Bernas.id – Dra Hj Marthia Adelheida menceritakan perjalanan kehidupannya yang istimewa. Pada awalnya, ia merupakan orang yang bekerja di belakang meja bagian Administasi. Tugasnya mengirim orang sekolah keluar negeri atau bila ada kursus atau seminar akan ditanganinya dengan dibantu 3 orang rekannya di bagian administrasi. Nah, ketika melakukan kampanye saat pencalonan, ia pun memulainya dari awal.
?Waktu kampanye itu, saya nol. Saya tidak tahu caranya ngomong atau apapun karena biasanya hanya mengurus administrasi. Suami saya sendiri pun waktu saya maju khawatir, bisa nggak ya dapat 500 suara. Ternyata Alhamdullillah, saya mendapat sebelas ribuan suara. Di situlah dari orang yang tidak tahu, yang tugasnya hanya mengurus administrasi, tiba-tiba terjun ke masyarakat mencari suara. Di situlah saya ternyata bisa dan suami saya mengakui ternyata istrinya juga bisa mencari suara. itulah yang membuat saya pesimis dari tidak bisa ngomong sama sekali ketika berhadapan dengan orang walaupun orang di konsituen, tiba-tiba mencari suara mendekati masyarakat. Saya merasa kaget karena suara saya bisa diterima dari orang yang tidak tahu apa-apa bisa berubah drastis,? ungkapnya ke Bernas.
Beliau menyampaikan. ?Saya merasa setiap bertemu dan berkunjung dengan konsituen, saya merasa tersentuh karena tidak semua orang-orang itu beruntung. Jadi, uang itu sangat berharga bagi mereka, sepuluh ribu itu sangat penting dan sulit sekali mencari uang itu. Jadi, saya juga tidak heran, kalau kita tidak ada pendekatan dengan masyarakat maka orang hanya akan tertarik ke uangnya daripada memilih kualitas orangnya karena mereka sangat butuh sekali memenuhi kekebutuhan hidup, terutama perut itu. Tapi lama-lama saya mendalami dan akhirnya mereka paham. Dari pengalaman-pengalaman sepeti itu, saya tahu masyarakat kita itu masih banyak sekali yang membutuhkan dan belum beruntung. Itu yang membuat saya tergugah maka saya selalu siap pada saat mereka membutuhkan,?bebernya.
Anggota Komisi B DPRD DIY ini menceritakan permasalahan yang paling sering dihadapi dalam pekerjaannya. ?Saya masih belum bisa memenuhi keinginan mereka dan itu membuat saya menjadi sedih, paling tidak bisa memberikan pegangan atau harapan untuk mereka. Kalau di jalan dan bertemu mereka, ya saya jawab kalau saya belum bisa memenuhi kebutuhan mereka itulah kesedihan saya. Untuk menyikapinya, saya memberikan semangat ke mereka dengan selalu mengunjungi mereka terus. Tahap-tahap inilah bisa dilakukan karena banyak sekali keluarga yang mengalami kesulitan, bukan dalam kesulitan ekonomi saja, tapi juga kesulitan rumah tangga karena mereka juga sering curhat atau konsultasi kepada saya. Saya berusaha memberikan masukan, pandangan, sampai semangat mereka muncul kembali,? paparnya.
Perempuan kelahiran Padang ini memberikan inspirasi dan sarannya kepada orang yang membaca kisahnya ini. ?Sebagai perempuan biarpun berkarir, apapun karirnya, dia tetap ibu rumah tangga. Dia harus kembali ke rumah tangga. Jadi, yang utama itu rumah tangga. Jangan sampai ini dilupakan. Mengejar karir oke, tapi keluarga menjadi hal yang paling utama. Karena apapun itu, sampai kapan pun, kita pasti akan kembali kepada keluarga. Teman, kantor, ataupun rekan itu hanya sementara. Kita pasti akan kembali kepada keluarga. Bila kita meninggal, orang yang akan mengingat kita adalah keluarga untuk selamanya. Itu yang utama. Untuk saran meraih kesuksesan, tidak boleh sombong, apapun kedudukan kita. Ke mana pun kita berada sesuaikan dengan lokasi tempat kita berada supaya orang merasa nyaman dan tidak ada gap. Seperti istilah orang Minang, ?Di mana bumi dipijak di situ langit di junjung. Orang tua saya menerapkan seperti itu. Apapun itu kita tidak boleh sombong,? jelasnya.
Penyuka hobi jalan-jalan ini rupanya membangun kebiasaan khusus untuk mendukung pekerjaannya. ?Kita harus rajin dan rutin untuk ketemu dengan masyarakat supaya tidak melupakan kita. Saya menjalin hubungan silahturahmi karena saya selalu sampaikan ke konsituensi bahwa silahturahmi itu harus tetap terjalin supaya di mana pun berada harus tetap menyapa. Saya sangat berterimakasih bila masyarakat selalu mengingat saya. Jadi, kita harus menghargai orang lain walaupun apapun pendapatnya. Saya ajarkan kepada banyak masyarakat bahwa kita lebih harus menghargai diri kita sendiri dan itu kita terapkan supaya kita dihargai orang lain. Jadi, orang lain juga menghargai kita dan jangan kita meremehkan. Kadang-kadang kita melihat orang itu dari penampilan. Menghargai orang itu lebih penting. Menghormati bukan berarti takut, tapi lebih pada hubungan ke manusianya,? urainya.
Ibu dua orang anak ini membocorkan rencana dalam waktu dekatnya dan impian terbesar ke depannya. ?Segala kegiatan dewan akan saya sampaikan kepada masyarakat. Saat ini sedang membahas anggaran 2018. Nah hasil dari itu akan saya sampaikan kemasyarakat tentang program-program Pemerintah yang masyarakat perlu ketahui. Ini adalah akses dan bisa dimanfaatkan. Untuk impian besar ke depan, untuk kaum perempuan, jangan ragu-ragu untuk terjun ke politik karena perempuan itu kalau ingin maju, jangan alergi pada politik, tergantung bagaimana kita menyikapinya. Semakin banyak perempuan-perempuan Jogja yang maju di anggota legislatif akan semakin bagus karena supaya imbang. Saat ini, perempuannya hanya tujuh orang, jadi tidak seimbang. Bagi perempuan-perempuan, bagaimana karir tetap maju, tapi keluarga tetap menjadi suatu yang utama,? pungkasnya.
