Bernas.id ? Di era gadget seperti sekarang, rasanya hampir tidak ada orang yang ponselnya tidak memiliki aplikasi LINE. Tidak adanya biaya tambahan yang perlu dikeluarkan dan banyaknya stiker serta emoji lucu yang ditawarkannya adalah sebagian dari alasan mengapa semakin banyak orang Indonesia yang menggunakan aplikasi ini untuk komunikasi sehari-harinya.
Namun tahukah anda, aplikasi buatan Naver yang disajikan secara lucu ini ternyata tercipta dari kondisi yang tragis? Semuanya berawal ketika Jepang ditimpa bencana gempa dan tsunami di tahun 2011. Gempa tersebut menyebabkan saluran telepon di seluruh Jepang terputus.
Kondisi tersebut lantas mendorong kantor cabang Naver di Jepang untuk mengembangkan aplikasi komunikasi yang tidak perlu menggunakan kabel telepon. Hasilnya, pada bulan Juni lahirlah aplikasi LINE. Awalnya LINE hanya digunakan oleh sesama pegawai Naver untuk saling berkomunikasi. Namun mereka kemudian merilis aplikasi tersebut ke publik.
Antusiasme publik Jepang terhadap aplikasi baru tersebut ternyata begitu besar. Sampai-sampai pada bulan Oktober di tahun yang sama, Naver mengaku kalau servernya kelebihan kapasitas. Hanya dalam waktu kurang dari dua tahun sejak pertama kali dirilis ke publik, jumlah pengguna LINE sudah mencapai 50 juta orang.
Bersama dengan WhatsApp, LINE kini menjadi salah satu aplikasi komunikasi instan yang paling banyak digunakan di seluruh dunia. Tak terkecuali di Indonesia. Hingga tahun 2017, aplikasi ini sudah memiliki beragam versi dalam 40 bahasa berbeda. Selain di media ponsel, LINE juga sudah dirilis untuk media komputer.
