Bernas.id ? Selama ini orang awam hanya mengetahui kalau penentu utama bisa tidaknya suatu darah didonorkan kepada orang lain adalah golongan darahnya. Namun hasil penelitian terbaru menunjukkan kalau jenis kelamin ternyata juga berpengaruh. Hal tersebut dipaparkan dalam hasil penelitian yang dilakukan oleh ilmuwan dari Universitas Leiden, Belanda.
Berdasarkan studi tersebut, pria yang menerima transfusi darah dari wanita yang pernah hamil memiliki peluang 13 persen lebih tinggi untuk meninggal selama berlangsungnya penelitian. Namun fenomena serupa tidak terjadi jika wanita yang mendonorkan darahnya belum pernah hamil sebelumnya.
Studi ini dilakukan kepada 31 ribu orang yang menerima sumbangan donor darah antara tahun 2005 hingga 2015 di Belanda. Selama penelitian berlangsung, ada sekitar 4 ribu partisipan yang meninggal.
Untuk pasien pria, ada rasio kematian 101 per 1.000 orang per tahunnya khusus untuk mereka yang menerima donor dari wanita dengan riwayat hamil. Rataan tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan pria yang hanya menerima darah dari sesama pria. Rasio kematian mereka hanya mencapai 80 per 1.000 orang.
Rataan yang tidak berbeda jauh juga ditemukan pada pria penerima sumbangan darah dari wanita yang tidak memiliki riwayat hamil. Kelompok ini memiliki rasio kematian 78 pers 1.000 orang per tahunnya.
Tim ilmuwan berhipotesis kalau fenomena ini mungkin disebabkan oleh adanya fenomena transfusion-related acute lung injury (TRALI), semacam radang di paru-paru yang dapat berujung pada kematian. Antibodi atau sistem kekebalan yang dikembangkan oleh wanita selama hamil diduga dapat memicu TRALI begitu bercampur dengan darah milik orang lain.
Namun, hasil penelitian ini sendiri tetap memiliki batasannya sendiri, misalnya apakah fenomena serupa juga terjadi bila pasien menerima darah dari lebih dari satu macam donor selama periode tertentu.
Fenomena kematian untuk penerima darah dari wanita yang pernah hamil sendiri diketahui hanya ditemukan pada pria berusia 50 tahun ke atas. Tim ilmuwan yang melakukan penelitian ini lantas berharap ada penelitian lanjutan untuk mengkonfirmasi apakah jenis kelamin dan riwayat kehamilan memang berdampak pada darah yang didonorkan.
