HarianBernas.com-GM Totok Hedi Santosa kini aktif sebagai anggota dewan DPRD DIY dari Fraksi PDIP. Baginya, hidup itu mengalir saja. Dalam arus aliran itu, ia mengaku bertemu banyak hal. Di situ, akan ada hal baru, yang membuat kita mengalami progresi di dalam hidup dengan mengerjakan yang sedang kita kerjakan saat ini dengan baik-baik.
”Kalau saya hari ini menjadi anggota dewan, itu menjadi bagian cara saya untuk mengaktulisasi diri, melihat sesuatu di masyarakat, ada begini ada begitu. Saya merasa bahwa kayaknya penting bagi saya untuk ambil bagian. Kalau saya melakukan bisnis, itu bagian cara saya menjawab realitas hidup sehari-hari saya sebagai orang yang bertanggungjawab memenuhi kebutuhan keluarga. Kalau saya lebih dahulu bisnis dan kesenian dibandingkan minat di dalam politik. Di politik baru aktif di tahun 1997-1998 saat usia 35,” ungkapnya ke Bernas.
Baca juga: 14 Universitas Jurusan Teknik Informatika Terbaik di Indonesia
Sejak lulus SMA, pria kelahiran Sleman ini tinggal dan kuliah di Jakarta. Kawan-kawan seusianya ketika itu, tidak kuliah karena mereka bekerja. Namun, kalau berbicara hasil akhir sekarang ini, meski mereka SMA, apa yang mereka peroleh, entah itu ilmu pengetahuan di dalam perusahaan atau finansial, sama dengan yang lulus sarjana S1 atau S2, bahkan boleh dibilang mereka lebih. Meski karena tuntutan zaman, mereka lalu bekerja sambil kuliah.
“Saya meyakini bukan kuliah yang membuat mereka pintar, tapi experience mereka di perusahaan atau tempat mereka bekerja sehingga mampu membaca banyak hal, membaca peluang-peluang yang mungkin dilakukan untuk mereka lebih mampu mengaktualisasi diri. Hasil akhirnya, mereka memang bukan pejabat, tapi banyak menjadi pengusaha sukses di bidang, entah itu di konstruksi, perfilman, dst. Saya melihat perbandingan seperti itu,”imbuhnya.
Ia pun memiliki pandangan tersendiri terhadap sisi lain tentang orang Jogja yang kalau tidak sekolah, tidak bangga. Hal ini agak berbeda dengan orang Jakarta saat itu. Kalau sekarang, orang Jakarta sekolah karena tuntutan masuk di perusahaan harus S1. Kalau dulu, itu tidak menjadi wajib.
“Sementara yang sekolah S1 butuh 5 tahun lulus untuk menjadi pegawai. Yang ini sudah 5 tahun berpengalaman, dari situ sudah banyak membaca hal. Ketika terjadi perubahan, mereka punya survival-survivalnya tersendiri. Yang ingin saya katakan, saya bukan anti-pendidikan, tapi orang yang memuja-muja sekolah, bagi saya linear sekali cara berpikirnya. Tapi, saya mempercayai ilmu pengetahuan itu penting maka ideologi saya dalam mengelola pengetahuan itu, orang itu hanya harus mengerti 4 hal, yaitu pertama bahasa, kedua sejarah, ketiga matematika, dan keempat logika. Dari situ, orang sebenarnya cukup untuk membaca sesuatu sehingga memiliki peluang kalau mau,”ujarnya.
Baca juga: 10 Universitas Negeri dan Swasta di Bandung serta Jurusannya
Dulu alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara ini pada dasarnya antipolitik karena waktu itu tidak ada politik di Indonesia. Politik dalam arti kesetaraaan. Politik dalam arti semua orang boleh mengajukan pendapat secara bebas, meski sekarang kebebasannya berlebihan.
“Dulu tidak ada situasi seperti itu sehingga saya memilih suatu wilayah, aku bisa berpendapat bebas. Waktu itu, wilayah kesenian. Kenapa menjadi anggota dewan saat ini, tahun 96-97 ada sesuatu yang mengguncang Indonesia. Pada saat itu, saya berpikir bahwa ini saatnya Indonesia berubah. Meski kecil, waktu itu, saya kepengen menjadi bagian berperan dari yang ikut mengubah dan memberi warna perubahan di Indonesia meski di daerah bukan di tingkat nasional. Itu titik balik Indonesia dari otoritarian menjadi demokrasi. Artinya, saya menjadi berminat karena di situ, secara setara, bisa mengajukan ide-idenya,” urainya.
Terus menekuni pekerjaan menjadi anggota dewan, ia merasa ada situasi di mana dirinya memiliki kebebasan untuk mengemukakan pendapat idealnya, meski mengalami banyak hal.
“Situasi ini, dulu hampir tidak ada. Semua sudah distel. Kalau sekarang ini tidak distel, tapi berbicaralah sesuai dengan pikiranmu yang cocok dengan hari nuranimu. Hati nuranimu ini tidak bisa lepas dari lingkungan sosial yang ada dan kita ketahui. Nah, di situlah yang membuat saya masih bertahan sampai hari ini. Artinya, saya memiliki mandat dan kebebasan, mandat secara bebas mengutarakan, mengusulkan sesuatu yang penting bagi masyarakat,” tuturnya.
Baca juga: Jurusan IT: Pengertian, Mata Kuliah, dan Prospek Kerja Terbaru
Owner Mebel Antik ini memaparkan permasalahan yang paling sering dihadapi dalam bidang pekerjaannya.
“Kalau di dewan, politik itu pada dasarnya adalah negosiasi. Artinya, di sana itu ada begitu banyak kepentingan. Kepentingan itu secara teori ada kepentingan-kepentingan yang sangat spesial, dalam hal ini masyarakat yang kita wakili. Itu bagaimana kepentingan yang spesial ini dijadikan satu menjadi kepentingan yang lebih umum. Itulah masalahnya. Inilah fungsi agregasi, mengagregasi kepentingan yang unik-unik itu menjadi kepentingan yang lebih umum. Tidak mungkin setiap kepentingan dilakukan sendiri-sendiri, harus dijadikan umum padahal masyarakat kita berlapis-lapis dengan coraknya yang masing-masing. Pemerintahan tidak mungkin melakukan itu secara spesial-spesial, harus diberlakukan umum. Menyikapinya, ya berkompromi terhadap kepentingan yang coraknya sangat khusus itu menjadi lebih umum. Artinya, dibutuhkan suatu intelegensi untuk negosiasi memunculkan apa yang disebut produk-produk legislasi supaya kepentingan itu terjembatani,”paparnya.
Anggota dewan ini pun membagikan inspirasinya kepada yang membaca kisahnya ini.
“Saya tidak terlalu menginspirasi, tetapi yang ingin saya katakan, hidup itu mengalir saja. Siap terhadap apapun. Orang masing-masing memiliki jalannya. Tidak harus orang meraih sukses finansial, tapi tahanlah terhadap sesuatu yang dijalani. Jangan pernah membandingkan diri dengan orang lain, sekali waktu untuk instropeksi, oke, tetapi itu bukan sumber utama referensi. Menjadi diri sendiri dan mengoptimalkan yang mungkin dari diri. Belajarlah pada semua orang,” bebernya.
Baca juga: 10 Universitas Jurusan Perhotelan Terbaik dan Unggul di Indonesia
Menurutnya, bidang pekerjaan sebagai anggota dewan penting dibagikan dan dilakukan karena sistemnya memang begitu, di mana rakyat itu memiliki wakil.
“Di dalam negara kita ini kan mengenal apa yang disebut perwakilan sehingga memang perlu orang-orang untuk mewakili mereka. Nah, di situlah yang kita wakili banyak sekali dan masing-masing kepentingannya juga berbeda. Balik lagi, kepentingan yang berbeda-beda itu diagregasi menjadi kepentingan yang lebih umum. Jadi, ini aku ada makanan, akan saya bagikan, tapi ada yang maunya bakso, maunya sate, maunya gado-gado, maunya ini itu macem-macem. Kita harus menjelaskan bahwa makanan ini dibagikan karena memenuhi standar gizi yang ada di bakso dan macam-macam makanan itu. Karena jumlahnya ribuan orang, tidak mungkin dong satu-satu saya memberi ada bakso dan ada mienya. Itulah yang saya harus jawab. Fungsinya, anggota dewan harus mampu memberi penjelasan bahwa tidak mungkin masyarakat meminta sesuatu yang sangat spesial dan hanya berlaku untuk masyarakat setempat itu. Nah, kalau itu tidak mungkin, ya harus memberi yang umum,” terangnya panjang.
Ketika ditanya tentang impian ke depan, ia mengaku tidak punya impian.
“Intinya, saya orang yang anti pencitraan. Lebih percaya terhadap, yang akan terjadi, terjadilah menurut kehendakMu. Q sera-sera, what ever will be, will be. Aku orang yang tidak punya bagaimana masa depan itu kulihat habis-habis. Mengalir. Aku ini hidup dengan empati di mana lingkungan kecilku dulu untuk bermimpi saja tidak mampu. Saya mengerjakan secara optimal menurut kemampuanku sesuatu yang tengah kukerjakan,” pungkasnya.
Baca juga: Daftar Universitas Kuliah Jurusan Bisnis Manajemen di Indonesia
