HarianBernas.com – Ir H Wijaya Yasmin selalu berupaya memilih lingkungan yang dapat memberikan efek positif kepadanya. Ada ungkapan populer, Berteman dengan pandai besi, kita akan terkenan bara atau arangnya. Berteman dengan pedagang minyak wangi, walau tak dapat minyaknya, minimal kita akan dapat wanginya.
Dalam kaitan itu, ia sempat pindah kerja sampai 6 kali, sampai akhirnya pada tahun 2007 mendapatkan tempat kerja yang menurutnya cukup memberikan efek positif kepadanya. ?Ya, perusahaan itu adalah Cargill Tropical Palm (CTP), sebuah PMA anak usaha Cargill Corp yang berpusat di Minneapolis, USA sana. CTP sangat perhatian terhadap kejujuran, integritas dan mematuhi semua UU serta Peraturan yang berlaku di negara mana mereka beroperasi. Selain itu, CTP sangat perhatian terhadap kesehatan dan keselamatan kerja karyawan. Pada tahun 2012 lalu, perusahaan tempat saya bekerja ini sempat mendapat pengharagaan The Best Investment dari Gubernur Kalbar. Banyak penghargaan lain yang diterima baik dari pemerintah ataupun masyarakat,? ungkapnya ke Bernas (8/8).
Dikatakannya, titik balik bisa bekerja di perkebunan ketika ia akan berangkat dari asrama Ekalokasari IPB (Institut Pertanian Bogor) menuju Riau untuk mulai bekerja di perkebunan. Seorang temannya kala itu merasa pesimis bahwa ia akan sanggup kerja di kebun. Kata temannya, ?Kerja di kebun itu memerlukan fisik dan mental yang kuat. Aku perkirakan orang macam kamu ini hanya bertahan 3 bulan saja.? Ketika itulah ia bertekad untuk membuktikan bahwa omongan kawannya itu tidak benar.
Dalam pikirannya, ia berkata kalau bisa bertahan 6 bulan saja (sesuai masa training) tentu ini akan menjadi bukti bahwa omongan si-teman itu tidak benar. ?Eh, kenyataannya hingga hari ini saya masih bekerja di perusahaan swasta perkebunan sawit,? imbuhnya.
Untuk pengalaman unik bekerja di perkebunan, ia sering berhadapan dengan kasus-kasus manipulasi yang dilakukan anak buahnya. Ia tidak segan-segan mengusutnya, baik secara internal, bahkan sampai ke pihak yang berwenang. ?Hampir semua level melakukan manipulasi di perkebunan. Modus operandinya macam-macam. Ada berupa manipulasi daftar hadir karyawan, manipulasi lembur, manipulasi hasil kerja, penggelapan aset perusahaan seperti pupuk, BBM dan pestisida, lalu ada pula yang minta komisi atau fee kepada kontaktor serta supplier.Konsekuensinya, saya dibenci dan dimusuhi oleh para pelaku manipulasi itu. Saya sih enjoy saja karena saya hanya menegakkan suatu hal yang saya anggap kebenaran. Semua staf dan karyawan sudah diberi gaji dan fasilitas oleh Perusahaan. Jadi, sangat tidak pantas sebagai orang yang diberi amanah, malah justru menggerogoti keuangan Perusahaan dimana kita bekerja. Pernah saya diancam mau dibacok pakai parang, tapi Alhamdulillaah hingga saat ini saya masih hidup,? tuturnya.
Diungkapkannya alasan terus bekerja di perkebunan sampai sekarang ini karena sudah berpengalaman cukup lama di kebun selama 27 tahun (sejak tahun 1990) sehingga ia benar-benar familiar dengan perkebunan sawit, baik teknis maupun hubungan dengan masyarakat sekitar.
?Kalau pun mau ke profesi lain, saya tidak akan jauh-jauh dari urusan perkebunan. Bisa saja jadi konsultan, pembicara, dan lain-lain. Untuk permasalahan yang paling sering dihadapi, yaitu internal dan eksternal. Kalau dalam perusahaan sendiri, masalahnya adalah kurangnya tenaga kerja pemanen atau tenaga pemanen yang ada, tapi hasil kerjanya tidak sesuai dengan standar yang sudah ditetapkan perusahaan. Upaya-upaya untuk mengatasinya adalah program mekanisasi sehingga tenaga kerja yang ada dapat dioptmalkan, misalnya memanen sawit secara mekanisasi dengan menggunakan mesin Cantas, dan lain-lain. Tantangan ke depan, tentu saja menghadapi masa pensiun (+/- 2 tahun lagi). Saya sudah mulai buka usaha dagang sembako dan gas LPG yang saat ini diperasikan istri saya. Bagi saya nggak masalah apabila seorang pensiunan membuka usaha dagang. Nggak ada rasa gengsi, malu, atapun apalah namanya. Yang penting halal,? katanya.
Pengagum sosok Nabi Muhammad SAW ini pun merasa bidang yang digeluti ini penting dilakukan dan dibagikan kepada masyarakat. ?Sejak awal, saya tertarik dengan perkebunan kelapa sawit dengan Pola Kemitraan, di mana para transmigran dan warga lokal dapat menikmati hasil sawit dari kebun plasma milik mereka. Kebun plasma itu dibangun oleh perusahaan dan hasilnya buah (TBS) wajib dibeli oleh pihak Perusahaan. Setiap bulan dipotong 30% untuk cicilan bank, sampai lunas. Hal ini sejalan dengan dharma ketiga Tridharma Perguruan Tinggi, yaitu pengabdian pada masyarkat,? ucapnya.
Pria kelahiran Payakumbuh, Sumatera Barat ini membangun habit khusus selama ini untuk mendukung pekerjaannya. ?Saya hanya membangun, meningkatkan, dan mempertahankan disiplin, baik di rumah maupun di lingkungan kerja maupun masyarakat. Untuk mengembalikan mood agar kembali bersemangat bekerja, mengingat lagi kesuksesan-kesuksesan yang pernah saya raih pada tahun-tahun sebelumnya. Biasanya, semangat kerja saya kembai meningkat,? paparnya.
Alumni IPB ini membagikan inspirasi dan saranya kepada orang lain yang membaca kisahnya ini. ?Inspirasi yang dimaksud sudah saya tulis di sebuah buku perdana saya 25 Tahun Mengais Rezeki di Perkebunan Kelapa Sawit terbitan FAM, Kediri. Dalam buku yang terbit dua tahun lalu itu, saya kisahkan aspek-aspek yang berkaitan dengan non-teknis kebun sawit, termasuk kasus-kasus manipulasi itu. Saya berharap agar generasi muda bekerja dengan jujur, disiplin, dan amanah. Hilangkan pameo bahwa orang yang lurus akan kurus, orang yang jujur akan terbujur. Buktinya saya tidak kurus dan saya juga tidak ?terbujur?. Lewat gaji, tunjangan, THR dan bonus yang saya terima, saya bisa menyekolahkan sepasang anak saya sampai ke Perguruan Tinggi. Pada tahun 2010, saya dan istri berkesempatan menunaikan ibadah haji. Semua itu adalah hasil tetes keringat saya dalam mengais rezeki di perkebunan sawit. Untuk saran, kesuksesan butuh proses, butuh waktu dan butuh konsistensi. Jangan sampai berpikir untuk meraih sukses melalui jalan pintas karena tidak ada jalan pintas menuju sukses. Terapkanlah aspek-aspek kejujuran, komunikatif, dan bertanggung jawab dalam bidang apa pun yang ditekuni. Satu lagi, jangan malu-malu atau gengsi untuk bertanya ataupun belajar tentang apa-apa yang belum kita pahami. Kiranya singkat saja kunci sukses itu,? urainya.
Penyuka hobi bermain musik dan menulis ini membocorkan rencana dalam waktu dekat ini dan impiannya ke depan. ?Dalam waktu dekat ini tidak ada rencana khusus. Saya hanya fokus saja dalam menuntaskan pekerjaan saya sehari-hari di Cargill Learning Academy. Untuk impian terbesar ke depan, saya ingin menjadi Dai, khususnya bagi anak-anak muda. Dai yang tidak hanya menyerukan ajaran agama, akan tetapi juga berharap bisa menjadi motivator dalam rangka mempersiapkan generasi muda yang lebih baik. Dalam perspektif saya, bangsa ini bisa dikatakan maju apabila generasi berikutnya lebih daripada generasi sekarang. Lebih baik akhlaknya, lebih baik ekonominya, lebih baik pula penguasaan ipteknya,? pungkasnya.
