HarianBernas.com – Budi Raharjo, CFP, QWP, AEPP, MCHT menyebut bahwa setelah mendapat sertifikasi CFP dan berbekal pengetahuan dari pengalaman sebagai Advisor, ia semakin mengerti bahwa ilmu perencanaan keuangan ini dapat sangat membantu berbagai kalangan masyarakat dari kelas berpenghasilan rendah, menengah hingga atas untuk dapat mengelola keuangan lebih bijak, mewujudkan cita-cita bagi dirinya dan keluarga yang dikasihi.
?Bahkan menurut saya, ilmu perencanaan keuangan dapat mencegah perceraian karena konflik keuangan dalam rumah tangga. Karena tidak bisa dipungkiri, masalah keuangan sering menjadi pencetus masalah rumah tangga karena kurangnya panduan untuk masyarakat modern saat ini mengenai masalah keuangan dalam rumah tangga,? ungkapnya ke Bernas (29/5).
Dikatakannya, minimnya tingkat literasi keuangan masyarakat juga dapat berakibat fatal. Dengan semakin modernnya masyarakat dan berbagai tawaran yang menarik dengan berbagai iming-iming dapat menjadikan masyarakat terlalu konsumtif dan kurang memikirkan persiapan masa depan.
?Dengan literasi keuangan, sebenarnya perencana keuangan juga ikut berkontribusi dalam mendorong ekonomi serta menjaga kestabilan ekonomi karena masyarakat dapat memahami situasi keuangannya dengan lebih baik, cermat dalam membelanjakan penghasilannya serta berutang dan bijak dalam berinvestasi untuk masa depannya,? tuturnya.
Dalam perjalanan karirnya sebagai Independent Financial Planner, ia merasa beruntung dapat membedah situasi keuangan seseorang satu per satu. Dari sana, ia banyak belajar bahwa faktor keberhasilan finansial seseorang tidaklah hanya dari penghasilan yang memadai.
?Banyak orang yang menyalahkan penghasilannya yang kurang memadai sebagai faktor utama problem keuangannya, namun ternyata masalah ketidakmampuan menahan diri dan menunda kesenangan dan kebiasaan keuangan lebih banyak berperan. Kegagalan mengelola penghasilan akan mengakibatkan berapapun penghasilan yang diterima tidak akan pernah cukup untuk membiaya gaya hidup yang terus meningkat,? urainya.
Hal yang juga menarik baginya adalah terkadang klien belum tentu percaya dengan rekomendasinya. Di awal karir, ia pernah memiliki prospek yang berinvestasi di sebuah investasi yang menurut analisanya dapat berpotensi gagal bayar.
?Saya sarankan agar investasinya dicairkan saja. Namun, kelihatannya prospek tersebut tidak percaya dengan saya karena dia masih menikmati keuntungan, dan karena itulah akhirnya tidak manjadi klien. Kemudian dalam beberapa tahun kemudian analisa itu terbukti. Kasus seperti ini tidak hanya satu, namun beberapa. Terkadang terbukti dalam waktu dekat, dan terkadang butuh waktu agak lama,? terangnya.
Tentang alasan terus menekuni bidang pekerjaan sampai sekarang, ia menjawab bahwa profesinya ini menggabungkan dua hal dalam kehidupannya.
?Kecintaan saya pada ilmu pengetahuan karena ilmu perencanaan keuangan selalu dinamis dan tidak ada habisnya untuk didalami. Serta ketertarikan saya pada manusia dan keluarga yang unik. Tidak pernah ada kasus rencana keuangan yang benar-benar sama. Setiap keluarga memiliki dinamikanya masing-masing terkait dengan kondisi keuangannya, profesi dan tipe penghasilannya, tujuan keuangannya, siklus kehidupan, profil risiko serta susunan keluarga yang menjadi tanggungannya. Belum lagi kalau kita bicara mengenai keluarga dalam kondisi tertentu misalnya single parent, memiliki anak berkebutuhan khusus, keluarga pebisnis dan sebagainya,? jelasnya.
Untuk permasalahan yang paling sering dihadapi dalam pekerjaan, ia menyebut bahwa hingga saat ini, masih banyak masyarakat yang beranggapan biaya untuk berkonsultasi dengan seorang perencana keuangan adalah mahal dan kurang perlu. Namun, beberapa golongan masyarakat menyadari bahwa sebenarnya berkonsultasi sebelum membuat keputusan keuangan adalah sebuah investasi yang dapat menghemat pengeluaran mereka di masa yang akan datang karena terhindar dari kekeliruan dalam membuat keputusan atau membeli produk keuangan.
“Cara mengatasinya selain dalam konsultasi, kita membuat program kursus singkat / edukasi rencana keuangan baik dalam bentuk seminar, workshop ataupun kursus privat. Dari situ mereka dapat menganalisa sendiri kondisi keuangannya. Ketika mereka sudah merasa nyaman untuk diskusi masalah keuangannya bukan tidak mungkin mereka akhirnya berkonsultasi,? tukasnya.
Untuk tantangan pekerjaan ke depan, ia menyebut tentang bagaimana profesi ini dapat terus berkembang sebagaimana layaknya profesi lainnya, serta dapat dirasakan manfaatnya kepada masyarakat luas. Untuk menghadapinya kami sedang mengadakan kerjasama dengan pihak Pendidikan terutama Perguruan Tinggi untuk mempopulerkan manfaat serta profesi ini.
Dan bagi yang memang tertarik menjadi perencana keuangan kami juga menyediakan program profesional bagi kalangan mahasiswa.
“Saya pribadi juga berbagi melalui sosial media, blog dan buku. Saat ini ada 2 buku yang sudah jadi, yaitu Mendadak Hemat Saat Kepepet dan Anti Panik Mempersiapkan Pernikahan. Di buku kedua, saya menjadi salah satu kontributor bersama dengan ahli-ahli lainnya di bidang psikologi, kesehatan, hukum, kecantikan dan sebagainya,? bebernya.
Penyuka hobi fotografi ini meyakini bahwa bidang yang digeluti ini penting dilakukan dan dibagikan kepada masyarakat.
?Di dalam masyarakat yang terus berkembang ekonominya seperti saat ini, seharusnya kenaikan penghasilan dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan masyarakat, baik untuk kebutuhan saat ini maupun masa depannya. Ilmu rencana keuangan dapat mencegah stress, misal stress akibat masalah keuangan dalam rumah tangga. Efeknya adalah bukan tidak mungkin karyawan atau seseorang yang memiliki masalah keuangan akan tidak dapat fokus bekerja, ketegangan dalam rumah tangga, selalu berpindah-pindah pekerjaan, mencari penghasilan di luar pekerjaan di sela-sela waktu bekerjanya dengan fasilitasi kantor dan bukan yang tidak mungkin adalah korupsi. Padahal yang menjadi masalah utama mungkin adalah tidak seimbangnya antara gaya hidup dengan penghasilan. Namun tidak disadari karena rendahnya tingkat literasi keuangan masyarakat. Dengan meningkatkan tingkat literasi masyarakat Indonesia maka diharapkan Indonesia memiliki ketahanan ekonomi yang kuat,? paparnya.
Sarjana Teknik Mesin ini memberikan inspirasi kepada orang lain yang membaca kisahnya ini.
?Background pendidikan saya tidak selaras dengan profesi yang saya tekuni saat ini. Jangan ragu untuk memulai dari titik nol jika Anda yakin bahwa jalan itu memang jalan yang ingin Anda lalui. Pengorbanan pasti ada. Namun selama Anda konsisten dan terus berkomitmen untuk menekuni apa yang sudah dilakukan, buah keberhasilannya pasti menunggu di ujung perjalanan,? jelasnya.
Alumni Universitas Diponegoro ini membocorkan project dalam waktu dekat dan impiannya ke depan.
?Untuk project, mentoring program dengan Perguruan Tinggi di Indonesia. Untuk impian ke depan, menciptakan semakin banyak perencana keuangan muda di Indonesia yang nantinya dapat berperan dalam memajukan industri keuangan di Indonesia dan menjadikan profesi ini semakin dekat kepada masyarakat,? pungkasnya.
