Bernas.id ? Sekelompok peneliti asal Amerika Serikat telah berusaha memetakan aktivitas otak para biksu Tibet ketika mereka melakukan kegiatan debat. Kegiatan ini adalah warisan budaya akademis dari universitas kuno Nalanda di India yang dilestarikan di berbagai biara di Tibet.
Para peneliti dari Science for Monks, sebuah lembaga sains yang berbasis di AS, dan dari Universitas Negeri Kent, Ohio, melakukan pengamatan mendetail terhadap para biksu yang melakukan debat serius mengenai topik ?perhatian penuh? di laboratorium kecil kampus Sera Jay Monastic University di Tibet.
Tampak di laboratorium tersebut dua orang biksu sedang melakukan debat. Pekikan keduanya bergema di ruangan kecil itu. Saat suara mereka bertabrakan, diikuti dengan tepukan telapak tangan mereka dan hentakkan kaki di lantai.
?Kami di sini untuk memetakan aktivitas otak para biksu saat mereka berdebat. Kami ingin memahami apa yang terjadi di otak mereka dan saat neuron melakukan sinkronisasi,? kata Bryce Johnson, Presiden dan CEO Science for Monks, seperti dikutip dari Times of India, Rabu (23/8/2017).
Bagi para biksu Tibet, berdebat bukan sekadar latihan akademis. Ini merupakan sebuah cara memahami sifat alami realita guna mendapatkan pengetahuan, melalui analisis cermat terhadap fenomena dunia nyata.
?Tujuan pentingnya adalah menerapkan pengetahuan pada situasi praktis. Yang Mulia Dalai Lama sering menekankan bahwa pembelajaran belaka tidak bermanfaat seperti penerapan pengetahuan secara praktis,? kata Geshe Ngawang Norbu, kepala Sentra Sains Sera Jay.
Saat berdebat, para biksu dilengkapi dengan tutup kepala elektroda putih yang menangkap aktivitas otak, penantang (berdiri) dan pembela (duduk) berdebat mengenai topik seputar kesunyataan hingga kosmologi sementara komputer mencatat pembacaan EEG (elektroensefalografi). EEG membantu mempelajari aktivitas otak dengan mendokumentasikan aktivitas berulang dari neuron, yang disebut osilasi saraf.
?Para biksu melihat hal ini sebagai penguatan Agama Buddha. Ini merupakan bagian dari tradisi Nalanda kuno ? Data kami menunjukkan bahwa saat debat berlangsung, tingkat konsentrasi mereka meningkat,? kata Johnson.
Sembilan orang biksu dipilih untuk kegiatan pemetaan selama 15 hari pelaksanaan yang telah berakhir pada pekan lalu. Biasanya, penantang mengajukan pertanyaan dan pembela menjawabnya. Begitu penantang menyelesaikan pertanyaannya, ia secara dramatis menepuk telapak tangan ? memberi tanda tangan pada kedatangan belas kasih (tangan kanan) dan kebijaksanaan (tangan kiri) secara bersamaan ? dan mengentakkan kaki kirinya. Penantang kemudian memegang lengan kirinya dan menggunakan tangan kanannya untuk menaikkan mala (tasbih) nya yang melingkar di tangan kirinya.
?EEG menangkap momen di otak para bhiksu saat mereka terlibat dalam perdebatan. Kapan terjadi sinkronisasi neuron? Apa kualitas perhatian selama perdebatan tersebut? Jika ada sinkronisasi antara dua biksu, kapan itu terjadi? Inilah yang kita ungkap,? ujar David M Fresco, profesor ilmu psikologi di Universitas Negeri Kent, Ohio.
Tahun 2004, para peneliti dari Universitas Wisconsin mempelajari para bhiksu Tibet dalam keadaan meditasi dan menemukan tingkat gelombang gamma (diketahui sebagai frekuensi tertinggi) dari aktivitas ekektrik di neuron. Tingkat ini terlihat pada beberapa biksu bahkan ketika mereka tidak bermeditasi, ini menunjukkan bahwa meditasi bertahun-tahun telah menyebabkan neuroplastisitas ? kemampuan otak untuk mengubah struktur dan fungsinya setelah pengalaman baru.
Studi selanjutnya menunjukkan bahwa aliran darah ke otak lebih tinggi di antara para meditator jangka panjang sementara mereka juga memiliki materi abu-abu lebih besar di beberapa wilayah yang terkait dengan regulasi pikiran.
?Tujuan jangka panjangnya adalah untuk membuat sains Buddhis, sains pikiran dari tradisi Nalanda kuno, yang dapat diakses untuk kemanusiaan yang lebih besar dengan menggunakan sains modern sebagai media. Utamanya guna mempromosikan nilai dan belas kasih manusia secara sekuler,? Kata Geshe Ngawang Norbu.
Para peneliti mengatakan bahwa penelitian tersebut menunjukkan bahwa para biksu ingin berada di abad ke-21 dan tidak ingin tetap menjadi biksu yang hanya menyepi dan bermeditasi. ?Ini akhirnya membuat hubungan antara tradisi dan dunia modern,? kata salah satu dari mereka.
Science for Monks sendiri merupakan lembaga sains atau ilmu pengetahuan yang didirikan pada 2001. Program-programnya berdasarkan inspirasi dari ketertarikan Dalai Lama Ke-14 terhadap sains. Dalai Lama sendiri pernah mengatakan, apabila ada bagian dari Buddhisme yang tidak selaras dengan sains, maka Buddhisme harus berubah.
