Bernas.id – Dra. Sumarlina, MM memulai karier di Radio RepubIik Indonesia (RRI) sejak tahun 1979 sebagai penyiar honor dengan gaji Rp. 5.000 di RRI Sumenep, ujung timur Pulau Madura. Dengan ketekunan, semangat, keuletan, dan kesetian yang tinggi terhadap lembaga, akhirnya jenjang karier dicapai tahap demi tahap dari tingkat kasubsi, kasi di RRI Sumenep, sebagai Kepala Bidang di RRI Jakarta, kemudian menjabat Kepala RRI sejak tahun 2010 dari Jember (2010 -2011), Gorontalo (2012-2014 ), Makassar (2014-2015), Pekanbaru (2015-2016), dan Yogyakarta (Oktober 2016 – sekarang).
Pengalaman menjadi penyiar, produser siaran, dan penulis naskah serta sebagai marketing, menjadikan dirinya semakin matang dalam mengendalikan lembaga. Dari perjalanan panjang menjalankan tugas yang paling berkesan menurut beliau adalah saat menjadi penyiar, sebab seorang penyiar dianggap orang yang serba tahu dan bisa.
?Jadi penyiar harus terus belajar dan tidak ketinggalan informasi apapun. Penyiar harus tampil tetap bahagia melayani pendengarnya. Paling bahagia karena banyak penggemar,? ungkapnya ke Bernas, Jumat (8/9).
Ia pun menyebutkan kriteria tentang penyiar yang baik, yaitu penyiar yang bisa mengadaptasi dirinya dengan pendengarnya.
?Memposisikan dirinya dan pendengar sama, tidak menggurui. Paham pendengarnya itu siapa, di mana, dan bagaimana. Jadi, penyiar harus bisa beradaptasi pula dengan pendengarnya seperti apa kalau siaran pagi. Siang atau malam, harus menyesuaikan dengan kondisi pendengar pada waktu itu. Seorang penyiar itu harus betul-betul memahami siapa pendengarnya yang dihadapi atau segmen utamanya. Untuk itu, penyiar harus dapat mengikuti perkembangan baik itu ekonomi, seni, budaya, politik, pebdidikan, hiburan, dan semacamnya. Seorang penyiar harus banyak membaca, banyak melihat, dan banyak mendengar sehingga kemampuan dirinya bisa diasah terus-menerus dari berbagai media. Bukan berarti media yang lain tidak bisa ditiru lho. ATM kalau istilah saya, Amati, Tiru, dan Modifikasi sehingga penyiar bisa berkembang dan berinovasi,? paparnya.
Untuk permasalahan yang paling sering dihadapi dalam pekerjaannya, ia menyebut tentang persaingan media sangat pesat, euforia media sangat pesat, baik secara konvergensi media maupun dengan adanya media sosial.
?Anak-anak muda, bahkan balita sudah bermain gadget. Itu tantangan bagi RRI, bagaimana, mengembangkan, melakukan perubahan-perubahan sehingga publik RRI bisa disasar, bisa diakses oleh seluruh lapisan masyarakat. Oleh sebab itu, RRI yang memiliki beberapa programa, katakanlah itu stasiun seperti programa 1, 2, 3, 4, bahkan chanel-chanel yang lain. Kalau Jogja hanya sampai Programa 4. Itu tujuannya adalah menyasar semua segmen yang ada. Programa 1, pusat siaran pemberdayaan masyarakat, programa 2, sebagai pusat siaran kreatifitas anak muda, programa 4 sebagai siaran pendidikan dan kebudayaan,? terangnya.
Dikatakannya, RRI kini tidak hanya melalui siaran konvensional melalui radio saja, tapi kini sudah melalui audio streaming.
?Jadi RRI Play (sebuah aplikasi), asal pakai Android, bisa didengar di seluruh dunia. Bisa diakses di mana saja. Ini merupakan suatu perkembangan dari RRI untuk mengikuti konvergensi perkembangan media dan perkembangan IT agar masyarakat bisa mendengar RRI di mana saja. Itu dari segi peningkatan pelayanan publik. Dari segi konten, RRI sudah melakukan upaya-upaya inovasi, diperbanyak non air, misal pertunjukan yang langsung disiarkan. Yang paling dekat tanggal 23 September, ada Konser kebangsaan di UGM. Tujuannya, menanamkan rasa kebangsaan dan nasionalisme yang tinggi di kalangan anak muda karena Yogyakarta sebagai sebagai pusat pendidikan. Mempertemukan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi dan kawula muda yang ada di Jogja untuk sama-sama menonton hiburan yang sehat. Untuk mengikuti perkembangan-perkembangan yang ada karena pesaing kita, media sosial, media visual, RRI tidak hanya bisa didengar, tetapi juga bisa ditonton melalui youtube atau melalui RRInet. Semua kehidupan ini pasti ada tantangan, misal dari segi SDM dan infrastruktur,? urainya.
Untuk pencapaian yang membahagiakan, menjadi penyiar yang dicintai fansnya itu adalah kenikmatan yang luar biasa yang dirasakannya karena saking cintanya kepada penyiar, kadang lupa waktu, misal ketika ada penyiar yang dicintainya siaran, tidak boleh tidak harus ada di depan radio. Sekarang juga seperti begitu juga, bagaimana seorang penyiar itu dapat dicintai oleh pendengarnya sehingga tidak akan lari dari frekuensi yang didengar itu. Ia pun membagikan inspirasinya kepada orang yang membaca kisahnya ini.
?Kami mengharapkan masyarakat harus cerdas untuk memilih media untuk ditonton, didengar, dan dibaca. Memilih informasi itu harus cerdas karena informasi itu sangat berpengaruh kepada diri kita, diri bangsa, dan negara. Oleh sebab itu, jadilah pelopor yang bermartabat dan berbudi luhur dengan mendengar dan berbicara di RRI,? tukasnya.
Untuk project terdekat, Kepala RRI Yogyakarta ini menyebut tentang pembenahan infrastruktur. ?Saya ingin membenahi infrastruktur di RRI Jogja, yang sudah lama tidak melakukan perawatan. Membenahi infrastruktur di bidang kekuatan pelayanan publik dari segi pemancar dan SDM untuk peningkatan kualitas. Dari segi konten Programa, kami akan melakukan inovasi-inovasi terutama di Pro 4, ada istilah redesain Pro 4 sehingga menjadi radio publik yang didengar anak-anak muda. Karena transfer knowlegde dengan budaya dan budi luhur harus dimulai dari remaja dan anak-anak. Untuk impian terbesar ke depan, RRI terus eksis menjadi milik publik, menjadi milik negara, dan mempunyai kekuatan dari segi kelembagaan karena terus-terang saja, RRI sekarang masih dalam proses untuk dijadikan lembaga penyiaran publik bersama TVRI menjadi RTRI (Radio Televisi Republik Indonesia). Jadi, kami berharap mudah-mudahan RTRI undang-undangnya cepat selesai sehingga RRI dan TVRI menjadi lembaga yang kuat, saling berkolaborasi dari segi konten dan infrastruktur sehingga ada efisiensi dari dua lembaga ini,? pungkasnya.
