Bernas.id – Zaman millennial ini, tak dimungkiri banyak orang bergelut dalam dunia yang mengharuskannya update. Entah update informasi, update berita dan update kebutuhan hidup. Untuk hal yang disebutkan terakhir, sayanganya melenakan. Terkadang kebutuhan hidup membuat para ibu dan ayah berjuang mati-matian untuk memenuhinya. Seperti yang kita tahu, kebutuhan hidup terbagi menjadi kebutuhan primer, sekunder dan tersier. Kebutuhan sekunder dan tersierlah yang membuat para manusia berlomba-lomba memenuhinya dengan cara menambah ladang rezeki. Bagi para orang tua, kebutuhan si kecil menjadi alasan dirinya bekerja sampai titik darah penghabisan. Apakah salah? Tentu tidak. Namun, memperjuangkan pekerjaan tidak ada habisnya jika tidak diimbangi dengan waktu untuk anak. Hal itu akan menyebabkan anak menjadi asing terhadap orang tuanya.
Belum paham sampai sini? Let me tell you. Anak-anak akan menikmati indahnya dunia ini bila ada perhatian dari keluarganya, khususnya ayah dan ibunya. Orang tua adalah rumah pertama bagi anak. Semakin dekat anak dengan orang tua, semakin bahagia mereka. Masa kerja ayah ibu di luar rumah sekitar 8 jam (aturan perusaahan pada umumnya). Pekerjaan-pekerjaan tersebut akan menyita waktu dan mengalahkan hak anak untuk diperhatikan.
Dalam tahapan mendidik anak teladan Rasulullah, disebutkan bahwa orang tua bisa bercengkerama dengan anak memakai ?lidah dan mulut?. Maksudnya, ayah atau ibu bisa memakai teknik membersamai anak dengan menjulurkan lidah agar anak tertawa atau bercerita (mulut). Cara tak tertolak mendidik anak merupakan salah satu teknik lidah dan mulut tadi, yaitu bercerita. Orang tua berperan sebagai pembaca cerita bermuatan pendidikan dan anak sebagai pendengar. Bisa sesekali anak memberikan tanggapan atas cerita tersebut. Jika anak sudah mampu membaca, anak bisa bergantian membacakan buku dan orangtua sebagai pendengar dan penyeimbang.
Dekat dengan anak tak selalu meluangkan seluruh waktu untuknya. Teknik 3A dapat menjadi cara mendampingi tanpa membuat pekerjaan terbengkalai. Keluarga merasa diperhatikan, khususnya anak. Tiga A ini adalah, Atur Waktu, Atur Jadwal dan Atur kebiasaan. Lalu, bagaimana penerapannya? Mengatur adalah menyusun sesuatu menjadi teratur. Harapannya, waktu, jadwal dan kebiasaan yang teratur akan menghasilkan pola yang terus berputar dan berkelanjutan. A yang pertama adalah mengatur waktu antara waktu di rumah dan waktu di luar rumah. Waktu di rumah bisa dibagi lagi menjadi waktu untuk beribadah, waktu untuk diri sendiri, waktu untuk suami/istri, waktu untuk anak dan lain sebagainya. Dengan waktu yang diatur, maka akan ada prioritas. Kapan harus memutuskan waktu yang dipakai untuk hal A, B dan C, misalnya.
A kedua adalah mengatur jadwal. Setelah kita mengatur waktu dan menemukan prioritas, maka terbentuklah susunan kegiatan. Kegiatan-kegiatan tersebut bisa dimasukkan ke dalam daftar dan diberikan kisaran lamanya kegiatan tersebut. Misalnya, Ayah berangkat ke kantor dari jam 8.00 sampai jam 16.00. Dari jam 17.00 sampai waktu solat Magrib, Ayah bermain dengan anak dan seterusnya. Untuk A yang terakhir adalah atur kebiasaan. Untuk mengatur kebiasaan, 2A sebelumnya sudah memandu kita melakukannya. Setelah waktunya teratur dan jadwal dibuat, maka kebiasaan akan terjaga setiap harinya. Kekonsistenan mematuhi jadwal yang telah dibuat adalah kunci kebiasaan terlaksana.
Sebenarnya tak ada alasan untuk anak menjadi asing dengan orang tuanya bila memang 3A tadi dilakukan. Anak yang dekat dengan orang tua membuatnya percaya diri, menjadi pribadi yang terbuka dan mengembangkan kreativitas. Orang tua yang dekat dengan anaknya pun, tak perlu selalu was-was akan pergaulan dan apa yang dilakukan anak. Karena tanpa diminta, anak akan bercerita di waktu-waktu yang telah dibiasakan dalam jadwal. Tapi tentunya, 3A ini wajib ditambah dengan selalu meminta dan tawakkal kepadaNya. Faktor ini menambah kesuksesan kita untuk dekat dengan anak, membuatnya tak asing dengan kita. Guru pertamanya.
