HarianBernas.com-Tahun 2005, sebagai staf training, Andri Setyawan, SPsi, QWP pernah diminta atasannya untuk menyiapkan kelas in house training Maximizing the Leadership Potential dari Dale Carnegie. Rupanya, peristiwa itu menjadi titik balik kehidupannya karena sejak saat itu ia mulai serius menekuni dunia pengembangan diri, lalu memilih profesi sebagai trainer.
?Semula saya tidak dijadwalkan ikut dan hanya memfasilitasi sebagai pelaksana karena kuota sudah penuh. Pada hari H, ada 1 teman yang berhalangan sehingga ada 1 spot kosong. Atasan saya menugaskan saya untuk ikut training tersebut. Ternyata pengalaman mengikuti training tersebut benar-benar memberikan dampak yang besar pada pribadi saya. Berkat training tersebut, ada 5 area pengembangan diri yang mulai dibangun dalam diri saya. Pelan tapi pasti, saya mulai mengembangkan rasa percaya diri, ketrampilan komunikasi, human relation, personal leadership dan bagaimana mengelola sikap dalam menghadapi dinamika dunia kerja,? ungkapnya ke Bernas (2/5).
Uniknya, di tahun keempat bekerja di perusahaan manufaktur, ia tiba-tiba ditelpon General Manager dari Dale Carnegie Training Surabaya. Saat itu, mereka lagi open recruitment dan bertanya kepadanya, apakah saya punya kenalan yang berminat untuk mencoba melamar posisi tersebut?
?Saya merekomendasikan dua nama rekan saya yang juga punya background training untuk mengikutinya, namun ternyata masih belum sesuai kualifikasi. Akhirnya, beliau bertanya apakah saya berminat untuk ikut seleksinya? Saya tidak menyangka kalau saya sendiri ditawari untuk mencoba, mengingat pada tahun 2008 rekrutmen di Dale Carnegie termasuk sulit untuk menjadi trainer. Saya sempat heran dan bertanya kemudian hari mengapa kok saya dan bukan dua rekan yang menurut saya lebih banyak jam terbang di bidang training yang justru diterima di Dale Carnegie. Ternyata itu ada kaitannya dengan Core Value dari Dale Carnegie Training. Menurut mereka, saya memiliki empat kualifikasi awal, yaitu ada passion to help, enthusiasm, integrity, dan saya sudah menjadi alumni program-programnya,? tuturnya.
Sarjana Psikologi ini menyebut bahwa bidang profesinya saat ini sesuai dengan passion-nya karena bisa berbagi sekecil apapun dengan orang lain, terutama terkait menyingkapkan potensi diri dan pengembangan diri. Baginya, di profesi ini, ia menemukan kesempatan untuk berperan serta dalam salah satu titik perjalanan hidupnya menjadi pribadi yang semakin baik setiap harinya, bisa menjadi teman untuk menggali, menemukan, dan mengembangkan potensi dirinya.
Dikatakannya, bidang softskill ini penting untuk dibagikan ke masyarakat karena pada dasarnya setiap manusia memiliki banyak potensi diri yang bisa digunakan untuk menjadikan hidupnya lebih penuh dan bermakna, bermanfaat tidak hanya bagi diri sendiri, tapi juga bagi keluarga dan sesamanya.
?Jika masyarakat mendapatkan bimbingan dan pendampingan yang tepat untuk memberdayakan diri dengan mulai mengenal diri, mempelajari keterampilan komunikasi, human relation, mengembangkan kepercayaan diri yang sehat, kepemimpinan diri, mengelola sikap positif maka hal tersebut bisa berdampak pada kualitas kehidupannya. Sedangkan, bidang baru yang juga saya geluti terkait dengan personal risk management dan perencanaan keuangan bisa membantu masyarakat untuk mengelola sumber daya dan asetnya lebih bijak sehingga bisa menunjang rencana kesejahteraan ekonominya,? jelasnya.
Alumni Universitas Airlangga ini memaparkan tentang permasalahan yang sering dihadapi dalam pekerjaannya.
?Saat menjadi teman bagi orang lain menemukan, mengembangkan potensinya, seringkali yang menjadi musuh utamanya adalah bloking mental dalam diri sendiri, suara-suara/pikiran-pikiran yang tanpa sadar mengecilkan arti dirinya. Cara saya menyikapinya, sama seperti rekan-rekan saya dahulu memperlakukan saya, yaitu pertama saya diterima apa adanya, kedua mengajak melihat kelebihan-kelebihan dan mempertanyakan pikiran-pikiran yang mengecilkan diri sendiri, ketiga memberikan fakta-fakta yang menguatkan kelebihan-kelebihan diri, keempat melihat peluang-peluang pengembangan ke depan, dan kelima bersama-sama menjalani proses untuk pengembangan diri,? paparnya panjang.
Zona nyaman yang membuat diri sendiri terlena, rasa puas diri, dan takut untuk menghadapi perubahan menjadi tantangan pekerjaan ke depan bagi trainer ini.
?Yang saya lakukan untuk menyikapinya, saya mencoba belajar hal baru, misalnya jika sebelumnya saya memiliki jam terbang yang lama di dunia soft skill, saat ini saya menambah kapasitas untuk berbagi dengan orang lain mengenai personal risk management dan perencanaan keuangan yang sebelumnya merupakan area yang saya tidak ketahui ssama sekali. Hal ini membawa saya bertemu dengan rekan-rekan baru dan guru-guru baru yang mengajarkan banyak hal tentang cakrawala pandang baru terkait financial,? imbuhnya.
Pengagum sosok Romo Agustinus Tri Budi Utomo (Romo Didik) ini membangun habit khusus untuk mendukung pekerjaannya. Diakuinya selama ini didasarkan pada 30 prinsip human relations dari Dale Carnegie dalam berhubungan dan bekerjasama dengan orang lain. Selain itu, juga ada 30 prinsip mengelola sikap dari Dale Carnegie yang menjadi panduan dan kompas pribadi dalam menghadapi tantangan hidup sehari-hari. Untuk mengembalikan mood dalam bekerja, ia memiliki caranya tersendiri.
“Biasanya meluangkan waktu khusus untuk mengisi diri dengan bacaan berkualitas, meluangkan waktu untuk bersosialisasi dengan teman-teman, terutama mendengarkan share atau cerita mereka itu bisa membangkitkan semangat, melihat film-film yang membangkitkan semangat, mendengarkan musik yang semangat, dan kadangkala saya hanya perlu menyendiri sejenak (me time),? bebernya.
Penyuka hobi membaca buku pengembangan diri ini membagikan inspirasinya kepada orang yang membaca kisahnya ini.
?Hidup kita hanya sekali. Jika ada sesuatu yang bisa kita bagikan untuk memberi manfaat bagi orang lain, mari kita lakukan meski itu hanya berupa tindakan sederhana seperti menyediakan waktu untuk menjadi teman, berbagi informasi yang menyemangati bukan yang membuat orang menjadi cemas, memberikan sapaan yang ramah, ucapan dan perlakuan yang menghargai orang lain. Menjadi berarti dan bermanfaat bisa dimulai dengan hal-hal sederhana seperti tersenyum ramah pada setiap orang yang kita jumpai,? tukasnya.
Asst. Manager Training and Development PT. Chubb Life Insurance Indonesia ini membocorkan project dalam waktu dekat dan impiannya.
?Yang paling dekat, di tempat kerja, men-support tujuan perusahaan untuk mengembangkan kompetensi para leader dalam mendevelop timnya. Untuk impian, menjadi trainer bidang softskill yang di kenal masyarakat luas dan menjadi seorang konsultan personal risk management serta financial yang dipercaya,? pungkasnya.
