Bernas.id – Di era digital ini, sudah tidak bisa dielakkan bahwa hampir setiap saat dalam keseharian kita, diwarnai oleh kegiatan yang melibatkan gawai-gawai canggih. Dengan demikian, membuat perubahan besar dalam cara berpikir maupun perilaku kita. Dalam sebuah artikelnya, Ray Kurzwell menyatakan bahwa teknologi digital terbaru bermunculan pada kecepatan eksponensial pada akhirnya menguasai hampir seluruh aspek kehidupan manusia, yang sebenarnya bergerak pada kecepatan linear. Sehingga tidak heran bila kita merasa selalu kewalahan dalam mengejar pengetahuan teknologi terbaru. Hal ini pun berpengaruh pada dunia pendidikan, di mana tidak lagi siswa membawa buku cetak tapi buku digital, atau tidak lagi mau membawa catatan tapi membawa laptop atau tablet pintar saat belajar.
Ada baiknya kita menelaah diri kita termasuk generasi apa dan bagaimana tingkat adaptasi kita terhadap teknologi. Catherine Rasmussen seorang profesor dari Universitas Minnessota membagi generasi yang ada sekarang menjadi 5 generasi berikut.
1. Generasi Builders atau Pembangun
Yakni mereka yang lahir sebelum tahun 1945 masih dalam situasi perang, sehingga pemikirannya konservatif dan patriotik. Agak sulit beradaptasi mengikuti atau memakai teknologi, karena tidak menyukai banyak perubahan serta lebih berorientasi pada masa lalu dan sejarah. Pengalaman mereka menikmati teknologi terkini lebih kepada kebutuhan untuk mendengarkan musik atau merekam momen-momen berupa foto atau video. Mereka tidak membutuhkan teknologi dengan spesifikasi tinggi atau memori besar.
2. Generasi Baby Boomers
Adalah anak dari Builders yang lahir antara tahun 1946-1965 dalam suasana dunia sedang membangun dengan giat, sehingga selalu tampak optimistis dan suka bekerja. Di masa ini, mulai bermunculan inovasi-inovasi teknologi sederhana berbasis mekanik, elektronik dan teknologi analog. Mereka sedikit lambat beradaptasi dengan teknologi terbaru, tetapi karena optimisme dan semangat bekerja yang tinggi akan tetap bisa mengejar. Generasi Baby Boomers biasanya cepat menguasai teknologi digital dengan demonstrasi atau mencoba langsung.
3. Generasi X
Mereka yang lahir antara tahun 1966-1985 dalam suasana dunia yang mulai terekspos globalisasi dengan terbukanya informasi tersebar melalui teknologi komunikasi dan komputer. Mereka berani ambil resiko, namun cenderung skeptis. Kemandiriannya membuat mereka cukup cepat menguasai teknologi terbaru, namun masih mempertahankan beberapa kebiasaan lama, seperti lebih memilih baca koran cetak atau menulis dengan pena. Mereka pencetus teknologi komputer, prosesor dan penyimpan data. Mengingat Generasi X berorientasi pada keseimbangan hidup yang ideal, maka biasanya mereka mengadaptasi teknologi terbaru hanya bila ketika teknologi tersebut memberikan nilai tambah lebih, serta bisa digunakan untuk rileksasi di tengah kesibukan bekerja. Bila tersesat, mereka memilih untuk menelepon teman minta arahan.
4. Generasi Y atau Generasi Millenial
Lahir antara tahun 1986-1995 dalam suasana dunia yang sedang dalam masa peralihan dari teknologi analog ke digital. Dari yang masa handphone masih sebesar batu bata dan hanya bisa menerima telepon, hingga handphone lipat dan bisa mengirim sms. Mereka pencetus teknologi berbasis digital dan lebih menyukai kegiatan kolektif yang memberi dampak positif bagi sesama. Loyalitas terletak pada siapa saja yang membuat mereka bisa merasakan sudah berkontribusi pada dunia nyata. Mereka mengadopsi teknologi dengan cepat, namun hanya untuk teknologi yang bisa membuat dirinya terlihat istimewa, seperti teknologi swafoto.
5. Generasi Z atau Generasi Digital
Terlahir antara tahun 1996-sekarang, dalam masa dunia yang mulai dipenuhi gawai-gawai dengan tingkat kecanggihan yang berganti dalam waktu cepat. Sehingga teknologi bukan lagi hanya sebagai alat bantu, tetapi sudah menjadi ekstensi atau perpanjangan tangan dari dirinya. Seakan separuh nyawa ada di teknologi yang mereka miliki. Mereka bisa menggunakan dua atau lebih gawai sekaligus, dan bisa melakukan tugas ganda tanpa kesulitan berarti. Mereka bekerja atau belajar selayaknya menjalankan permainan digital, berani mencoba, plot strategi dan kalau mereka salah, direset ulang. Tingkat adaptasi mereka terhadap teknologi baru sangat cepat. Keputusan anak lebih suka langsung mencoba tanpa mempelajari modul manual. Anak-anak balita sekarang sangat mahir menggeserkan jemarinya di atas layar sentuh, kemudian menyentuh tombol-tombol untuk mengetahui reaksinya.
Dalam penelitiannya, Rasmussen menggambarkan bahwa tidak semua orang yang lahir di periode tahun yang disebutkan di atas akan terklasifikasi sesuai generasi yang telah disebutkan. Saya sendiri termasuk generasi X, lebih suka baca buku petunjuk atau manual dulu kalau dapat gawai baru dan mengalami gegar teknologi yang cukup lama saat peralihan dari gawai dengan papa qwerty ke layar sentuh.
Setiap generasi tentunya membawa kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Dalam suatu komunitas, baik dalam satu keluarga, sekolah, maupun kelompok masyarakat, pasti terdapat lebih dari satu generasi sehingga gegar budaya antar generasi pasti terjadi. Oleh sebab itu, melalui artikel ini diharapkan walau dengan tingkat adaptasi yang berbeda, tentunya bisa saling melengkapi dan memberikan warna tersendiri dalam berinteraksi melalui media digital.
