Bernas.id – Pengetahuan dan pemahaman tentang dunia jurnalistik sangatlah penting bagi masyarakat awam. Hal ini guna memberikan ruang kepada masyarakat dalam memberikan kontribusinya seputar informasi terkini, aktual, dan unik di lingkungan sekitarnya. Pemberian ruang dan kesempatan menulis di media massa itulah menjadi salah satu cara dalam menumbuhkan dan mengembangkan budaya literasi masyarakat.
Balai Bahasa Yogyakarta (BBY DIY) pada Selasa (24/10) menggelar Lokakarya Pengelolaan Jurnalistik. Lokakarya ini menghadirkan narasumber yang berkecimpung di media jurnalistik cetak dan daring (dalam jaringan), yakni Latief Noor Rahmans dan Sirajudin Hasbi. Lokakarya yang dibuka oleh Suhana, S.Pd. selaku Plt Kasubag TU Balai Bahasa DIY diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dalam 3 stansa.
Baca juga: 51 Jenis Font Keren untuk Desain dan Menulis Buku
Dalam sambutannya, beliau mengutarakan bahwa lokakarya ini digelar sebagai salah satu kegiatan Gerakan Cinta Bahasa Indonesia dalam rangka Bulan Bahasa dan Sastra Tahun 2017. Lokakarya ini diikuti oleh para siswa, mahasiswa, guru, dosen, dan pemerhati bahasa baik dari wilayah DIY maupun luar wilayah DIY.
Lokakarya Pengelolaan Jurnalistik dibagi dalam dua sesi. Pada sesi pertama, diisi oleh Latief Noor Rahman tentang kiat spesifik menulis jurnalistik. Para peserta diberikan paparan mengenai trik melakukan wawancara dan peliputan berita yang nyaman dengan berpegang pada unsur adaptasi lingkungan, kematangan mental, dan kecerdikan dalam peliputan.
Selain itu, dalam menulis berita di media massa cetak perlu memperhatikan 5 W 1 H ditambah 1 S. Bukan hanya what (apa), who (siapa), when (kapan), where (di mana), why (mengapa), dan how (bagaimana) saja, dalam menulis berita juga mengedepankan unsur safe (aman). Berita bermuatan 5 W 1 H 1 S bertujuan agar memberikan rasa aman kepada penulis dan redaktur. Aman yang dimaksudkan dalam berita yakni aman dengan tidak mengandung unsur memihak terhadap satu pihak, tidak menimbulkan perpecahan, tidak mengandung unsur kebencian, tidak menyinggung unsur SARA, dan terhindar dari berita hoax.
Baca juga: 18 Jenis Konjungsi, Pengertian, dan Contoh Kalimat Terlengkap
Pada sesi kedua, diisi oleh Sirajudin Hasbi tentang menangkap semangat zaman digital. Dengan kemajuan teknologi seperti smartphone, para penulis dapat memanfaatkanya dengan menulis artikel, berita, novel dan karya sastra lain tanpa harus menggunakan laptop/komputer. Hal inilah akan menjadikan seseorang menjadi penulis produktif dengan tidak mengkambinghitamkan laptop/komputer sebagai salah satu alasan untuk tidak atau malas menulis.
Untuk menjadi seorang jurnalis apalagi untuk pemula diperlukan3 (tiga) hal akni suka membaca, suka menulis, dan mau membaca ulang sekaligus mengoreksi tulisan yang telah dibuat dengan berulang-ulang. Kemampuan berbahasa Indonesia juga sangatlah diperlukan dalam dunia jurnalistik. Penulis harus memahami penggunaan kata baku dan ejaan yang sesuai dengan Pedoman Umum Bahasa Indonesia (PUEBI). Saat ini, para penulis agar mampu menghasilkan karya tulisan yang sesuai dengan kaidah-kaidah kebahasaan dapat memanfaatkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) online. Dengan cara itulah akan menghasilkan produk tulisan yang baik.
Dalam kegiatan Lokakarya Pengelolaan Jurnalistik, BBY juga membagikan buku gratis kepada para peserta. Usai kegiatan ini, para peserta diharapkan memiliki semangat untuk menulis di media massa baik cetak maupun online. Bagi sekolah atau kampus yang memiliki usaha penerbitan majalah atau buletin, diharapkan mampu menghasilkan karya tulisan yang baik dengan memperhatikan kaidah bahasa jurnalistik.
Baca juga: Mengenal Pengertian dan Ciri-ciri Komik sebagai Karya Sastra
