HarianBernas.com-Nofiar Aldriandy Putra, S.Psi, Psikolog mengawali perjalanan hidupnya dari kegagalan menembus PTN melalui Sipenmaru di tahun pertama mencoba (1988) dengan pilihan jurusan ilmu-ilmu eksakta. Tahun kedua (1989) berhasil lolos UMPTN dengan pilihan jurusan Ilmu Psikologi (dorongan dari dalam hatinya), yang ternyata menuntun perjalanan nasibnya sampai sekarang ini.
“Dulu setelah lulus kuliah, saya langsung bekerja di perusahaan besar Bimantara Group di Jakarta, sebagai HRD-GS Officer. Saat pertama kali kerja langsung punya 10 bawahan, bisa dibayangkan bagaimana ribetnya? Sering dikelabuhi anak buah tentang lembur, tugas luar, dan tugas ekstra, tapi semakin lama saya semakin tahu dan paham seluk-beluk pekerjaan saya sehingga kalau ada bawahan yang curang pasti akan ketahuan. Saya kurang lebih sekitar 2 tahun berkarir di perusahaan ini, 1996-1998,”ungkapnya ke Bernas.
Baca juga: 14 Universitas Jurusan Teknik Informatika Terbaik di Indonesia
Setelah mundur dari Bimantara, pria kelahiran Yogyakarta ini sempat jobless sekitar 3 bulan. Saat itu, ia sudah menikah/ sebagai pengantin baru. Kemudian, ia diterima sebagai dosen di Fakultas Psikologi UMS Surakarta tahun 1998, mulailah ia berkarir di sini. Sebenarnya, saat itu bersamaan juga diterima sebagai PNS di Pemkot Magelang, tapi karena panggilan jiwa sebagai pengajar lebih kuat akhirnya dengan keputusan bulat, ia harus memilih salah satu.
“Hanya 1 tahun (1998-1999) saya bergabung di UMS karena awal 1999 saya diterima sebagai dosen di Program Studi Psikologi, Fakultas Kedokteran Undip. Sebagai dosen yang PNS saya terkena aturan tidak boleh merangkap sebagai pegawai tetap di dua institusi akhirnya salah satu saya lepas dan mulai berkarir di Undip hingga sekarang. Sejak awal sebagai dosen baik di UMS maupun UNDIP saya memilih bidang Psikologi Industri Organisasi (PIO) sebagai bidang yang saya dalami,” tuturnya.
Setelah kurang lebih 17 tahun berkarir sebagai dosen PNS di Fakultas Psikologi Undip (1999-2016), ia memutuskan mundur sebagai dosen dan beralih status sebagai PNS biasa, sekarang lebih dikenal dengan sebutan ASN (Aparatur Sipil Negara). Selama berprofesi sebagai dosen di bidang PIO, ia sering mendapat job “ngasong” di luar profesi utamanya, baik sebagai psikolog & assessor maupun sebagai trainer sehingga semakin mengasah kompetensi ataupun ketrampilan & pengalamannya dalam profesi yang digeluti hingga saat ini.
Baca juga: 10 Universitas Negeri dan Swasta di Bandung serta Jurusannya
“Di samping itu, hubungan dengan rekan seprofesi ataupun klien dapat terjalin dengan baik sehingga membentuk jejaring yang sangat membantu mengembangkan karir & kompetensi di bidang yang saya cintai & tekuni ini. Banyak hal yang sering terjadi selama saya berkarir di bidang pengembangan SDM, yang paling sering saya alami adalah betapa sulitnya menjelaskan kepada masyarakat umum tentang laporan hasil analisis psikologis dengan bahasa yang mudah diterima dan dipahami oleh orang awam/ orang di luar profesi saya. Saya rasa kita perlu lebih sabar & harus berusaha lebih keras untuk menghadapi situasi tersebut sehingga pada akhirnya masyarakat akan semakin memahami peran profesi yang sudah saya geluti selama lebih dari 20 tahun ini,” urainya panjang.
Dikatakannya, setiap profesi pasti ada tantangannya. Kalau untuk profesinya, yang bisa dikategorikan sebagai tantangan adalah serbuan psikolog, assessor, konselor, trainer dari negara lain yang bebas masuk dan mengembangkan karir profesional mereka di Indonesia. Juga pengembangan bentuk jasa layanan yang berbasis digital dan online.
“Namun bagi saya pribadi, rasanya hal tersebut tidak perlu terlalu dikhawatirkan, masih banyak peluang yang bisa kita gali dan kembangkan, asal kita tidak alergi serta mau menyesuaikan diri dengan perubahan yang terjadi. Bahkan kita bisa menjadi inisiator dan aktor bahkan jadi bagian penting dari perubahan itu sendiri,” ujarnya.
Untuk itu, ia menyebut seharusnya dan sudah merupakan kewajiban bahwa setiap individu perlu mengetahui dengan lebih detail potensinya dalam berbagai aspek sehingga tidak salah langkah dalam memilih dan mengembangkan karir pekerjaan ataupun kehidupannya. Pemilihan karir bila perlu dilakukan sedini mungkin, sehingga segala potensinya dapat berkembang secara optimal.
Baca juga: Jurusan IT: Pengertian, Mata Kuliah, dan Prospek Kerja Terbaru
Untuk habit khusus yang dibangun guna mendukung pekerjaannya, baginya yang paling penting dalam berkarir di bidang apapun adalah mampu menjaga etika profesi dan integritas dalam melaksanakan profesi kita.
“Saya selalu berusaha untuk membantu mengakomodir kebutuhan dan keinginan klien, sepanjang tidak bertentangan dengan kode etik profesi saya. Manfaat yang kita berikan untuk orang lain, insyaa Alloh akan kembali kepada kita,” imbuhnya.
Peraih Satya Lencana Karya Satya dari Presiden RI atas pengabdian sebagai ASN selama 10 tahun di tahun 2015 ini menceritakan tentang lingkungannya yang memengaruhinya hingga menjadi seperti sekarang ini.
“Saya tumbuh dalam lingkungan yang berbeda-beda dan lahir dari orangtua yang berbeda asal suku dan pulau sehingga sedikit banyak mempengaruhi cara saya dalam bersikap dan berperilaku. Namun, sebetulnya kemampuan kita dalam menyesuaikan diri dengan cepat merupakan modal yang paling berharga dalam kita mengarungi kehidupan ini. Kegagalan merupakan vitamin bagi saya guna menjadi pribadi yang lebih baik dan kuat dan itu harus dihadapi dengan tabah dan jangan kita mencoba sembunyi dari hal itu. Menurut saya lingkungan sudah memberikan banyak pelajaran kepada saya bagaimana cara agar mampu bertahan hidup dalam kondisi sepahit apapun. Saya sejak SMA kelas 1 sudah merantau dan kos/ tinggal terpisah dari orang tua, bahkan sejak kelas 3 SMP sudah tidak tinggal dengan orangtua,” bebernya.
Baca juga: 10 Universitas Jurusan Perhotelan Terbaik dan Unggul di Indonesia
Pengagum sosok Mahatma Gandhi ini memberikan inspirasi dan sarannya kepada orang yang membaca kisahnya ini.
”Sesungguhnya hidup ini adalah pilihan, bagaimana kita menjalani hidup kita dengan membuat pilihan-pilihan yang terkadang kita anggap keliru, namun bagaimana kita menyikapi dan mengambil hikmah dari pilihan kita yang kurang tepat, kemudian kita perbaiki dengan memilih hal lain yang kita anggap lebih baik. Hal tersebut sah-sah saja sepanjang kita mampu menerima setiap konsekuensi dari pilihan kita, hidup kita ya kita yang atur dan arahkan. Untuk saran, menurut saya kesuksesan itu sifatnya sangat subjektif dan individual banget. Bagi saya, mungkin saya sukses dalam satu hal, tetapi belum tentu dalam hal lain juga seperti itu. Sukses itu lebih kepada persepsi diri kita dalam memandang dan mensikapi pencapaian-pencapaian dalam hidup kita sehingga menurut saya sebaiknya kita memakai ukuran sukses kita sendiri saja. Jangan menggunakan ukuran dan persepsi kesusksesan orang lain,” paparnya.
Alumni Universitas Gadjah Mada (UGM) ini membocorkan project dalam waktu dekat dan impiannya ke depan.
“Selain menjalankan pekerjaan rutin, nanti di sekitar pertengahan tahun terlibat lagi dalam kegiatan seleksi calon taruna dan pegawai sekolah kedinasan di bawah Kementerian Perhubungan se-Indonesia. Selain itu, untuk tahun ini, saya berencana akan menyelenggarakan pelatihan dan workshop tentang pengelolaan dan administrasi psikotes untuk para lulusan sarjana psikologi & psikolog yang berminat untuk mengembangkan karir dalam profesi psikologi khususnya bidang Psikologi Industri Organisasi (PIO). Untuk impian ke depan, yang paling utama adalah menciptakan sebanyak mungkin, serta mendidik kader-kader dari generasi sekarang yang memiliki keinginan dan tekad kuat untuk menekuni dan mengembangkan profesi sebagai psikolog, assessor, trainer, sehingga kebutuhan akan profesi yang sangat kita cintai ini dapat disediakan oleh sumber daya manusia dari dalam negeri, sehingga gak perlu mengimpor SDM asing,”pungkasnya.
Baca juga: Daftar Universitas Kuliah Jurusan Bisnis Manajemen di Indonesia
