Bernas.id – Nanang Hernanto sejak sekolah memang seringkali berkecimpung di bidang pelatihan dan pendidikan. Ketika SMA dulu, ia pernah menjadi pembina pramuka di SMPnya. Waktu kuliah, pernah jadi asisten dosen. Kemudian ketika lulus kuliah, ia juga sempat tiga tahun bekerja di sebuah yayasan pendidikan musik vokal ?Bina Vokalia? (Pimp. Alm Pranadjaja).
?Sampai akhirnya, saya direkrut oleh sebuah perusahaan multinasional di bagian Marketing, di sana pun saya sering kali diminta untuk memberikan sesi training untuk para karyawan yang membutuhkan. Dan akhirnya saya 100% menggeluti bidang Training and Development di perusahaan tersebut. Saya berkarier di sana selama 23 tahun. Motto saya, Train with Fun, Write with Fun, Volunteering with Fun. Training adalah pekerjaan saya. Writing adalah salah satu hobi saya. Volunteering adalah salah satu kegiatan penyeimbang hidup saya. Semua itu harus dilakukan dengan RIANG penuh rasa SYUKUR! sebagai wujud pengabdian tanpa syarat kita kepada ALLAH yang maha penyayang,? ungkapnya ke Bernas.
Dikatakannya, sebagai seorang trainer/fasilitator, alumni Institut Pertanian Bogor (IPB) ini telah banyak melakukan training, pelatihan, workshop yang dilakukan secara terbuka untuk publik ataupun yang dilakukan untuk in house training internal pada sebuah perusahaan. Ia pernah dipercaya untuk menjadi Certified Trainer dan mengajarkan modul-modul khusus internal di beberapa perusahaan afiliasi di negara lain, di tingkat regional Asia Pasific.
Saat itu, pesertanya adalah para karyawan afiliasi perusahaan di beberapa negara Asia Pasifik. Setengah bercanda, dalam hati ia berkata, ?Orang Indonesia bisa juga lho jadi trainernya orang asing. Untuk pengalaman berkesan, saya pernah berkendara lewat jalan darat sendirian, menyetir sendiri dari kota Surabaya, Jawa Timur sampai Padang Sidimpuan di Sumatera Utara. Ada banyak hal yang saya temui dan pelajari selama perjalanan tersebut. Salah satunya adalah sempat berinteraksi sejenak dengan Suku Anak Dalam di Propinsi Jambi,? tuturnya.
Ketika ditanya alasan terus menekuni bidang pekerjaan sampai sekarang, penyuka hobi bermain musik ini menyebut bahwa merasa bahagia dan merasa berarti jika sudah berdiri dan bicara di depan kelas memberikan session dan sharing pengetahuan tentang apa saja yang diketahuinya. ?Untuk permasalahan yang paling sering dihadapi, tepatnya mungkin bukan masalah, tetapi sebuah tantangan. Saya sering diminta untuk mengisi materi di sebuah perusahaan yang saya belum tahu ?nature? bisnisnya. Saya juga mengajar kelas publik. Kelas publik itu terdiri dari para karyawan dari berbagai macam industri sehingga tantangannya adalah bagaimana dalam tempo yang singkat saya harus mengumpulkan informasi data dan juga seluk beluk bisnis dari perusahaan-perusahaan tersebut agar training dan contoh-contoh kasus yang saya berikan relevan untuk pekerjaan mereka. Salah satu cara lain untuk menyikapinya, selain mencari informasi melalui sumber-sumber terpercaya, internet, mass media, buku dll) adalah dengan meminta para peserta untuk memperkenalkan diri dan menceritakan tentang seluk beluk bisnis yang mereka tekuni. Dengan demikian, wawasan saya semakin bertambah,? bebernya.
Selain tantangan yang ada, mantan Manager Marketing Training ini menyebut bahwa harus senantiasa update dengan perkembangan bisnis yang ada. ?Update dengan metode dan teknologi belajar mengajar yang ada. Bahkan saya juga harus up date dengan ?trending topics? saat ini seperti jokes, gosip, sosial media, pesohor, dan sebagainya. Trainee saya terdiri dari berbagai macam generasi. Ada generasi baby boomers. Ada pula generasi millenials. Tentu memerlukan kepiawaian dan keluwesan tersendiri untuk bisa masuk ke pola pikir mereka dan ini sangat menarik, bak bicara dengan anak sendiri,? paparnya.
Blogger ini pun meyakini bahwa bidang pekerjaan yang digeluti ini penting dilakukan dan dibagikan kepada masyarakat. ?Pada dasarnya setiap orang bisa menjadi trainer atau fasilitator. Paling tidak untuk masyarakat di sekitarnya, bahkan lingkungan yang paling kecil sekalipun, yaitu keluarga. Manusia adalah makhluk pembelajar. Kita bisa belajar apa pun, dari siapa pun, kapan pun, dimana pun.
Seberapa pun. Alangkah indahnya jika setiap anggota masyarakat bisa sharing pengetahuan apa saja yang mereka tahu. Mengaji, berbisnis rumahan, melipat hijab, kiat hemat bensin, beternak ?love bird?, bahkan cara mendaur ulang sampah dan sebagainya,? terangnya.
Untuk habit khusus yang dibangun selama ini, volunteer ini selalu berusaha untuk membaca buku, walaupun hanya satu lembar atau dua lembar saja setiap hari. Selain itu, ?mengintip? sosial media sebentar untuk lebih up date dengan hal-hal yang sedang trending saat ini. Baginya, ini berguna untuk bahan jokes/intermezzo saat di kelas.
?Untuk mengembalikan mood Anda agar kembali bersemangat bekerja, saya berusaha rutin untuk mengikuti program menjadi relawan pengajar pada Kelas Inspirasi, Indonesia Mengajar. Ini penting untuk keseimbangan hidup profesional saya. Saya mengajar anak-anak SD negeri sederhana di beberapa kota, bergembira, menghibur dan memberikan motivasi agar mereka tetap optimis dan selalu giat belajar untuk mencapai cita-citanya. Bahwa setiap anak Indonesia berhak untuk bermimpi dan meraih cita-citanya tersebut dengan gembira (tanpa dibayar!). Setiap saya pulang dari acara menjadi relawan di program tersebut, saya selalu menjadi lebih bersemangat lagi berkarya. Melihat kondisi anak-anak di SD negeri sederhana itu membuat saya membuka mata, membuka hati, bahwa saya adalah orang yang sangat beruntung dan harus senantiasa pandai bersyukur,? katanya.
Lingkungan diakuinya memengaruhinya sehingga menjadi seperti sekarang ini. Ia terlahir dari keluarga pendidik, (alm) Bapak saya adalah seorang dosen sementara ibu saya adalah seorang guru SMA. Baginya, mungkin merekalah yang secara langsung ataupun tidak langsung membentuknya menjadi seperti yang sekarang ini seperti ia ingat sekali salah satu cita-citanya ingin menjadi guru. Trainer ini memberikan inspirasi dan sarannnya kepada orang lain yang membaca kisahnya ini. ?Satu hal saja yang ingin saya sampaikan. Kebahagiaan yang paling tinggi adalah ketika kita bisa bersyukur kepada ALLAH dengan cara berbagi pengetahuan kepada sesama. Untuk saran agar meraih kesuksesan, hanya tiga: bersyukur, belajar, dan berbagi,? ucapnya.
Penyuka hobi menulis ini membocorkan rencana dalam waktu dekatnya dan impiannya ke depan. ?Untuk project, saya berusaha senantiasa menjaga skor Customer Satisfaction Index di setiap evaluasi training yang saya fasilitasi agar tetap maksimal. Agar para perusahaan yang menggunakan jasa saya terpenuhi dan terpuaskan kebutuhan dan keinginannya dan repeat order, tentu saja. Untuk impian terbesar ke depan, sederhana saja, bisa diundang dan dipercaya memfasilitasi training, mengajar, dan sharing pengetahuan di kota-kota lain di Indonesia,? pungkasnya.
