HarianBernas.com – Dr Safuan, MM, MT sebenarnya tidak pernah membayangkan untuk menjadi profesional seperti sekarang ini. Jika melihat pengalaman kerja dari tahun 1996 sampai dengan 2010 akhir, ia masih berkutat di bidang teknik. Di pertengahan tahun 2010, ada penawaran untuk pindah divisi ke Internal Audit dan waktu itu di divisi teknik, ia sudah mulai sampai kepada titik jenuh ditambah lagi karir yang tidak jelas. Dengan tekad yang kuat, ia pun menerima tawaran tersebut.
?Dengan modal nekad, saya beranikan diri untuk mengambil tantangan menjadi seorang internal auditor, padahal ketika itu belum ada pengalaman menjadi seorang internal auditor dan background pendidikan saya sarjana teknik (pandangan waktu itu adalah backgroound pendidikan seorang internal auditor adalah akuntansi). Ditambah lagi di kantor ketika itu divisi internal audit baru terbentuk maka hal tersebut menjadi tantangan yang luar biasa untuk saya,? ungkapnya ke Bernas.
Awal tahun 2011, ia pun mulai bergabung dengan internal auditor. Ketika itu, ia dan beberapa teman langsung dikirim pelatihan internal auditor di Yayasan Pendidikan Internal Auditor (YPIA) di kawasan Pancoran Jakarta Selatan, tepatnya di Gedung Sucofindo (sekarang ini, YPIA sudah berkantor di tempat baru di Gedung L'Avenue lantai 17 Pancoran Jakarta Selatan).
?Dari situlah saya mulai mendapatkan pencerahan menjadi seorang internal auditor profesional dari para instruktur profesional dari beberapa latar dan bertemu dengan teman-teman sesama internal auditor dari berbagai perusahaan yang ikut dalam pelatihan tersebut,? jelasnya.
Momen tersebut, akhirnya menjadi titik baliknya, yang tadinya tidak bersemangat dalam mengembangkan diri karena merasa nyaman di zona nyaman/comfort zone menjadi semangat, dimulai dengan melanjutkan pendidikan formal S2 di tahun 2011 mengambil Magister Manajemen dan diselesaikan 1,5 tahun, kemudian di akhir tahun 2012, ia ambil lagi S2 dengan mengambil Master Teknik Industri dalam kurun 2 tahun.
?Kurun waktu 2011 sampai dengan 2014, selain pendidikan formal, saya juga mengambil beberapa sertifikasi profesi khususnya bidang internal audit seperti QIA (Qualified Internal Auditor), Certified Risk Maanagement Profesional (CRMP), Certified Fraud Examiners(CFE), Certified Information System Auditor (CISA), Certified Hacking Forensic Investigator (CHFI), Certified Associate in Project Management (CAPM) dan Information Technology Infrastructure Library (IT-IL),? bebernya.
Di awal tahun 2014, ia pun memberanikan diri mendaftar Program Doktoral di Universitas Negeri Jakarta (UNJ). ?Alhamdulillah selama kurang lebih 2,5 tahun, saya berhasil menyelesaikan pendidikan tersebut dan meraih gelar doktor ilmu manajemen,? imbuhnya.
Dikatakannya, jerih payah kuliahnya ini terbayarkan karena di saat bersamaan, ia juga mendapatkan promosi jabatan di divisi keuangan dari perusahaan. Ia dipercaya untuk mengawasi anggaran perusahaan.
?Sekarang selain bekerja dengan jabatan sebagai supervisor anggaran di Terminal Petikemas Koja Jakarta, saya juga mengajar sebagai instruktur internal auditor di Yayasan Pendidikan Internal Auditor dan dosen tetap di Universitas Muhammadiyah Jakarta. Hal ini tidak pernah terlintas dibenak pikiran saya sebelumnya,? tambahnya.
Instruktur Internal Auditor ini menceritakan tentang pengalaman unik di pekerjaannya. Sebenarnya, kepindahannya ke internal audit merupakan puncak kekecewaan dirinya ketika itu pada divisi yang telah lama digelutinya, yaitu divisi teknik. Baginya, ketika itu terkesan manager dan supervisornya memang sengaja membuangnya ke divisi lain, tapi ia tetap optimis kalau langkah itu memang tepat.
?Ketika saya telah selesai menjalankan masa pelatihan internal auditor, tibalah saatnya saya memulai tugas baru, yakni melakukan audit di departemen yang pernah membuang saya yaitu divisi teknik. Dari hasil audit yang saya lakukan, di sana banyak sekali temuan-temuan yang harus ditindaklanjuti oleh manager dan supervisor. Nah ketika audit tersebut, saya mendengar langsung ungkapan dari manager divisi teknik kala itu yang mengungkapkan penyesalannya ?Jika tahu kamu bisa mengaudit seperti ini, saya tidak akan melepas kamu ke divisi internal audit?. Nah dari kejadian tersebut menjadi pembelajaran untuk saya khususnya agar menghargai setiap pekerjaan yang dilakukan oleh bawahan dan jangan pernah ?membuang? karyawan yang memiliki potensi,? paparnya.
Dosen ini pun mengungkapkan tentang permasalahan yang paling sering dihadapi dalam pekerjaannya yang ternyata banyak berasal dari dalam diri sendiri, yaitu perasaan bosan dan malas yang membuat diri menjadi santai dan tidak mau belajar. Untuk menyikapinya, ia biasanya membuat target yang akan dicapai, baik jangka pendek maupun jangka panjang. Dengan target ini, ia akan terpacu dan tertantang untuk merealisasikan target yang telah ditentukan itu. Untuk tantangan ke depan, ia menjawab bahwa menjadi profesor.
?Saya sedang menyiapkan karya ilmiah berupa buku dan mengadakan penelitian-penelitian yang selanjutnya dibuatkan jurnal yang dipublikasikan, baik nasional maupun internasional agar penelitian saya bermanfaat bagi masyarakat,? imbuhnya.
Penyuka hobi menulis ini pun meyakini bahwa bidang pekerjaannya ini penting dilakukan dan dibagikan kepada masyarakat karena menjadi pengajar merupakan tugas mulia apalagi bagi seseorang yang memiliki pengalaman dalam bidang pekerjaan tertentu, kemudian ditambah lagi dengan menguasai materi tertentu melalui buku-buku referensi ini akan sangat berguna bagi masyarakat karena pengajar tersebut memiliki bekal mengajar yang luar biasa dan ilmu yang diterima oleh masyarakat bersifat aplikatif.
Ia pun memiliki kebiasaan khusus yang dibangun selama ini untuk mendukung pekerjaannya, yaitu memberikan contoh bukan hanya perintah atau arahan, hal ini dilakukan baik dalam keluarga maupun dalam pekerjaan. Untuk mengembalikan mood agar kembali bersemangat bekerja, ia selalu bersyukur dan berpikir positif karena apapun yang kita kerjakan jika dilakukan dengan baik akan membuahkan hasil yang maksimal bagi diri sendiri dan perusahaan.
Pengagum sosok Nabi Muhammad SAW ini memberikan inspirasi dan saran kepada orang lain yang membaca kisahnya. ?Selalu tanamkan dalam diri bahwa kita masih banyak kekurangan sehingga lahir dari dalam diri kita sikap rendah hati dan selalu ingin belajar. Untuk saran, hindari zona nyaman (comfort zone) dalam diri. Jika ini bisa dilakukan maka akan tumbuh dalam diri keinginan untuk selalu berubah kearah yang positif,? tukasnya.
Peraih penghargaan karyawan terbaik divisi Teknik Terminal Petikemas Koja pada tahun 1998 ini membocorkan project dalam waktu dekat dan impiannya ke depan. ?Untuk project, menyelesaikan buku referensi terkait manajemen sumber daya manusia. Buku ini merupakan buku kedua dari buku yang saya tulis. Buku pertama saya adalah terkait dengan internal auditor judul bukunya Panduan Praktis Internal Auditor. Untuk impian terbesar ke depan, dapat berkontribusi bagi pembangunan Indonesia, melalui peran pengajaran yang saya lakukan saat ini. Selain itu, saya ingin menjadi manusia yang bermanfaat bagi orang di sekitar saya dan masyarakat secara umum,?pungkasnya.
