HarianBernas.com – Lebih dari 20 tahun, Yungke Wibowo telah menekuni pekerjaan di bidang perhotelan. Saat ini menjabat sebagai General Manager di Jogjakarta Plaza Hotel dan menyupervisi Primebiz Hotel di Tegal karena tugasnya yang membawahi dua properti. Karirnya dimulai tahun 1997, saat itu, ia bekerja sebagai operation manager di perusahaan peternakan sapi perah. Lalu, mendapatkan tawaran pindah ke Jogja untuk menangani hotel.
Sebetulnya, itu bukan merupakan dua perusahaan yang ekstrim karena waktu itu masih membawahi accounting. Pada tahun 2001, ia ditawari menjadi general manager.
?Ketika menjadi GM terasa sekali karena selama ini di belakang meja, tiba-tiba mesti ke depan, ketemu dengan tamu, klien-klien. Itu yang paling kerasa. Saya mesti belajar kalau saya mau maju. Saya tidak boleh memilih-milih pekerjaan. Lulus kuliah, pernah nganggur delapan bulan gara-gara tidak mau bekerja di bank. Dari situ, saya belajar. Saya pun dapat belajar human relationship dan public speaker gratis itu dari tamu,? ungkapnya ke Bernas, Kamis (27/7) di Jogjakarta Plaza Hotel.
Pria yang pembawaannya begitu cair dengan tamu ini berbagi banyak pengalamannya seperti ketika diberikan suatu tugas itu, ia tidak pernah berpikir bahwa ia harus berhasil.
?Saya cuma pikirkan bagaimana caranya memberikan hasil terbaik. Hasil terbaik belum tentu berhasil. Kalau hasil terbaik itu sebagai pencapaian atau prestasi, ya saya bersyukur, tapi kalau itu tidak sesuai harapan, saya harus belajar lebih banyak,? tuturnya dengan serius.
Untuk pengalaman unik selama bekerja di hotel, yang berkesan adalah selalu menghadapi komplain. Istimewanya, komplainnya tidak pernah sama.
?Kita pun dalam menangani komplain itu pun menjadi berbeda karena orangnya berbeda, masalahnya berbeda. Walaupun kadang-kadang ada masalah yang sama, tapi penanganannya bisa berbeda karena orang dihadapi berbeda. Paling seru kalau ada orang komplain mengaku kehilangan barang, padahal tidak ada pembuktian bahwa tamu itu membawa barangnya itu, betul atau tidak. Ini yang paling unik. Kalau komplain service makanan itu kan jelas ada buktinya. Kalau orang bilang, oh saya kehilangan ini. Buktinya mana kamu bawa barang ini. Menyikapinya, kalau kami selalu mengikuti prosedur hotel saja. Kami tawarkan tamunya itu untuk membuat police report karena itu memang standardnya. Setelah itu, baru diadakan investigasi walaupun secara internal, kami memiliki SOP internal. Beberapa orang yang mengaku hilang itu ternyata lupa, seperti nyelip di mobil atau tertinggal di rumah,? bebernya dengan sangat santai.
Dikatakannya, bekerja itu adalah pengabdian. Bekerja di mana pun sama saja. Karena namanya pengabdian maka ia tidak akan pernah mengatakan tidak suka bekerja di hotel, tapi ternyata telah bekerja selama dua puluh tahun.
?Buat saya, satu, bekerja itu pengabdian, dua bekerja itu, pembuktian diri bahwa saya punya kemampuan. Karena itu, saya selalu diledek orang kalau orang lihat CV saya karena CV saya itu cuma satu halaman yang berisi dua perusahaan saja, perusahaan pertama saya kerja dan perusahaan yang sekarang. Buat saya, ketika kita mendapatkan pekerjaan apapun itu, ya kita harus mencintai pekerjaan itu. Saya sudah 20 tahun. Sebagai GM baru 16 tahun,? paparnya.
Ketika menemukan masalah ketika bekerja, ia tidak melihat itu sebagai masalah.
?Saya lebih melihat sebagai dinamika yang mesti disikapi, misalkan kecepatan dalam proses perawatan. Saya tidak melihat itu sebagai permasalahan karena masalah yang paling susah adalah masalah perawatan. Masalah perawatan ini kan tidak hanya menyangkut satu dua orang, kadang melibatkan pihak di luar hotel. Kembali lagi kepada individunya masing-masing ketika dalam menjalankan pekerjaan ini seperti apa maka saya tidak melihat itu sebagai sebuah masalah, tapi sebagai sebuah dinamika yang tinggal bagaimana saya menyikapinya, saya mau bersikap A atau B tergantung dari saya. Misal perawatan kamar, yang harus tetap dirawat dan dibersihkan, kondisi furnitur yang harus selalu baik, AC yang harus selalu berfungsi dengan baik. Airnya, istilahnya tidak boleh terlalu panas atau dingin, bahkan macet. Itu semua harus di-mantainance atau dirawat,? terangnya.
Untuk tantangan ke depan, pengagum sosok orangtua ini menyebut persaingan bisnis bukan main sekarang ini.
?Ambil contoh, misalkan ketika saya menjadi GM waktu itu, persaingan tidak seketat sekarang. Sekarang persaingan sudah bukan lagi horisontal, tapi persaingan sekarang di Jogja ini sudah vertikal. Sudah vertikal sesama bintang empat lagi, tapi kadang-kadang mesti bersaing dengan bintang lima yang menurunkan harga. Persaingan bukan ke samping lagi, tapi ke atas. Yang penting, yang saya pegang teguh adalah saya tidak mau ikut terbawa arus perang harga. Saya tidak mau. Saya memberikan service sesuai yang dibayarkan tamu. Selain service, menjaga kebersihan dan maintanance sehingga kondisi hotel terjaga dengan baik. Jogjakarta Plaza Hotel walaupun sudah 22 tahun, cukup terawat dengan baik. Pertumbuhan hotel di Jogja luar biasa. Kita harus mulai segmented. Saya tidak melihat semua hotel sebagai persaingan. Yang kira-kira segmen marketnya sama dengan saya ini siapa, sesama bintang empat,? jelasnya.
Penyuka dan pengoleksi kain batik ini juga menjelaskan bahwa ia merupakan pribadi yang tidak mau menyimpan ilmunya sendiri.
?Dari dulu, pertama kali bekerja, kemudian beranjak punya karir, saya tidak pernah pelit membagi ilmu saya kepada siapa pun. Saya kadang bilang ke manajer-manajer saya, selama kalian bekerja sama saya, curilah ilmu saya sebanyak mungkin. Buat saya, buat apa juga saya pegang sendiri ilmunya. Saya selalu punya pandangan bahwa ya saya harus membagi ilmu saya kepada siapa pun. Mau tentang marketing, keuangan. Saya punya kemampuan angka yang luar biasa kata manajer-manajer saya. Saya katakan kalian jangan pernah bermimpi punya kemampuan seperti saya kalau kalian tidak memulai belajar. Kalian harus pandai-pandai melihat, ini gimana ilmunya karena ada momen-momen memberikan ilmu itu dengan learning by doing. Mereka harus pandai-pandai melihat bagaimana cara berpikir saya dan bagaimana saya bersikap. Saya tidak mengajarkan kamu harus begini, enggak. Pemikiran dan keputusan itu semua tergantung dari situasi yang dihadapi,? terangnya.
Di hadapan staf dan karyawannya, ia pribadi yang tidak pernah membeda-bedakan, entah itu yang jabatannya manajer atau di bawahnya.
?Tidak pernah membedakan. Silahturami itu kan sama siapa saja. Kalau saya terbuka kepada semua orang. Saya tidak sungkan jika harus mengajarkan ke seorang public area. Tidak sungkan memberikan contoh dan memeriksa hasil kerja mereka seperti apa dan memberikan arahan. Saya tidak mau membedakan termasuk di meja makan, misal ada staf yang bareng makan, lalu menjauh dari meja saya malah saya panggil untuk makan duduk di sebelah saya. Untuk prinsip yang dipegang satu, yaitu kejujuran. Kalau saya salah, saya mesti jujur bahwa saya salah. Dalam bekerja, yang penting kejujuran. Kalau tidak perform, saya akan katakan tidak tidak perform. Saya akan evaluasi kenapa saya tidak perform tanpa harus menutupi hal-hal yang membuat tidak perform. Ya inilah saya dan akan selalu untuk berusaha memberikan yang terbaik,? tukasnya.
General Manager ini pun memberikan inspirasi kepada yang membaca kisahnya ini.
?Kalau pesan saya cuma satu, jangan pernah menyerah apapun kesulitannya, apapun masalahnya. Jalan keluar itu pasti ada, baik itu sebuah masalah yang timbul karena pekerjaan atau kekeliruan kita. Apalagi teman-teman generasi muda itu sekarang nggak sabar, pengennnya loncat. Jangan terus kemudian putus asa. Saya meyakini Yang Kuasa tidak akan memberikan permasalahan di luar kemampuan kita. Dalam bekerja, yang pertama itu kejujuran dan yang kedua, jangan cepat-cepat ingin menduduki atau tergiur sesuatu yang duniawi. Sekarang banyak yang bekerja, baru kerjaannya capek, lalu kok ininya cuma segini. Saya sudah kerja sekian lama, kok saya nggak dapat apa-apa, nggak punya ini. Generasi sekarang inginnya serba instan, tapi ada hal-hal yang tidak instan. Tekuni pekerjaan dengan baik. Cintailah pekerjaan itu dengan baik. Kalau kita bekerja dengan hati, prestasi pun pasti akan datang sendiri. Jangan pernah berlindung di bawah ketidakmampuan dan ketidakmengertian,? pungkasnya.
