Bernas.id – Bersaing di abad ke 21 ini, kita harus membekali anak dengan kemampuan bernalar dalam bidang matematika dan sains, karena kedua bidang inilah yang nantinya akan banyak dibutuhkan di dunia kerja. Kita tidak perlu membeli peralatan mahal seperti yang tersedia di laboratorium atau peraga ilmiah yang berharga mahal. Sebagai orang tua, kita bisa membekali anak dari pembelajaran di rumah dari kegiatan yang kita lakukan sehari-hari, menelaah kegiatan tersebut secara ilmiah dan logika matematis. Salah satu kegiatan yang sering kita lakukan dan sarat dengan muatan sains dan matematika adalah memasak.
Muatan Sains dalam Memasak
Secara tidak langsung, saat kita memasak, kita sebenarnya sedang melakukan praktek kimia, terutama yang berkaitan dengan sifat dan perubahan bahan. Anak bisa membedakan antara bentuk senyawa seperti gula dan air yang bisa digabung menjadi satu campuran berupa larutan manis. Anak juga bisa membedakan antara larutan yang kental dan encer. Anak juga bisa membedakan antara bahan masakan yang padat (seperti tepung, garam, gula) dan yang bentuk cair (seperti cuka, minyak, kecap). Kemudian, saat kita mulai memanaskan air, dapat dijelaskan bagaimana panas dari api kompor merambat ke panci. Panas itu lalu berpindah ke molekul-molekul di dalam air dan akhirnya saat semua bagian air panas, maka air akan mendidih. Kita dapat menempatkan termometer ke dalam panci untuk menunjukkan bagaimana suhu akan naik saat air akan mendidih.
Selain kimia, kita juga bisa memperlihatkan tentang teori fisika, terutama yang berkaitan dengan pesawat sederhana. Banyak peralatan dapur yang didesain dengan prinsip pesawat sederhana. Seperti saat kita menggunting bahan, bisa kita jelaskan bahwa otot jari tangan yang memegang gunting merupakan tenaga atau kuasa, sementara barang yang akan digunting merupakan beban. Posisi tuas atau baut yang mengikat dua sisi gunting berada di antara jari kita dan beban. Kita bisa membedakan dengan pemecah kacang, di mana beban atau kacang berada di antara ujung tuas dan tempat tangan memegang. Kita juga bisa menjelaskan tentang tumbukan, saat kita mengerahkan tenaga memotong daging.
Kalau tadi kita sudah bahas bagaimana mengajarkan fisika dan kimia, maka kita juga bisa mengajarkan biologi. Kita bisa menunjukkan perbedaan tekstur dan struktur buah dan sayur. Kita bisa menjelaskan proses fotosintesis dan klorofil yang bisa membuat daun berwarna hijau. Kita bisa menjelaskan beda anatomi tubuh ikan dan unggas, juga hewan laut seperti udang, cumi-cumi dan kerang. Tak kalah penting, kita bisa mengajarkan makanan apa saja yang termasuk 4 sehat 5 sempurna.
Muatan Matematika dalam Memasak
Tidak hanya belajar sains, memasak juga mengajarkan anak belajar matematika. Anak bisa belajar menimbang dan mengerti satuan berat seperti ons, gram dan kilogram. Anak juga akan melihat bahwa untuk barang yang cair, kita akan mengukur dengan gelas takar dengan satuan liter, mililiter atau cc (centimeter cubic). Satuan panjang juga biasanya dipakai untuk memotong bumbu dan sayur. Kemudian, anak juga akan belajar berbagai macam bentuk geometri potongan buah, seperti potongan dadu, segitiga, atau balok.
Selain itu, anak juga belajar perbandingan lurus dengan menghitung berapa banyak bahan yang diperlukan bila ingin membuat makanan untuk banyak orang. Tentunya dengan menggunakan rasio resep awal. Lalu, saat menghidangkan makanan, anak bisa belajar pembagian dan memastikan setiap anggota keluarga mendapatkan jatah yang sama. Bila makanan berlebih, maka anak akan melihat ada sisa, seperti yang biasa dipelajari di materi pembagian.
Tentu saja, mengingat banyak benda tajam di dapur, kita harus selalu mengawasi anak selama mereka memasak sekaligus belajar sains dan matematika. Di samping belajar matematika dan sains, anak juga menstimulasi kemampuan motoriknya untuk menulis dengan gerakan meremas adonan, memegang pengaduk, dan menahan sayur saat dipotong. Dengan memasak, sekali beraktivitas anak tambah pintar, dan tentunya pembelajaran diakhiri dengan makan enak. Sedap, bukan?
