YOGYAKARTA, Bernas.id – Sejak dilantik menjadi Bupati Sleman periode 2017-2022 pada 17 Februari 2016 lalu, Sri Purnomo, langsung mencanangkan keinginan menjadikan wilayah Sleman sebagai Smart Regency alias Kabupaten Pintar. Sejumlah program kemudian disusun. Tujuannya adalah menjadikan masyarakat Sleman lebih sejahtera lahir dan batin, mandiri, berbudaya dan teriintegrasi dengan e-goverment. Predikat Sleman sebagai Smart Regency alias Kabupaten Pintar diharapkan tercapai tahun 2021.
Dalam perbincangannya dengan Bernas, Rabu (30/8), Sri Purnomo memaparkan langkah yang sudah dirancangnya untuk menuju Sleman sebagai Kabupaten Pintar pada 20121 mendatang. Sri Purnomo menyebut ada lima misi besar untuk menggapai predikat sebagai Kabupaten Pintar tersebut.
?Kalau bicara smart regency, artinya kabupaten yang cerdas dalam hal pelayanan, cerdas dalam hal memberikan action-action, kegiatan-kegiatan, yang itu endingnya nanti semua organisasi perangkat daerah di kabupaten Sleman berlandaskan pada smart. Artinya, cepat dan cerdas, kemudian profesional dan cepat,? tandas Sri Purnomo.
Orang nomer satu di Sleman itu kemudian mencontohkan pengelolaan keuangan yang sudah sangat terbuka. Artinya, badan keuangan dan aset daerah di Sleman sudah menyiapkan sistem yang bisa diakses oleh siapapun secara transparan.
Di sektor pendidikan, Sri Purnomo membanggakan pelaksanaan UNBK (Ujian Nasional Berbasis Komputer) di Sleman yang dinilainya berhasil. Masing-masing siswa mendapat akses satu komputer atau laptop dengan materi soal yang berbeda-beda antar-siswa. ?Sehingga tingkat kemandirian mereka tinggi,? ujarnya.
Sri Purnomo juga membanggakan penerimaan siswa baru yang sudah menggunakan sistem online. ?Sekarang tidak seperti dulu harus rame-rame nunggu di satu sekolah, jadi cukup dipantau dari rumah. Tidak perlu datang ke sekolahan,? ujarnya bangga.
Pemerintah daerah Sleman juga telah menerapkan wajib pendidikan 12 tahun. Bahkan, anggaran untuk siswa dari keluarga tidak mampu juga telah meningkat dari Rp 2,4 juta menjadi Rp 3 juta per tahun per siswa.
?Ini sudah kita laksanakan sejak tahun 2010. Cuma, dulu kan nominalnya agak sedikit di bawahnya, tiap tahun ada koreksi-koreksi, ada kenaikan. Kemudian kalau rentan miskin (katagori antara miskin dan cukup) dibantu separuhnya dari biaya untuk KK miskin tadi,? paparnya.
Di sektor kesehatan, Sri Purnomo menyebut bahwa semua pelayanan kesehatan milik Pemerintah Kabupaten Sleman sudah berstandar pelayanan maksimal dengan standar badan layanan umum daerah. Layanan kesehatan untuk masyarakat ini didukung oleh 25 puskesmas yang semuanya sudah badan layanan umum.
?Artinya, kalau badan layanan umum itu kita memerlukan obat setiap saat, tanggal 1 januari pun kita ready. Kalau dulu ketika belum layanan umum kalau tahun baru belum punya obat ya kita tidak bisa apa-apa. Belum ada pengadaan seperti itu. Tapi sekarang ini, tahun baru di akhir tahun itu langsung bisa memberikan pelayanan dan itu kita setiap saat bisa pengadaan obat-obatan,? ujarnya.
Pada masing-masing Puskesmas tersebut, lanjut Sri Purnomo, juga tersedia tenaga psikolog yang memberi konsultasi psikologi. ?Pelayanan rumah sakit umum daerah juga sudah diaudit, termasuk rumah sakit terbaik di Indonesia. Bahkan, rumah sakit tipe C yang di Prambanan itu sudah terakreditasi yang paling modern. Satu-satunya di Indonesia ya baru di Prambanan itu,? kata Sri Purnomo.
Pada saatnya nanti, lanjut Sri Purnomo, sektor pelayanan kesehatan ini akan menjalankan prinsip-prinsip smart health. ?Kita akan punya sistem yang nanti bisa diakses dirumah sakit, misalnya yang kosong ada kamar berapa kemudian akan konsultasi dengan dokter siapa, itu sudah ada sistemnya. Nantinya akan seperti itu,? ujarnya.
Terkait dengan smart citizen, Sri Purnomo membaggakan bahwa Kabupaten Sleman termasuk pengguna IT terbanyak di Indonesia. Tingginya angka penggunaan IT ini berkorelasi dengan keberadaan sekitar 250.000 mahasiswa yang berdomisili di Kabupaten Sleman.
Mengutip pernyataan Direktur Telkom, Sri Purnomo menyebut bahwa penggunaan wifi di Kabupaten Sleman berada di peringkat tertinggi di DIY. Penggunaan wifi di Sleman mencapai 50 persen, sementara 50 persen sisanya digunakan di kota Yogyakarta serta tiga kabupaten lainnya di provinsi DIY.
Menurut Sri Purnomo, kalangan UMKM di Kabupaten Sleman juga sudah memanfaatkan teknologi IT. Sebanyak 50 persen UMKM di Kabupaten Sleman sudah menggunakan web media sosial.
Semua kemudahan teknologi IT tersebut didukung oleh pemasangan jaringan fiber optik oleh Telkom di seluruh kawasan Sleman. ?Jadi hampir semuanya tinggal masang-masang spot-spotnya, maka terjadi kemudahan,? ujarnya.
Sri Purnomo juga sudah membuka portal Lapor Sleman untuk memberi kesempatan bagi masyarakat terlibat secara aktif melaporkan segala sesuatu yang menyangkut penyelenggaraan pemerintahan. ?Setiap hari banyak sekali yang masuk, memberikan sumbang saran, masukan, sekaligus juga pertanyaan-pertanyaan dan sekaligus juga kritik. Mereka bertanya ke twitter nya bupati, tanya ke facebook nya bupati. Gak apa-apa, masukan akan dijawab. Kami kirim ke Organisasi Perangkat Daerah yang berkompeten,? ujarnya.
Sikap optimis Sri Purnomo menjadikan Sleman sebagai Kabupaten Pintar (Smart Regency) tersebut juga didukung oleh fakta bahwa Sleman memiliki perguruan tinggi terbanyak di Indonesia. ?Memang perguruan tinggi di Indonesia paling banyak kan di Sleman. Kecamatan yang paling banyak perguruan tinggi di dunia itu di Kecamatan Depok,? ujarnya bangga.
Di sisi lain, Sri Purnomo mengakui bahwa tingkat kemiskinan di Kabupaten Sleman masih cukup tinggi, sekitar 10 persen. Sri Purnomo berjanji akan menangani serius soal kemiskinan ini. ?Kita upayakan nanti di tahun 2018 akan terjadi penurunan yang signifikan,? ujarnya.
Usaha yang dilakukan untuk menurunkan angka kemiskinan ini antara lain program Bedah Rumah. Jika selama ini program Bedah Rumah belum terintegrasi, kedepan akan lebih terintegrasi. ?Kalau dulu kita sudah bedah rumah. Rumah yang tidak layak menjadi layak, tapi belum punya sumur, belum punya MCK. Nah, nanti akan dikeroyok dengan program-program yang lain,? ujarnya.
Pada bagian akhir perbincangan dengan Bernas, Sri Purnomo berpesan kepada masyarakat Sleman untuk hidup damai. Hal ini penting mengingat komposisi penduduk asli dan pendatang di Sleman hampir berimbang.
?Yang tinggal di Sleman itu pendatangnya banyak sekali, dari berbagai penjuru tanah air. Yang mahasiswanya saja sekitar 250.000 mahasiswa, itu kebanyakan dari luar kabupaten Sleman. Mereka yang berdatangan ke Sleman kemudian menetap dan mencari kehidupan di Sleman juga banyak. Pesan saya, kita harus bersatu, tidak membeda-bedakan. Sleman selama ini masyarakatnya sudah sangat terbuka, tidak membedakan kamu asalnya dari mana,? kata Sri Purnomo.
