HarianBernas.com – Surya Kresnanda memiliki banyak kesibukan terkait bidang profesinya, tapi hampir semua aktivitasnya berkaitan dengan dunia pendidikan lintas bidang. Saat ini, ia menekuni Konsultan Pendidikan untuk perusahaan dan bisnis yang membantu mendesain proses pembelajaran bagi SDM di dalamnya untuk mencapai kinerja maksimal.
“Selain sebagai Konsultan, saya juga pebisnis pendidikan, memiliki kursus pendidikan. Saya juga Business Coach khusus untuk bisnis-bisnis di bidang Pendidikan. Sebagai karyawan, saya adalah dosen yang tercatat memiliki NIDN (Nomor Induk Dosen Nasional),” ungkapnye ke Bernas (16/5).
Baca juga: 14 Universitas Jurusan Teknik Informatika Terbaik di Indonesia
Dikatakannya, masa SMA menjadi titik balik dalam kehidupannya. Melalui aktivitas berorganisasi dan mengikuti beberapa pelatihan saat itu, ia menyadari bahwa hidupnya berjalan untuk bisa membantu orang lain menjadi lebih baik, menumbuhkan orang lain, dan menjadi partner mereka dalam mencapai kebaikan dalam hidup. Untuk itulah ia memutuskan ada di jalan pendidikan.
Bahkan saat ia menjalani kuliah S1 di ITB pun, lebih banyak menikmati buku psikologi terapan dan pengembangan diri dibandingkan buku-buku kuliah. “Selama kuliah S1, saya lebih sibuk beraktivitas di organisasi unit Masjid Salman ITB yang menangani remaja (KARISMA ITB) karena saya senang menumbuhkan orang. Usai S1, saya pun memutuskan untuk berkarir dalam hal-hal yang berkaitan dengan mengajar, memfasilitasi pembelajaran, serta membangun sistem pembelajaran. Kuliah S2 dan S3 pun saya lanjutkan bukan lagi di teknik, melainkan di Pendidikan,” tuturnya.
Untuk pengalaman unik di dalam pekerjaan, Learning Development Consultant ini menyebut saat bersama Trainindo (kantor konsultan tempatnya bekerja sampai sekarang) memberikan pelatihan kepada Trainer Internal di salah satu perusahaan otomotif ternama. Saat itu, beberapa peserta sedang kecewa berat dengan kualitas Konsultan yang membimbing mereka di sesi belajar sebelumnya dan saat menghadapi kami, tampak jelas dari ungkapan mereka bahwa ada anggapan, “Yang ini kayaknya sama aja dengan yang kemarin!”. Berbagai gempuran dan kritikan pun dilontarkan (yang sebenarnya mereka sedang mengkritik konsultan sebelumnya). “Namun saat itu yang kami pikirkan hanyalah tentang bagaimana ingin melayani dan menumbuhkan klien kami. We just doing our best. Dan di akhir sesi, kami meraih apresiasi kepuasan karena ternyata apa yang kami berikan benar-benar sesuai dengan harapan mereka,”imbuhnya.
Baca juga: 10 Universitas Negeri dan Swasta di Bandung serta Jurusannya
Sarjana Teknik Industri ini pun memaparkan tentang permasalahan yang paling sering dihadapi dalam pekerjaannya. ”Permasalahan yang paling sering dihadapi adalah masalah waktu. Sebagian besar aktivitas saya adalah mengajar baik di perusahaan, di kampus, maupun komunitas. Setiap proses mengajar selalu membutuhkan persiapan. Proses mengajar yang baik tentunya ditunjang oleh persiapan yang matang, dan persiapan matang itu membutuhkan waktu khusus. Permasalahannya, waktu khusus tak selamanya bisa disediakan di tengah waktu harian karena berbagai agenda baik agenda professional maupun keluarga. Akhirnya persiapan-persiapan saya lakukan saat di kereta, sedang menunggu pesawat, atau malam setelah keluarga tidur,” paparnya.
Master di Bimbingan dan Konseling ini membeberkan tentang tantangan ke depannya terkait dengan pekerjaannya. ”Tantangan yang dihadapi adalah generasi yang sudah berbeda dengan dahulu. Teknologi mengubah orang. Internet membentuk perilaku manusia. Di era sekarang, saya banyak mengajar orang yang sudah serba tahu karena akses informasi yang tidak terbatas lagi. Maka saya perlu menurunkan porsi saya dalam memberi ilmu dan melakukan switching peran sebagai fasilitator yang mampu mengoptimalkan apa yang mereka punya, baik dalam sesi mengajar kelas, sesi mengajar personal, maupun pendampingan,” bebernya.
Karena kecintaannya terhadap dunia pendidikan dan segala aktivitas yang berkaitan dengan menumbuhkan orang lain, Doktor Ilmu Pendidikan ini sangat yakin bahwa bidang yang digeluti ini penting dilakukan dan dibagikan kepada masyarakat. ”Karena hidup manusia takkan lepas dari Pendidikan. Saya tak hanya bicara soal pendidikan formal sekolah. Pendidikan itu ada di semua lini kehidupan. Keluarga adalah instansi pendidikan. Sekolah dan kampus jelas merupakan instansi pendidikan. Perusahaan? Di sana manusia belajar dan bertumbuh, sehingga sejatinya perusahaan pun tak lepas dari peran pendidikan. Begitu juga bisnis-bisnis kecil skala UKM. Memahami bagaimana pendidikan berjalan di setiap lini dan bidang kehidupan, dapat membantu masyarakat dimanapun untuk lebih efektif dan efisien dalam bertumbuh dan siap menghadapi tantangan masa depan,” ujarnya.
Baca juga: Jurusan IT: Pengertian, Mata Kuliah, dan Prospek Kerja Terbaru
Penyuka hobi membaca ini membangun habit khusus untuk mendukung pekerjaannya, yaitu kebiasaan belajar secara aktif, terutama dalam membaca buku dan berbagi ilmu. Ia senantiasa mengupayakan banyak membaca buku serta mencari sarana-sarana untuk terus berbagi baik bersifat professional maupun sosial. Untuk mengembalikan mood agar kembali bersemangat bekerja, ia menonton film. “Saat tidak mood, saya menonton film di laptop ataupun bioskop. Selesai menonton, biasanya mood saya kembali dan siap untuk bekerja maksimal lagi. Selain menonton, saya mencari bacaan-bacaan menarik yang tidak berhubungan dengan pekerjaan saya secara langsung untuk sejenak mengalihkan perhatian saya serta memberi istirahat bagi otak saya,” terangnya.
Dosen ini pun membagikan inspirasi dan sarannya kepada orang lain yang membaca kisahnya ini. “Manusia terbaik itu bukan manusia yang memiliki segalanya. Bukan yang paling kaya, bukan yang paling pintar, bukan yang paling berkuasa. Manusia terbaik itu adalah manusia yang sebanyak mungkin memberi manfaat bagi orang lain. Seorang konglomerat dengan mobil Ferrari, jika tak dermawan, ia tak lebih mulia dari seorang guru bersepeda ontel yang sehari-hari mengajar membaca anak-anak. Untuk saran, berpesan saja, hidup itu cari berkah, bukan cari duit. Saya termasuk yang percaya bahwa kaya miskinnya orang itu sudah Allah atur sehingga kita manusia tak perlu ambil pusing dengan itu. Yang terpenting, bekerja yang terbaik dengan niat terbaik maka Allah cukupkan hidup kita. Begitu juga saat bekerja, janganlah terlalu sibuk mengejar kekayaan pribadi hingga kurang memperhatikan bahwa sekitar kita banyak orang-orang yang perlu dibantu untuk kita tumbuhkan menjadi lebih baik kualitas hidupnya,” tukasnya.
Business Coach ini membocorkan project dalam waktu dekat dan impiannya ke depan. “Rencana membangun sebuah komunitas dimana setiap orang bisa berbagi pengalaman dan inspirasi kehidupan serta insight d ari pengalaman hidupnya untuk menjadi energy positif bagi banyak orang. Semacam TEDx, tapi dalam skala lebih kecil dan eksklusif. Untuk impian, semua entitas pendidikan baik pendidikan keluarga, sekolah, maupun bisnis dan perusahaan tidak lagi sekedar berpikir kapitalis terhadap pendidikan, bahwa pendidikan ada sebagai alat kerja semata. Saya ingin setiap entitas pendidikan tersebut menjadikan pendidikan karakter sebagai yang utama. Tentu yang namanya pendidikan pun tak terbatas oleh aktivitas mengajarkan sesuatu di kelas,” pungkasnya.
Baca juga: 10 Universitas Jurusan Perhotelan Terbaik dan Unggul di Indonesia
