Bernas.id – Berkembangnya tekonologi, terkadang menyurutkan langkah para anggota keluarga untuk melakukan kebaikan. Hal yang instan dan kehidupan yang selalu berkecukupan, membuat malas seseorang melakukan sesuatu, contohnya berbuat baik. Berbuat baik bisa berupa hal kecil, misalnya membuang sampah sobekan kemasan makanan yang ukurannya kecil. Kebiasaan adalah pengulangan kegiatan yang dilakukan secara konsisten. Bisa karena dipaksa pada awalnya atau dibuat semacam permainan. Untuk opsi kedua, anak-anak akan lebih tertarik karena memang dunianya masih bermain.
Anak-anak yang dibiasakan berbuat baik, akan menumbuhkan pemuda sang agent of change. Sesuai dengan apa yang diharapkan untuk mengubah negeri ini. Sering melihat moral para pemuda sekarang yang menyimpang? Seperti itulah kekhawatiran orang tua pada anaknya. Namun, terkadang orang tua kurang tanggap membuat sesuatu yang ?wah? untuk membiasakan hal kecil pada anak-anaknya. Kepekaan membuat sesuatu, bisa membuat orang tua mengembangkan ide tentang suatu proyek bersama anak-anak. Yang mana proyek tersebut selain menyenangkan juga dapat menelusupkan kebiasaan, serta membuat anak mulai mencipta. Mengembangkan ide, membuat rencana, lalu menentukan kegiatan dari rencana.
Nah, salah satu proyek keluarga ini bisa diambil dari tema kebaikan. Proyek Panglima Kebaikan namanya. Panglima kebaikan di sini adalah pemimpin diri sendiri (anak, orang tua dan anggota keluarga yang satu atap) untuk melakukan kebaikan setiap harinya dengan mencatatkan di buku pribadi atau daftar kebaikan. Daftar itu kemudian ditempel di tembok Kebaikan, dimana kebaikan itu bisa berupa bangun pagi waktu subuh, membersihkan tempat tidur, menyiram tanaman atau solat tepat wakktu. Kebaikan ini bisa ditentukan sendiri oleh anggota keluarga sesuai apa yang ingin dicapainya.
Proyek keluarga ini bisa dilakukan setiap hari. Dimulai dari diskusi keluarga tentang hal apa yang bisa dilakukan anggota keluarga dan bermanfaat baginya. Bisa juga dengan apa yang ingin dicapai dalam seminggu pertama. Ayah atau Ibu pun bisa memancing anak untuk memberikan contoh-contoh kebaikan yang pernah ditemuinya, lalu tanyakan, bagaimana perasaan anak tersebut jika melihat orang lain berbuat kebaikan. Hal ini bisa dijadikan motivasi bagi anak-anak.
Panglima kebaikan bertugas mengawal dirinya sendirii, baik itu orang tua, anak-anak dan kakek/nenek atau paman/bibi yang tinggal seatap. Jadi semua anggota keluarga memiliki peranan penting terhadap dirinya sendiri dan bertanggung jawab atas diri sendiri. Jika ada rencana yang tidak dilakukan, anggota pun menghukum dirinya sendiri dengan hal yang telah disepakati bersama. Proyek ini membuat anggota keluarga terbiasa dengan waktu yang diisi oleh kebaikan-kebaikan secara konsisten.
Untuk lebih jelasnya, proyek panglima kebakan bisa dijabarkan dengan detail dalam poin-poin ini.
- Pilih waktu diskusi antar anggota keluarga (sebaiknya saat anggotanya lengkap). Orang tua mengawali pembicaraan dengan ana, lalu mendiskusikan tentang proyek kebaikan tiap harinya.
- Anak diajak serta menetukan daftar kebaikan apa saja yang akan dilakukan tiap harinya/apa yang ingin dicapainya.
- Semua anggota keluarga membuat daftar kebaikan dan dibuatkan jadwal harian
- Agar lebih menarik, jadwal bisa diisi dengan stiker bintang untuk kolom kebaikan yang terlaksana
- Jangan lupa menyiapkan hukuman positif jika ada yang melanggar salah satu daftar kebiaikan. Hukuman positif bisa berupa kebaikan lain, misalnya membuat camilan sore hari.
- Setiap minggu adakan evaluasi tentang perkembangan proyek panglima kebaikan. Semua anggota keluarga diberikan kesempatan untuk menyampaikan saran, kritik, dan tambahan daftar untuk minggu depan.
Nah, sudah terbayang kan bagaimana proyek panglima kebaikan itu? Proyek ini bisa jadi dilakukan dengan tema yang lain. Ajak anak untuk berdiskusi aktif dengan ide-ide awal yang unik, seperti ?panglima? kebaikan ini. Anak biasanya lebih tertarik dengan hal-hal yang unik dan belum diketahuinya. Yuk, menjadi bagian generasi kreatif dan mulai berbuat baik.
