Bernas.id – Kesuksesan seseorang menjadi pebisnis, bukan seperti bermain sulap yang bisa diraih dalam sekejap. Di balik kesuksesanya, tentu terdapat perjuangan dan dedikasi yang luar biasa untuk mewujudkan impian bisnisnya hingga tercapai. Ada beberapa karakter yang membuat seseorang bisa menjadi pebisnis yang sukses, di antaranya adalah jeli melihat peluang, pemimpi, unik, kreatif, tahan banting, dan sebagainya. Dalam tulisan ini, akan dikupas tentang bagaimana kita bisa menanamkan jiwa pebisnis itu kepada anak dan dari mana memulainya.
1. Jeli Melihat Peluang
Sesuatu yang muncul akan menjadi peluang, bila kita memiliki kapabilitas dan konektivitas untuk menjalankan peluang tersebut. Misalnya, ada peluang bisnis kuliner, kita tidak bisa memasak atau kenal dengan seseorang yang bisa memasak, tentu peluang itu akan lewat. Meningkatkan kapabilitas anak bisa dilakukan dengan mengajarkan untuk selalu produktif bukan konsumtif. Coba kita amati apa yang menjadi kelebihan anak kita, lalu diskusikan apa yang bisa mereka lakukan untuk memproduksi sesuatu. Bila anak suka seni, bisa diarahkan untuk membuat hiasan atau aksesori. Bila anak suka musik atau olahraga, bisa diarahkan untuk menguasai lagu atau teknik baru untuk tampil di depan publik, baik di atas panggung atau arena pertandingan. Produk yang dihasilkan bisa berupa barang atau jam terbang. Menambah konektivitas anak berarti kita memberi kesempatan anak bergaul, dan membuat proyek dengan teman-teman yang memiliki kapabilitas yang berbeda. Sehingga, anak memiliki pola pikir untuk selalu mencari teman dalam berproduksi dan berbisnis.
2. Pemimpi
Tidak mudah mendidik anak menjadi pemimpi, namun bukan tidak mungkin. Setiap orang punya mimpi, tidak hanya anak-anak. Butuh nyali luar biasa dari orang tua untuk bilang, “Ayo kita coba wujudkan bersama”. Karena ada orang tua yang akan cenderung mengatakan, “Itu tidak mungkin teraih”, mengingat orang tua sendiri pun masih punya mimpi-mimpi yang belum tersampaikan. Kita sebagai orang tua juga harus siap, bila anak memiliki mimpi yang berbeda. Singkirkan, dulu ego kita dan mulai bersama anak membuat langkah-langkah kecil untuk menggapai mimpi besarnya. Bila saat ini anak kita belum punya mimpi, lakukan langkah awal membangun kapabilitas dan konektivitas untuk memudahkan anak membangun mimpi.
3. Unik
Mendidik anak untuk unik atau 'nyeleneh'. Bukan berarti mereka harus jadi pembangkang atau nakal. Unik disini berarti anak merasa nyaman untuk menampakkan jati diri yang berbeda di antara teman-temannya. Hal ini biasanya menjadi sulit dilakukan, karena teman-temannya akan menganggapnya aneh. Bahkan bila anak kita produktif melakukan banyak hal pun, akan dianggap terlalu rajin. Intinya, sampaikan bahwa orang lain akan selalu berkomentar, dan kita tidak perlu menghentikan aktivitas selama yang dilakukan membawa kebaikan dan tidak mengganggu.
4. Kreatif
Menjadi kreatif berarti berani mengajukan ide, membuat sesuatu yang awalnya berupa konsep hingga menjadi sesuatu yang konkret. Mendidik anak menjadi kreatif bisa dilakukan dengan ATM, bukan memberi kartu ATM dari bank, tetapi Amati, Tiru, dan Modifikasi. Misal anak kita suka bermain lego, cobalah meminta anak kita mengamati dan meniru desain yang sudah ada, lalu latih untuk memodifikasi sehingga menjadi bentuk yang berbeda.
5. Tahan Banting
Mendidik anak untuk tahan banting, berarti kita siap untuk mendampingi saat mereka gagal. Biasanya saat anak kita gagal, kita langsung berpendapat bahwa anak kita tidak berbakat atau tidak akan bisa. Padahal mungkin hanya perlu mencoba dan berlatih lagi. Tidak jarang, butuh waktu berbulan-bulan, bahkan hitungan tahun, untuk anak bisa menguasai keterampilan hingga mahir. Pertanyaannya, sanggupkah kita melihat anak-anak mencoba dan jatuh gagal selama bertahun-tahun? Kalau Colonel Sanders harus mencoba 1009 kali sebelum ayamnya diterima dan bisnis rantai Kentucky Fried Chicken-nya berhasil, tentunya kesabaran dan kegigihan yang anak kita lakukan, pasti akan ada hasilnya. Sehingga orang tua juga harus sanggup melihat kegagalan anak sebagai latihan menuju kesuksesan.
Jadi, siapkah Anda menuntun buah hati menjadi pebisnis sukses?