HarianBernas.com – Riryn Sani menceritakan pengalaman berkesan yang menjadi titik balik kehidupannya hingga menjadi seperti sekarang ini. Ketika itu, ia magang sebagai guru anak berkebutuhan khusus selama 3 bulan. Pengalaman itu membukakan mata hatinya. Ia melihat bahwa individu yang memiliki gangguan psikologis bukanlah individu yang hanya menjadi “beban”.
Mereka ternyata juga punya minat dan bakat, bahkan prestasinya bisa lebih baik daripada orang normal pada umumnya asal mereka bertemu dengan guru dan terapis yang tepat. ”Saya bertemu dengan guru dan terapis yang mengabdikan dirinya mengubah hidup anak-anak berkebutuhan khusus. Saat itu, saya berpikir, peran mereka mungkin tidak akan diketahui oleh banyak orang, tetapi bagi anak-anak yang hidupnya mereka sentuh, apa yang mereka lakukan tidak bisa tergantikan. Pengalaman selama 3 bulan itu sangat berkesan bagi saya dan mengubah pandangan saya sebelumnya tentang profesi pengajar dan psikolog,”ungkapnya ke Bernas (17/6).
Baca juga: 14 Universitas Jurusan Teknik Informatika Terbaik di Indonesia
Saat ini, Adult Clinical Psychologist ini menekuni pekerjaan sebagai dosen penuh di Fakultas Psikologi Universitas Pelita Harapan. Pada hari Sabtu, ia menjalani praktek sebagai psikolog klinis dewasa di Klinik Perhati. Di sela-sela kegiatan tersebut, ia menjalani praktek pribadi sebagai konselor/psikolog.
Ketika ditanya tentang cita-cita masa kecil, ia rupanya memang ingin sekali menjadi seseorang yang hidupnya membantu mengubahkan hidup orang lain. “Saat kecil yang terpikir bagi saya adalah menjadi dokter. Hanya saja, saya tidak kuat membayangkan diri saya ‘membedah’ tubuh manusia secara langsung. Jadinya, saya ‘membedah’ tubuh manusia secara psikologis dan secara kognitif,” tuturnya.
Master psikologi ini menceritakan pengalaman uniknya di dalam pekerjaannya sebagai dosen. Sebagai dosen, ia beberapa kali melihat bahwa kemampuan kognitif bukanlah yang paling penting untuk bisa berhasil. Uniknya, beberapa mahasiswa yang secara kognitif lemah dan diremehkan teman-temannya malah lebih berhasil daripada mahasiswa yang secara kognitif pintar.
“Ternyata kuncinya terletak di faktor sikap, khususnya kerendahan hati dan kesediaan diri membantu orang lain. Kerendahan hati membuat mahasiswa menyadari bahwa mereka tidak sempurna dan tidak harus sempurna sehingga kritik diolah sebagai saran perubahan secara terusmenerus. Kemudian, oleh karena mereka sadar bahwa apa yang mereka capai bukan karena kemampuan sendiri semata, mereka jadi lebih bersedia menawarkan bantuan kepada orang lain. Alhasil, mereka jadi lebih disenangi oleh orang-orang di sekitarnya. Di sisi lain, mahasiswa yang sombong menganggap diri mereka sudah baik sehingga kritik dianggap sebagai serangan yang harus ditangkis. Kemudian, mereka kadang juga jadi egois, sulit membantu orang lain bila berpikir mereka tidak mendapat keuntungan. Alhasil, mereka bukanlah orang yang diingat oleh orang-orang di sekitarnya. Well, padahal untuk berhasil itu tidak bisa sendiri, perlu kerjasama dengan orang lain juga. Jadi, kepintaran saja tidak serta merta membuat seseorang jadi sukses, perlu dibarengi dengan sikap yang benar,” urainya panjang.
Baca juga: 10 Universitas Negeri dan Swasta di Bandung serta Jurusannya
Konselor ini pun menceritakan tentang permasalahan yang paling sering dihadapi dalam pekerjaannya. “Kalau terkait profesi sebagai dosen dan psikolog, permasalahan yang paling sering saya hadapi adalah orang-orang yang tidak menyadari dirinya memiliki masalah dan karena itu, tidak mau berubah. Kesadaran sangat penting, tetapi orang-orang seringkali menutup diri karena tidak mau menghadapi realita yang sebenarnya. Kalau tidak sadar, ya sulit untuk berubah. Cara menyikapinya adalah dengan berusaha memahami sudut pandang mereka, menerima mereka apa adanya (bukan berarti menyetujui apa yang mereka lakukan), mengajak mereka melihat hidup mereka secara berbeda, dan menghargai perkembangan mereka, sekecil apapun itu. Dalam prosesnya, perlu banyak bersabar dan berdoa,” terangnya.
Psikolog ini menyakini bahwa bidang pekerjaan yang digeluti ini penting dilakukan dan dibagikan kepada masyarakat. “Pentingnya peran dosen adalah mendorong generasi berikutnya menjadi agent of change melalui berbagai ilmu pengetahuan dan pengalaman selama berkuliah. Pentingnya peran psikolog adalah memungkinkan setiap individu menemukan kembali hakikat dirinya yang sesungguhnya, bahkan setelah permasalahan yang sangat sulit sekalipun. Di zaman sekarang dengan kondisi hidup yang semakin kompleks. Saya pikir kedua profesi ini semakin terasa pentingnya,” jelasnya.
Dikatakannya, di Indonesia pekerjaan sebagai dosen dan psikolog adalah profesi yang masih banyak disalahpahami oleh masyarakat. Ada orang-orang yang masih berpikir bahwa dosen adalah orang-orang yang pada dasarnya tidak bisa bekerja atau tidak bisa praktek, maka itu dosen mengajar dan “ngemeng” di depan mahasiswa yang tidak bisa menentang apa yang mereka katakan.
Baca juga: Jurusan IT: Pengertian, Mata Kuliah, dan Prospek Kerja Terbaru
Terkait psikolog, orang-orang juga masih banyak yang berpikir bahwa psikolog adalah yang kerjaannya “menyembuhkan orang gila” atau bisa “baca orang”. Mispersepsi seperti inilah yang membuat orang-orang yang sebenarnya tidak passionate untuk mengajar malah menjadi dosen. Mispersepsi seperti inilah yang membuat individu yang mengalami gangguan psikologis malu mencari bantuan profesional dari psikolog. “Akibatnya, kita melihat kasus mahasiswa yang salah didik dan kasus psikologis yang berujung bunuh diri atau melukai orang lain. Kondisi lingkungan seperti ini mengingatkan saya bahwa mengerjakan profesi saya dengan sebaik-baiknya sangatlah penting,” imbuhnya.
Penyuka hobi travelling ini membagikan inspirasi dan sarannya kepada orang yang membaca kisahnya ini. “Profesi tidak hanya sekedar untuk mencari pendapatan atau supaya ada kesibukan. Profesi yang dimaknai dapat mengubah hidup banyak orang, termasuk hidup diri Anda sendiri. Untuk saran, bekerjalah dengan tekun. Terbukalah pada kritik.Percayalah bahwa proses yang benar tidak akan mengkhianati hasilnya,” tukasnya.
Dosen psikolog ini membangun habit khusus untuk mendukung pekerjannya. Ia selalu membiasakan diri mengambil waktu untuk diam dan refleksi. “Profesi yang saya jalani adalah profesi strategis yang dapat menyentuh hidup banyak orang. Bila tidak berhati-hati, saya bisa jadi salah motivasi, melihat profesi ini sebagai ajang untuk meninggikan diri saya sendiri atau salah tujuan, jadi kehilangan makna. Karena itu, saya usahakan untuk selalu ambil waktu merenung dan belajar dari berbagai hal yang dialami,” katanya.
Baca juga: 10 Universitas Jurusan Perhotelan Terbaik dan Unggul di Indonesia
Head of Laboratory Fakultas Psikologi, Universitas Pelita Harapan (UPH) ini membocorkan project dalam waktu dekat dan impian terbesarnya ke depan. “Dalam waktu dekat, saya akan terus mengajar, melakukan penelitian, dan bertemu klien untuk konseling atau terapi. Untuk impian terbesar ke depan, dapat mengumpulkan individu-individu dengan passion di bidang psikologi, lalu bersama-sama mengerjakan pengabdian kepada masyarakat. Bentuknya bisa berupa lembaga bantuan psikologi seperti Yayasan Pulih,” pungkasnya.
