menjadi tempat belajar sehingga siapa saja yang pernah terlibat di dalamnya menjadi orang yang berguna bagi masyarakat,” pungkasnya.
Baca juga: 10 Universitas Jurusan Perhotelan Terbaik dan Unggul di Indonesia
