Bernas.id – Tahukah Anda jika Indonesia berada pada posisi ke-dua sebagai penyumbang sampah plastik terbesar di dunia? Ya, setelah Cina pada posisi pertama, maka Indonesia menempati urutan kedua. Pernyataan ini disampaikan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Dalam pengamatan yang dilakukannya, KLHK menyatakan bahwa sampah plastik hasil dari 100 toko atau anggota Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (APRINDO) dalam kurun waktu satu tahun, sudah mencapai 10,95 juta lembar sampah kantong plastik.
Jika Anda kesulitan dalam membayangkan seberapa banyak 10,95 juta lembar sampah itu, maka bayangkan saja sampah itu sebesar 60 kali luas lapangan bola. Bagaimana? Banyak bukan? Besaran ini merupakan penggambaran bagi sampah plastik semata. Lantas, bagaimana dengan keseluruhan sampah? Direktur Jendral Pengelolaan Sampah, Limbah dan Bahan Beracun (Dirjen PSLB3) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Tuti Hendrawati Mintarsih memberi jawabannya.
?Tahun 2016 ada sekitar 65 juta ton sampah per harinya yang diproduksi masyarakat Indonesia. Jumlah ini naikĀ satu ton dibandingkan produksi 2015 sekitar 64 juta ton sampah perhari,? ujar Tuti Hendrawati Mintarsih pada Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) pengelolaan sampah dan Rapat Kerja (Raker) pengelolaan sampah, limbah, dan bahan berbahaya beracun (B3).
Lantas, bagaimana cara menangani sampah yang sangat banyak ini? Berikut beberapa cara penanganan sampah yang anti mainstream, cekidot!
1. Aspal Sampah
Aspal sampah telah dilakukan uji coba oleh pemerintah. Kemudian, akan dilanjutkan pada uji coba pembangunan jalan di Bekasi. Penggunaan sampah sebagai bahan campuran aspal dalam pembangunan jalan, dilakukan dengan perbandingan sebesar 90 persen aspal murni, berbanding dengan 10 persen sampah plastik. Dan tentu saja, hal ini memberikan keuntungan, karena mampu mampu mengurangi biaya pengelolaan sampah sebesar 7-8 persen.
Selain itu, penggunaan sampah dalam pembangunan jalan juga memberikan dampak positif lainnya. Sebagaimana yang disampaikan oleh Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman, Luhut Binsar Panjaitan, ?Penggunaan aspalĀ sampah plastik untuk membangun jalan raya akan menguntungkan Indonesia. Salah satu keuntungannya, Indonesia bisa terbebas dari sampah plastik yang saat ini menduduki posisi kedua terbesar di dunia.?
Selain mampu menekan biaya pengelolaan, sampah sebagai bahan pembangunan jalan memberikan tingkat kerentanan atau vulnerability sebesar 40 persen lebih baik. Sehingga memberikan keuntungan ganda. Selain sampah menjadi bersih, biaya pembangunan jalan juga dapat ditekan dan mendapatkan kualitas yang lebih baik.
2. Batako Sampah
Tiga pelajar SMA asal Semarang, telah menemukan inovasi yang dapat memberikan penghematan dalam bidang pembangunan. Siswa-siswa SMA Kebon Dalem, Semarang ini telah menemukan paving block yang berasal bahan baku dari sampah plastik. Penemuan ini dinamakan Eco Block. Berawal dari melihat sebuah pembakaran sampah plastik, ketiga siswa ini akhirnya melakukan penelitan kandungan sisa pembakarannya. Hasil yang ditemukan adalah sisa pembakaran plastik memiliki kandungan silikondioksida yang juga terdapat dalam pasir. Eco Block yang dihasilkan merupakan perpaduan natara 750 gram arang plastik yang dicampur dengan 450 gram semen. Pengunaan pasir yang dapat dialihkan menjadi arang plastik, diyakini mempu menekan biaya produksi batako, sehingga harga jual pun dapat menyesuaikan dan lebih bersahabat.
Demikianlah pengelolaan sampah yang merupakan hasil penemuan terkini. Semoga dapat mengatasi keberadaan sampah yang cukup mengkhawatirkan.
