HarianBernas.com – Bila melihat perjalanan karirnya, Rifki Rizal menyebut sungguh aneh tapi nyata. Namun, ia lebih melihatnya itu sebagai bagian pengabulan Allah kepada dirinya untuk menjalani hal tersebut sehingga sekarang memiliki sumber daya untuk menjadi seorang Business Coaching ataupun Consulting.
Lulus kuliah, pria kelahiran Bandung ini bekerja menjadi process engineer di pabrik elektronik di Batam. Di sana, ia memperoleh pengetahuan mendalam mengenai Design of Experiment (cara bereksperimen dengan terstruktur), Operational Excellence (membangun operasional perusahaan hingga ekselen), Data Analysis, Productivity Improvement (meningkatkan produktivitas karyawan), dll.
Baca juga: 14 Universitas Jurusan Teknik Informatika Terbaik di Indonesia
“Di sana, saya beruntung mendapatkan training-training kelas dunia di dunia manajemen seperti Lean (Toyota Production System), Six sigma (Quality Management System), TPM (Total Productive Maintenance), ISO, dll. Di pabrik, saya belajar banyak untuk memahami aspek PROSES dan SISTEM dalam sebuah organisasi,” ungkapnya ke Bernas (3/5).
Seiring waktu, penulis buku The Innovative Mind ini banting setir bekerja menjadi reporter, camera person, dan presenter berita di sebuah televisi swasta nasional (Trans TV, program Reportase saat itu). Di TV, ia belajar untuk memahami aspek people karena di sini, ia berhubungan dengan banyak orang.
“Pengalaman yang sekilas tidak nyambung itu sebenarnya memberikan saya pembelajaran lengkap di aspek PEOPLE, PROCESS, dan SYSTEM dalam organisasi. Dari sana, saya direkrut untuk menjadi konsultan di Operation Management dan terus berjalan hingga mulai menjalani karir sebagai konsultan di berbagai perusahaan,” tuturnya.
Dikatakannya, tantangan terbesarnya adalah bagaimana memberdayakan orang semaksimal mungkin sehingga mereka rela untuk militan dan produktif. Lalu, ia pun mulai mengenal dunia coaching dan menemukan kombinasi yang sangat baik antara consulting dan coaching sehingga orang di organisasi mau berubah lebih baik dengan cara yang lebih optimal.
“Saat saya membantu para pengusaha SME dan UMKM, ternyata pertumbuhan mereka luar biasa sehingga saya mendapat kebahagiaan yang tidak terbayarkan saat mereka juga berbahagia. Meski saya dibayar secara profesional, tapi kebahagiaan melihat mereka bertumbuh itu yang tidak bisa digantikan dengan uang berapapun besarnya. Di sini saya menemuka passion di Business Coaching dan Consulting,” ujarnya.
Baca juga: 10 Universitas Negeri dan Swasta di Bandung serta Jurusannya
Untuk pengalaman unik di pekerjaan, alumni Institut Teknik Bandung (ITB) ini menjelaskan bahwa ia adalah orang yang berangkat dari karir di produksi, operation, sehingga tidak suka akan jualan dan juga marketing. Namun, di pekerjaan Business Coaching, hal itu harus dipelajari dan ia juga harus meng-coaching business owner untuk hal tersebut.
“Lah, bagaimana bisa membantu orang, wong saya sendiri saja tidak suka jualan dan marketing karena selama ini saya background-nya adalah orang operation. Di Business Coaching, saya dituntut untuk mempelajari end to end, mulai dari sales marketing , finansial, hrd, operation, dll. Syukurlah saya diajarkan untuk menggunakan sistem di masing-masing divisi tersebut sehingga saya tinggal mengikuti saja. Nah, jadi jualan dan marketing saya terapkan ke diri saya sendiri dulu, sekaligus membuktikan, apakah saya yang bukan orang jualan dan marketing bisa juga bisa jualan dan marketing dengan bantuan metodologi dan sistem yang sudah diajarkan? Hasilnya wow! Saya bisa! Dari situlah saya lebih pede untuk membantu orang lain di area ini. Saya bersyukur karena saya juga lebih berkembang,” terangnya panjang.
Disebutnya, ia mengalami sendiri, bagaimana sebuah metodologi dan sistem bisa membantunya, padahal awalnya sangat tidak suka dengan jualan dan marketing apalagi untuk berjualan dan marketing.
“Hasilnya SANGAT KONSISTEN. Nah, sekarang saya menjadi PeDe, suka jualan dan marketing, serta punya keyakinan bahwa pekerjaan apapun asal sudah tercipta sistemnya, tinggal diikuti oleh setiap orang maka hasilnya akan sangat konsisten,”imbuhnya.
Baca juga: Jurusan IT: Pengertian, Mata Kuliah, dan Prospek Kerja Terbaru
Tentang alasan terus menekuni bidang pekerjaan sampai sekarang ini, penyuka hobi mengarang lagu dan main musik ini menyebut bahwa bidang pekerjaannya ini sangat bermanfaat tidak hanya untuk bisnis yang saya buka sendiri, tapi juga untuk pengembangan bisnis orang lain. Ia bisa berkontribusi mendorong banyak milyarder di Indonesia melalui bisnis masing-masing.
Baginya, kalau mereka bertumbuh maka lapangan kerja juga terbuka. Untuk permasalahan yang paling sering dihadapi, ia menjawab terkait keterbatasan waktu.
“Maksimal dalam waktu yang bersamaan, saya hanya bisa membantu 10 pengusaha sehingga saat ini banyak menahan ke tahun berikutnya atau merefer klien yang ingin di coaching ke coach lain,”imbuhnya.
Untuk tantangan ke depan, pengagum sosok Nabi Muhammad SAW ini menjelaskan tentang bagaimana me-leverage lebih banyak lagi.
“Karena waktu saya juga hanya 24 jam maka saya ingin membantu orang orang yang memiliki passion untuk juga bersama saya sama-sama membantu pengusaha bertumbuh. Dengan demikian, lebih banyak orang-orang yang seperti saya dan lebih banyak lagi pengusaha yang juga terbantu. Ini yang menjadi tantangan tersendiri karena kalau ingin menjadi pelatih bisnis, dibutuhkan sikap mental, kedewasaan jiwa dan passion yang kuat untuk membantu orang lain,” tukasnya.
Baca juga: 10 Universitas Jurusan Perhotelan Terbaik dan Unggul di Indonesia
Sarjana Kimia murni ini membagikan inspirasi dan sarannya kepada orang yang membaca kisahnya ini.
“Saya ingin berbagi bahwa jika Anda punya niat, konsistenlah dengan niat itu, dan siapkan segala sumber daya yang dibutuhkan untuk ke arah sana. Maka, Allah akan menyediakan jalan-jalanNYA sesuai dengan doa kita. Untuk saran, apapun profesi Anda, jadilah yang terbaik di bidang tersebut. Plus jadilah diri Anda yang terbaik. Biasanya, diri Anda yang terbaik otomatis akan muncul saat Anda menyukai apa yang Anda lakukan. Saat Anda menyukai, fokuslah, Doakanlah pada Allah untuk mencapai itu secara terus-menerus konsisten. Hasilnya, dimudahkan dalam berbagai sisi,” bebernya.
Busines Coach ini membocorkan rencana dalam waktu dekat dan impiannya ke depan.
“Rencana saya dalam waktu dekat, sedang mencari orang-orang yang mau saya bina untuk menjadi seorang Green Belt ataupun Black Belt Six Sigma untuk membantu saya membantu lebih banyak pengusaha, terutama di aspek Operation Management. Untuk impian, membuat virtual training untuk perubahan perilaku sehingga orang-orang bisa dilatih untuk menghadapi kasus real dalam bisnis ataupun leadership di sistem virtual yang saya buat. Setelah mendapatkan pelatihan tersebut, orang dapat langsung belajar bagaimana leadership itu seharusnya, bagaimana handle people, dan bagaimana menjalankan bisnis dengan benar melalui pelatihan virtual tersebut. Ini adalah advancement untuk sistem edukasi melalui gamification yang lagi happening saat ini di dunia organization learning,” pungkasnya.
Baca juga: Daftar Universitas Kuliah Jurusan Bisnis Manajemen di Indonesia
