HarianBernas.com – Allah Ta?ala berfirman di dalam Al Qur?an, yang terjemahannya: ?Wahai manusia, sungguh Kami ciptakan kalian dari seorang laki-laki dan seorang perempuan. Kemudian Kami jadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kalian saling memahami. Sungguh orang yang paling mulia di antara kalian adalah orang yang paling bersih dari syirik. Sungguh Allah Maha Mengetahui lagi Maha luas ilmu-Nya.? [QS. Al Hujurat (49) : 13]
Dalam konteks ini Rasulullah Muhammad shalallahu ?alaihi wa sallam bersabda, seperti tersebut dalam riwayat berikut, yang terjemahannya:
“Dari Ibnu ?Umar radhiyallahu ?anhuma, bahwasanya Rasulullah Muhammad shalallahu ?alaihi wa sallam menyampaikan pidato yang sangat monumental di hadapan manusia pada hari pembebasan kota Mekkah dari penguasaan kaum Quraisy, beliau bersabda: ?Wahai sekalian manusia, sungguh Allah Ta?ala telah melenyapkan dari diri kalian kebanggaan jahiliyah dan kebiasaan dari kalian mengagung-agungkan kebesaran nenek moyangnya. Sejatinya manusia itu hanya ada dua golongan.
Pertama, yaitu golongan yang baik dan bertakwa, dia-lah orang yang yang mulia menurut pandangan Allah. Kedua, golongan orang yang melakukan kemaksiatan dan mencelakakan dirinya, dia-lah orang yang hina menurut pandangan Allah. Semua manusia itu adalah anak keturunan Adam ?alaihi sallam. Sedangkan Allah Ta?ala menciptakan Adam ?alaihi sallam dari tanah.? [HSR. Imam At-Tirmdzi : 12/96]
Allah Ta?ala juga berfirman pada ayat yang lain, yang terjemahannya:
?Sebagian dari tanda keagungan Allah adalah Allah telah menciptakan langit dan bumi. Juga menciptakan berbagai macam bahasa dan warna kulit. Sungguh penciptaan semua itu sebagai bukti kekuasaan Allah bagi kaum yang mau mendengarkan nasihat.? [QS. Ar-Ruum (30) : 22]
Kebhinekaan adalah sebuah realitas sosial yang tidak dapat dipungkiri oleh siapa pun juga. Mengingkari kebhinekaan berarti menolak kebenaran firman Allah di atas. Apabila hal itu terjadi pada diri seorang muslim, maka pernyataan keimanannya perlu untuk dipertanyakan kembali?? Faktanya, memang tidak ada seorang muslim pun yang mempermasalahkan kebhinekaan. Sebab kebhinekaan adalah sebuah realitas yang terjadi berdasarkan Qudrat dan Iradat dari Allah Ta?ala sebagai salah satu tanda atau bukti dari keagungan dan kebesaran-Nya.
Dalam konteks kebhinekaan ini, sebagaimana keterangan ayat-ayat Al Qur?an dan juga Hadits Rasulullah Muhammad shalallahu ?alaihi wa sallam di atas, maka tidak sepantasnya seseorang merasa dirinya lebih mulia lalu memandang rendah orang lain. Demikian pula sebaliknya, tidak seharusnya seseorang memandang dirinya sendiri lebih rendah dan memandang orang lain begitu superior, sehingga lututnya seolah tidak mampu menopang badannya untuk berdiri tegap di hadapan orang lain. Sikap merasa diri lebih mulia dan memandang rendah orang lain, atau sebaliknya memandang diri sendiri lebih rendah dan memandang orang lain begitu superior adalah sikap yang sangat tercela. Mengapa disebut tercela?
Sebab dengan sikap seperti itu, berarti yang bersangkutan telah merendahkan bapak segala manusia yaitu Nabi Adam ?alaihi sallam dan secara tidak langsung yang bersangkutan juga telah merendahkan Allah Ta?ala yang telah menciptakan Adam ?alaihi sallam dengan kedua belah tangan-Nya. Lalu memberikan kedudukan yang sangat mulia dan istimewa kepada Adam ?alaihi sallam di atas makhluk-makhluk Allah Ta?ala lainnya.
Segala macam sebutan dan atribut yang disandang seseorang, sejatinya semua itu sekedar sarana baginya untuk menunjang tugas dan fungsinya sebagai hamba Allah di dunia ini. Adakah dia menggunakan segala macam sebutan dan atribut yang disandangnya itu untuk mengerjakan perbuatan-perbuatan baik dan terpuji serta mendekatkan dirinya kepada Allah Ta?ala, sehingga dia menjadi orang yang mulia menurut pandangan Allah?? Atau sebaliknya, dia menggunakannya untuk melakukan kezhaliman, kemaksiatan dan perbuatan tercela lainnya yang menjauhkannya dari Allah Ta?ala (berkhianat kepada Allah), sehingga dia menjadi pelaku maksiat yang celaka, maka jadilah dia orang hina menurut pandangan Allah Ta?ala.
Bersambung ……
Oleh: Hasyim Abdullah
- Direktur Pusat Studi Hadits dan Pemberdayaan Masyarakat kecil ?Daarus Sunnah? Yogyakarta
- Sekretaris Bidang Pemberdayaan Masyarakat Forum Kerukunan Umat Beragama DIY periode 2014 -2019
- Anggota Ikatan Keluarga Alumni Lemhannas (IKAL) DIY periode2017 -2022
- Aktivitas keseharian adalah sebagai penulis buku dan praktisi Dakwah Islamiyah
