JAKARTA, HarianBernas.com – Kebijakan pemerintah untuk memperketat impor memberikan angin segar bagi produsen lokal. Dengan demikian diharapkan perkembangan perekonomian industri lokal akan semakin berkembang.
“Sejak Januari tahun ini perkembangan industri tekstil semakin bergairah. Semoga dampaknya akan mulai terasa pada tahun depan bagi para pelaku usaha lokal,” ujar Wakil Ketua Umum Bidang Perdagangan Dalam Negeri Asosiasi Pertekstilan Indonesia, Hanan Supangkat, di Jakarta, Rabu (14/6/2017).
Menurutnya, impor yang selama ini berjalan tentunya memberikan dampak negatif bagi pasar Indonesia. Selain itu, adanya impor akan menjadikan masyarakat semakin dimanjakan dengan produk luar.
“Banyak dampak dari impor, masyarakat menjadi konsumtif dan tergerusnya lapangan pekerjaan,” imbuhnya.
Meski demikian, sambung Hanan, bukan berarti harus anti terhadap adanya barang impor. “Kalau jalur impor melalui jalur resmi tidak masalah, bisa bersaing,” tuturnya.
Hanan yang juga menjabat sebagai Presiden Direktur PT Mulia Knitting Factory mengatakan, salah satu dampak yang telah dirasakan peningkatan produksi dan penjualan produk tekstil pada saat bulan Ramadhan kali ini.
“Peningkatan juga dirasakan pada saat Ramadhan, dimana produk pakaian dalam yang diproduksi naik hingga 75 persen. Pada Ramadhan sebelumnya kenaikan hanya 25-30 persen,” ujarnya.
Lebih lanjut dikatakan bahwa pihaknya hingga saat ini masih fokus untuk memasarkan produk di dalam negeri. Mengingat pangsa pasar di dalam negeri untuk jenis pakaian dalam sangat tinggi.
“Pasar kita masih dalam lingkup nasional, untuk ekspor masih berupaya. Banyak produk luar yang mencoba masuk ke Indonesia karena melihat besarnya populasi pasar kita,” ungkapnya.
Menurutnya, menjelang hari raya lebaran atau Idul Fitri 1438 Hijriyah, penjualan industri garmen dan tekstil di Indonesia mulai terjadi peningkatan. Salah satunya di bidang industri pakaian dalam pria yang sudah mengalami peningkatan permintaan hingga mencapai 75 persen.
Menurut Hanan, kenaikan permintaan pakaian dalam pria pada saat menjelang lebaran biasanya masih jauh lebih kecil ketimbang kenaikan permintaan di bidang busana atau pakaian luar.
“Kalau busana biasanya bisa mengalami kenaikan sekitar 300 persen. Kami di bagian pakaian dalam hanya sekitar 75 persen,” ucap Hanan.
Seperti diketahui, PT Mulia Knitting Factory merupakan salah satu pemasok pakaian dalam pria (Rider) terbesar di Indonesia. Dalam sebulan memproduksi tidak kurang 200 ribu lusin pakaian dalam dengan jumlah pekerja sekitar 3.000 orang yang berpusat di Jakarta dan Semarang.
Untuk mengantisipasi lonjakan permintaan pasar, pihaknya juga sudah melakukan persiapan produksi sejak tiga bulan lalu. Yakni dengan melakukan peningkatan produksi pakaian dalam sebesar 50 persen dari hari biasa.
