Bernas.id – Henny Wirawan merupakan seorang trainer bersertifikasi internasional dari sebuah lembaga training internasional Directive Communication Internasional. Sertifikasinya diakui oleh The American Institute of Business Psychology. Ia pun sering terlibat aktif untuk pengembangan dan pemberdayaan kapasitas manusia, baik di dalam beragam organisasi (perusahaan swasta, pemerintahan dan BUMN, sekolah, lembaga keagamaan) maupun secara individual, melalui training atau ceramah dengan topik tertentu.
?Sebagai seorang psikolog dan psikoterapis, saya juga melakukan praktik pribadi untuk menolong orang-orang tertentu dalam menanggulangi permasalahannya dan menemukan kesejatian hidup mereka. Saya juga mengajar, tetapi tidak secara rutin, hanya atas undangan lembaga-lembaga tertentu. Saat ini yang paling sering mengundang saya adalah Yayasan Pendidikan Internal Audit karena saya tercatat sebagai instruktur/fasilitator di sana,? ungkapnya ke Bernas (9/8).
Dalam perjalanan karirnya, ia dulu ternyata pernah tercatat sebagai dosen tetap di sebuah perguruan tinggi swasta di Jakarta dengan jenjang jabatan akademik Lektor Kepala, tetapi ia sudah mengambil program pensiun dini sejak tahun 2015.
?Saya pun tercatat sebagai anggota Executive Board dari Dewan Sertifikasi Qualified Internal Auditor, suatu lembaga yang diakui sebagai pemberi sertifikasi profesi bagi para internal auditor di Indonesia dan Timor Leste,? imbuhnya.
Penulis 10 judul buku ini pun menjelaskan tentang alasan terus menekuni pekerjaan sampai sekarang.
?Semua hal yang saya tekuni hingga sekarang adalah karena saya menyukainya, dan saya sendiri berkembang di dalamnya. Saya senang belajar hal-hal baru, dan melalui berbagi ilmu dan keterampilan, ternyata saya pun menambah kemahiran dan pengalaman saya. Selain itu, saya menghayati hal-hal yang saya kerjakan sebagai bentuk ibadah saya kepada Sang Pencipta Kehidupan yang sudah mempercayakan berbagai hal di dalam perjalanan hidup saya. Saya pun bersukacita jika saya bisa berbagi dengan orang-orang yang membutuhkannya, termasuk dengan para profesional bidang sejenis atau dari lain bidang keilmuan,? paparnya.
Dikatakan, momen uniknya terjadi ketika ia memutuskan untuk menjadi trainer profesional. Ia memang sudah berbicara di depan umum sejak tahun 1990 dan semakin intensif ketika menjadi dosen di sebuah perguruan tinggi swasta.
?Saya mulai berhadapan dengan kamera secara langsung di tahun 2000, tepatnya sejak saya menjadi narasumber sebuah stasiun televisi swasta. Jadi, artinya pengalaman berbicara di depan umum dalam seminar atau pelatihan bukanlah suatu hal yang asing bagi saya. Namun, mendapatkan legitimasi dan rekognisi dari lembaga yang cukup ternama juga suatu hal yang penting bagi saya. Apalagi karena dari lembaga ini, ada kesempatan belajar secara kontinu bersama dengan para trainer dari negara-negara lain. Tentu hal tersebut akan memperkaya kemampuan dan pengalaman batin saya, baik sebagai individu maupun sebagai seorang yang profesional,? tuturnya.
Founder, Owner, and Senior Facilitator di Meliora Learning Academy ini pun menceritakan pengalaman berkesannya dengan pekerjaannya saat ini.
?Bergelut dengan buku-buku, laporan kegiatan, dan lembar penelitian adalah hal yang menyenangkan sejak dulu. Namun, berbicara di depan kelas sambil mentransmisikan ilmu yang diramu dengan tebaran nilai-nilai kehidupan yang terbaik, adalah hal yang paling menyenangkan. Melihat orang-orang yang dididik berhasil menyerap materi ajar dan mengaplikasikannya secara terampil, bahkan mendengar atau membaca testimoni mereka hingga sekian tahun kemudian pasca proses pendidikan sungguh merupakan anugerah dan berkah tak terhingga bagi saya. Sebagai catatan, hingga saat ini saya masih terhubung dengan ratusan hingga ribuan mahasiswa saya di media sosial, dan daftar itu terus bertambah dengan orang-orang baru yang bergabung dari berbagai pelatihan yang saya selenggarakan,? bebernya.
Di dalam praktik, ia sering menyaksikan perubahan pola pikir, ekspresi emosi, dan perilaku dari orang-orang yang selama ini menilai diri sendiri dan lingkungannya secara sangat negatif, atau mengalami berbagai gangguan psikologis lainnya. Hal itu sangatlah menggembirakannya.
?Tentu saja tidak semua kasus bisa diselesaikan dengan baik. Kadang-kadang ada kasus gagal, atau yang menolak proses terapi. Namun adalah tanggung jawab orang yang membutuhkan pertolongan juga untuk bekerja sama dengan pihak pemberi pertolongan, bukan?,? tukasnya.
Psychologist berlisensi ini pun meyakini bahwa bidang digeluti ini penting dilakukan dan dibagikan kepada masyarakat.
?Karena saya (dan sejumlah rekan yang satu visi) bertekad untuk mencerdaskan masyarakat, membuka wawasan mereka untuk melihat betapa berharga dan berartinya mereka, serta bahwa mereka pun mampu berkontribusi bagi Indonesia tercinta, di bidang mereka masing-masing. Saya percaya bahwa sudah seharusnya Indonesia maju pesat, karena kita sebenarnya memiliki modal besar untuk berjaya di dunia,? jelasnya.
Untuk tantangan pekerjaan ke depan, Graphology bersertifikasi ini menyebut bahwa barangkali tantangannya adalah menemukan tim yang pas untuk berjalan bersama-sama dengannya karena ia memiliki visi yang besar untuk membangun tim pelatihan yang kuat dengan spesifikasi yang berbeda dari kebanyakan yang sudah ada saat ini. Permasalahan pun tak luput dari rutinitas pekerjaannya.
?Salah satu yang seringkali berulang adalah masalah relasional karena perbedaan prinsip yang tajam. Saya dikenal orang sebagai seseorang yang tak suka berkompromi terutama untuk hal-hal ?miring? dan ?salah?. Tidak ada pemakluman untuk kekeliruan yang disengaja, tidak mempan disogok atau dirayu untuk mengalir mengikuti arus. Saya pikir saya cukup fleksibel dan berempati terhadap kesulitan dan keluh kesah orang lain, namun jika berkaitan dengan profesionalisme dan disiplin kerja, maka saya biasanya memiliki standar tinggi,? tambahnya.
Auditor bersertifikasi ini memberikan inspirasinya kepada orang yang membaca kisahnya ini.
?Jangan pernah menyerah dalam menghadapi kesulitan. Masalah selalu akan terjadi, makin hari makin sukar, makin tinggi posisi makin berat tantangannya. Adakalanya masalah pun terjadi karena salah strategi atau kebodohan kita. Akui keterbatasan dan kelemahan kita, namun jangan pernah menyerah. Berjuang lagi dan gapailah mimpi. Adakalanya orang berusaha menghambat dengan segala kata-kata negatif atau fitnah, atau upaya jahat lainnya. Saya mengalaminya, saya merasakannya bahkan hingga saat ini. Namun jangan pernah menyerah. Senantiasa ada tangan yang mahakuat yang mengawal kehidupan kita selama kita berpasrah diri kepadaNya, sambil tetap mengupayakan yang terbaik,? ucap pesannya.
Praktisi Emotional Freedom Techniques ini membocorkan rencana dalam waktu dekat dan impiannya terbesar ke depan.
?Mengembangkan seminar berseri tentang perempuan dan kepemimpinan, pelatihan self leadership untuk para karyawan dan pelaku bisnis, serta beragam pelatihan dan seminar di sejumlah lembaga/organisasi. Untuk impian terbesar ke depannya, mengembangkan pusat layanan pemberdayaan sumber daya manusia yang terpadu (dari aspek kesehatan mental, keterampilan finansial, kemahiran kepemimpinan, spiritual dan fisik),? pungkasnya.
