YOGYAKARTA, HarianBernas.com ? Rencana imunisasi Campak dan Rubella atau Measles Rubella (MR) yang akan berlangsung di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) pada Agustus dan September 2017 mendapat penolakan dari delapan sekolah. Penolakan tersebut dilakukan dengan cara tidak mengizinkan tim imunisasi dari Puskesmas datang ke sekolah untuk sosialisasi.
“Sebanyak delapan sekolah (yang menolak imunisasi MR) itu ada di tiga lokasi di Sleman, Kota Yogyakarta dan Bantul,” kata Kepala Kanwil Kemenag DIY, M Lutfi Hamid, pekan lalu.. Lutfi menjelaskan, delapan sekolah berbasis agama yang menolak itu mulai setingkat Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP). Sekolah-sekolah itu menolak kedatangan tim imunisasi dari Puskesmas yang hendak melakukan sosialisasi pelaksanaan imunisasi Campak dan Rubella.
“Alasanya pertama, status bahan imunisasinya itu apakah halal atau tidak halal. Kemudian, (mereka menilai) sebenarnya manusia itu sudah punya daya kebal sendiri, karena sejak dahulu tidak ada imunisasi nyatanya regenerasi manusia tetap jalan,” jelasnya.
Tak hanya ini, lanjut Lutfi, mereka juga menganggap jika imunisasi menjadi ajang bisnis perusahaan obat. “Mereka menganggap imunisasi itu hanya merupakan bisnis perusahaan obat. Mereka sepertinya tidak mempertimbangkan dinamika masyarakat bahwa virus itu terus berubah,” ujarnya.
Lutfi khawatir penolakan imunisasi tidak hanya disebabkan faktor-faktor itu saja. Ia curiga kelompok yang menolak imunisasi atau vaksin memang selalu ingin berseberangan dengan pemerintah.
“Atau mereka memang secara ideologis selalu berseberangan dengan pemerintah. Kalau sekadar pemahaman produk, bisa kita selesaikan, tapi kalau secara ideologis selalu berseberangan dan menganggap setiap kebijakan pemerintah adalah sesuatu yang harus ditolak,” lanjutnya.
Meski muncul penolakan imunisasi di tiga kabupaten/kota di DIY, kata Lutfi, pemerintah tetap melakukan pendekatan ke lembaga pendidikan berbasis keagamaan itu. “Yang akan dilakukan adalah identifikasi lembaga, kemudian lakukan pendekatan bahwa kebutuhan imunisasi bukan tren tapi kebutuhan mendasar dari generasi kita,” kata Lutfi.
Bukan Pertama Kepala Bagian Informasi dan Humas Kantor Wilayah Kementerian Agama DIY, Abd Suud, membenarkan ada beberapa madrasah yang menolak imunisasi Measles Rubella (MR). Namun, ia belum bisa memastikan madrasah mana saja yang menolak.
?Saya juga belum dapat data pastinya madrasah mana saja yang menolak imunisasi MR. Untuk sementara ada beberapa madrasah yang ditengarai tidak mau. Kemungkinan itu sama dengan yang menolak hormat bendera, madrasah yang ada di Sleman dan Bantul. Kemungkinan sama dengan itu,? kata Suud, Jumat (28/7).
Ia mengakui, isu ini muncul pada rapat untuk membahas kampanye imunisasi MR yang dilaksanakan Agustus hingga September 2017, namun pihaknya masih menelusuri sekolah mana saja yang menolak dan alasannya.
?Alasan menolaknya ada dua kemungkinan. Pertama karena belum paham betul soal imunisasi MR. Kan dikhawatirkan bahan imunisasinya itu ada yang beranggapan itu haram, karena mungkin tidak dapat info yang jelas. Kedua, ada pemahaman bahwa Islam tidak ada hadist atau dalil untuk imunisasi,? kata Suud.
Menurutnya, bukan sekali ini saja imunisasi ditolak. Ia mencontohkan, dahulu ada imunisasi wajib untuk calon jemaah haji yang ditolak karena dikhawatirkan bahan vaksin itu mengandung unsur babi. Akibatnya, Kemenag harus mencari penyedia lain untuk melakukan layanan imunisasi.
Contoh lain yaitu program Keluarga Berencana (KB) yang juga ditolak. Ada pihak-pihak tertentu yang menolak KB karena menganggap Islam tidak mewajibkan.
?Sama seperti waktu KB itu kan tidak ada dalilnya, tapi lama-lama kan diberikan pemahaman bahwa itu penting untuk merencanakan keluarga. Itu kan banyak dulu yang kayak gitu-gitu (penolakan). Biasanya pondok-pondok yang terlalu saklek. Ada dua tiga (pondok) saja lah,” jelasnya.
Diperoleh informasi, salah satu sekolah berbasis agama yang menolak pemberian vaksi tersebut adalah Ponpes Ar-Ridho di Bangunharjo, Sewon, Bantul, DIY. Ponpes yang terdata di Kantor Wilayah Kemenag DIY ini juga menyelenggarakan sekolah formal, setara jenjang TK-SMA.
Namun, saat dikonfirmasi, Sabtu (29/7), salah satu pengurus Ponpes Ar-Ridho menolak memberikan komentar. Ia meminta langsung menemui Abdul Haq, yang disebutnya sebagai ketua umum Ponpes dan sedang berada di Masjid Agung Bantul.
Ketika Abdul Haq ditemui di Masjid Agung Bantul, ia tersenyum dan menolak memberikan jawaban terkait masalah penolakan Ponpes Ar-Ridho terhadap program imunisasi yang lakukan pemerintah. “Saya tidak perlu menjawab,” katanya.
Pentingnya Imunisasi Kepala Dinas Kesehatan DIY, Pembajun Setianingastutie, menyayangkan munculnya penolakan tersebut. Menurutnya, beberapa wali murid sebenarnya masih membutuhkan dialog dan diskusi dalam pelaksanaan imunisasi.
“Lebih tepat kalau masih belum ada kesepahaman tentang pelaksanaan imunisasi MR secara optimal pada institusi pendidikan,” katanya.. Menurut Pembajun, Dinkes sedang mencoba melakukan dialog dengan pimpinan institusi pendidikan tersebut.
Ditemui terpisah, Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X, meminta ada komunikasi lebih lanjut oleh semua pihak termasuk oleh Pemkab dan Pemkot soal penolakan tersebut. “Saya harapkan semua bisa lakukan imunisasi, asal di komunikasikan dulu. Dikomunikasikan dulu,” kata Sri Sultan Hamengku Buwono X di kompleks Kepatihan Yogyakarta.
Imunisasi MR merupakan program vaksinasi gratis untuk pencegahan penyebaran penyakit Campak dan Rubbela di Indonesia. Pelaksanannya akan dilakukan dalam dua tahap. Pertama, pada Agustus dengan menyasar anak-anak di sekolah-sekolah. Tahap berikutnya, imunisasi MR yang akan dilaksanakan secara serentak pada September 2017 untuk balita.
Data Dinkes DIY pada 2016, sebanyak 1.929 anak yang diduga terjangkit virus Rubella, 463 di antaranya dinyatakan positif terjangkit virus Rubella. Sedangkan sejak Januari hingga Juli 2017 tercatat 7 kejadian luar biasa (KLB) penyakit Campak di DIY dimana 60-70 persen diantaranya positif Rubella.
Kementerian Kesehatan RI mencatat pada 2016, terdapat 8.185 kasus Campak, lebih rendah dibandingkan pada tahun sebelumnya yang mencapai 12.943 kasus. Jumlah pasien Campak yang meninggal tercatat satu orang di Provinsi Jambi.
Pengertian Vaksin Vaksin adalah sediaan biologis yang meningkatkan kekebalan terhadap penyakit tertentu. Vaksin biasanya mengandung agen yang menyerupai mikroorganisme penyebab penyakit, dibuat dari mikroba yang dilemahkan atau mikroba mati atau toksin atau salah satu protein permukaan bakteri/virus. Vaksin merangsang sistem kekebalan tubuh untuk mengenali bahan tersebut sebagai benda asing, kemudian vaksin tersebut dihancurkan oleh tubuh dan tubuh kemudian akan memiliki ingatan itu, sehingga sistem kekebalan tubuh lebih mudah dapat mengenali dan menghancurkan mikroorganisme sejenis ini jika suatu saat masuk ke tubuh.
Produk obat biologis berbeda dari obat kimia karena produk biologis (vaksin) adalah senyawa yang sangat kompleks, tidak bisa dicari secara untaian molekulnya. Vaksin memiliki banyak variasi dalam hal persiapan pembuatannya dan berbeda untuk setiap jenis organisme.
Produk-produk vaksin, kegunaanya untuk mencegah terjadinya suatu penyakit. Beberapa diberikan pada bayi yang baru lahir. Oleh karena itu pembuatannya harus benar-benar hati- hati di mana vaksin ini memiliki potensi yang besar untuk efektif mencegah penyakit. Disamping itu, vaksin tersebut harus aman dan tidak memiliki efek berbahaya pada tubuh.
Sedangkan imunisasi adalah proses dimana seseorang dibuat resisten atau kebal terhadap penyakit menular. Biasanya dengan pemberian vaksin. Vaksin merangsang sistem kekebalan tubuh sendiri untuk melindungi orang terhadap masuknya infeksi atau penyakit. Imunisasi adalah alat yang terbukti untuk mengendalikan dan menghilangkan penyakit infeksi yang mengancam kehidupan dan diperkirakan dapat mencegah antara dua hingga juta kematian setiap tahun.
Ini adalah salah satu investasi kesehatan paling murah, dengan strategi yang telah terbukti dan dapat dijangkau pada semua populasi. Imunisasi ada dua jenis, yaitu imunisasi aktif dan imunisasi pasif.
Imunisasi aktif adalah kekebalan tubuh yang didapat seseorang karena tubuh yang secara aktif membentuk zat anti bodi. Imunisasai aktif ini ada dua jenis, yakni imunisasi aktif alamiah dan imunisasi aktif buatan. Imunisasi aktif alamiah adalah kekebalan tubuh yang secara otomatis diperoleh setelah sembuh dari suatu penyakit. Imunisasi aktif buatan adalah kekebalan tubuh yang didapat dari vaksinasi yang diberikan untuk mendapatkan perlindungan dari suatu penyakit.
Sedangkan imunisasi pasif adalah kekebalan tubuh yang bisa diperoleh seseorang yang zat kekebalan tubuhnya didapatkan dari luar. Imunisasi pasif ini juga ada dua jenis, yakni alamiah dan buatan. Imunisasi pasif alamiah adalah antibodi yang didapat seseorang karena diturunkan oleh ibu yang merupakan orang tua kandung langsung ketika berada dalam kandungan. Imunisasi pasif buatan adalah kekebalan tubuh yang diperoleh karena suntikan serum untuk mencegah penyakit tertentu.
