Bernas.id – Dua tahun lalu, Sayuda Patria mulai merintis perusahaannya dengan nama PT Tosca Jaya, yang bergerak dalam bidang penerbitan, percetakan, dan advertising. Baginya, karena usahanya ini menjadi bakat dan passionnya, yaitu suka dan hobi sekali dengan dunia tulis menulis, ia tidak akan terlalu merasa rugi jika akan betul-betul mengalami kerugian secara finansial.
?PT Tosca Jaya Indonesia, perusahaan yang saya bentuk dan rintis sejak awal. Terkait nama Tosca ini, saya mengambil dari nama warna yang merupakan perpaduan antara warna biru dan hijau. Ada beberapa psikolog yang mengatakan bahwa dua warna ini (biru dan hijau) memberi dampak kesenangan bagi manusia, karena itu banyak orang yang kalau berlibur lebih memilih ke laut atau ke pegunungan. Laut itu biru dan pegunungan itu hijau. Perpaduan keduanya ialah warna kehidupan (tosca). Saya ingin Tosca bisa memberi warna kehidupan baru bagi masyarakat dan menghidupi banyak orang,? ungkapnya ke Bernas.
Sebagai titik balik kehidupannya, sebagai anak pertama dari enam bersaudara, ia melihat realita bahwa adik-adiknya masih kecil dan butuh dukungannya saat itu sehingga ia merasa harus terus ada, baik materil maupun nonmateril. Semenjak itu, ia terus berusaha memaksimalkan potensi dirinya, dari yang awalnya bisa satu dua hal menjadi banyak hal, lalu akhirnya bisa menjadi potensinya dalam mengambil profesi.
?Untuk pengalaman unik di pekerjaan, saat berhadapan dengan klien yang beraneka macam. Di bisnis jasa yang saya geluti ini, tentu ada saja karakter orang dari yang pendiam, pemarah, pengkritik, penggerutu, pemikir, dan lain sebagainya. Semua itu datang kepada saya dan pantang buat saya untuk menolak mereka. Suatu ketika ada seorang klien yang mencoba pedekate dengan saya dari sebuah kota di Sulawesi sana. Awalnya saya pikir dia orang baik, tapi ternyata, yang saya temukan justru kebalikannya. Bukan berarti dia tidak baik, tapi cara kerja yang saya rasakan berbeda. Di Jakarta, segala hal tertata dengan sistem yang dinamis dan parameternya adalah waktu, ternyata apa yang terjadi di daerah tidak demikian. Hal ini saya rasakan saat masih berada di daerah. Kebiasaan bekerja santai dan dadakan menjadi semacam ciri khas, dan ini sangat berbenturan dengan cara kerja saya,? paparnya.
Selanjutnya, yang lebih parah lagi, jeda waktu yang cukup lama dari yang dijanjikan membuat semua harga jadi berubah, yang itu juga dikomplain oleh kliennya. ?Singkat cerita saya tetap layani klien saya ini dengan catatan jika sudah selesai nanti, saya perlu memperbaiki sistem perjanjian saya dengan klien.Ada juga klien yang pasrah dengan apa yang saya tawarkan. Pokoknya apa yang Mas Yuda buat saya setuju-setuju saja, begitu katanya. Untuk klien semacam ini ada plus minusnya. Plusnya tidak terlalu banyak komplain. Tapi minusnya, saya jadi kesulitan menemukan karya terbaik saya, karena untuk jadi karya yang baik tentu perlu kritikan dan saran,? tambahnya.
Membagi waktu dan deadline menjadi masalah yang paling sering harus dihadapi. ?Seringkali karena banyaknya klien membuat saya harus mengatur jadwal yang lumayan padat. Ditambah jika klien tersebut ingin pekerjaan saya dilaksanakan dengan segera karena menyesuaikan jadwal hari istimewanya, biasanya. Untuk menghadapi ini, saya akan sampaikan apa adanya tentang berbagai kemungkinan yang terjadi. Yang pasti saya berkomitmen untuk memberikan karya terbaik saya kepada klien-klien tersebut, bahkan untuk hal yang mustahil sekalipun. Seperti saat dua tahun yang lalu, saya harus mengerjakan sebuah buku yang akhirnya masuk rekor MURI dengan kategori penulisan tercepat selama 24 jam oleh 33 motivator. Buku itu saya kerjakan hanya dalam waktu satu minggu. Bayangkan betapa saya harus mengonsep semua tulisan tersebut hanya dalam satu hari, kemudian mengedit, membuat perwajahan, mendesain, bahkan sempat mendiskusikannya dengan klien dan membuat beberapa perubahan (revisi). Ini pekerjaan yang sangat menantang dan membangkitkan adrenalin,? bebernya.
Untuk tantangan pekerjaan ke depan, editor ini menyebut pasar menjadi tantangan yang nyata. ?Ibarat saya menjual sesuatu, saya harus tahu pasarnya. Sudah menjadi rahasia umum bahwa buku masih belum menjadi kebutuhan utama masyarakat Indonesia. Saya merasakan betapa sulitnya menjual buku di toko buku. Karena itu, saya menjadikan Tosca sebagai community based publisher. Dengan demikian, saya bisa menciptakan pasar komunitas dan saya bisa membentuk kebutuhannya,?imbuhnya.
Penulis profesional ini meyakini bidang yang ditekuni ini penitng dibagikan dan dilakukan kepada masyarakat. ?Bidang ini banyak mengedukasi masyarakat. Betapa media memiliki pengaruh yang besar bagi sebuah peradaban. Menulis adalah bekerja untuk keabadian, kata Pramoedya Ananta Toer, dan saya sangat ingin menjadi bagian dari keabadian itu. Untuk habit khusus yang dibangun selama ini, kebiasaan hidup sehat dan bermanfaat untuk banyak orang. Itu saja yang saya coba bangun selama ini. Tentu hal semacam ini memberi dampak, baik secara langsung maupun tak langsung. Untuk mengembalikan mood agar kembali bersemangat bekerja, mood itu harusnya dikontrol. Salah satu cara untuk mengontrol mood adalah dengan berolahraga. Saya menjadwalkan diri saya untuk berlari tiga kali seminggu. Bahkan saya bergabung dengan komunitas lari di Ibukota. Itu saja bisa membuat saya makin semangat bekerja,? tukasnya.
Founder dan CEO PT Tosca Jaya ini memberikan inspirasinya kepada orang yang membaca kisahnya ini. ?Inspirasi yang saya tawarkan dari kisah ini, semua kesuksesan butuh proses. Dan layanilah setiap orang dengan sepenuh hati. Di era teknologi seperti saat ini, bersinergi adalah solusi terbaik dalam menghadapi setiap masalah. Untuk saran, lakukan yang terbaik dan jadilah diri kamu sendiri. Jangan mengukur kesuksesan dari sudut pandang orang lain karena itu tak akan berimplikasi apapun ke dalam kehidupanmu, bahkan itu membuatmu menderita karena sudut pandang yang kau terapkan itu. Tapi lihatlah kesuksesan itu dari kacamatamu sendiri. Jangan pernah membanding-bandingkan dan bersyukurlah,? ucapnya.
Pengagum sosok Abah Rama Royani ini menceritakan tentang lingkungannya yang memiliki milieu pendidikan, mulai dari pendidikan formal, informal, dan agama. ?Ketiganya ini penting dan tidak bisa diabaikan karena ketiganya inilah yang membentuk knowledge, attitude, dan skill seseorang. Untuk pencapaian yang paling membanggakan saya adalah saat klien saya puas dengan pelayanan saya dan apa yang saya kerjakan. Itulah pencapaian yang paling membuat saya bangga dan bahagia. ?Melayani Adalah Pekerjaan yang Utama? menjadi motto saya karena memang bidang saya adalah di jasa. Era sekarang ini adalah era melayani, siapa saja yang baik pelayanannya itulah yang juara,?katanya.
Book Creator ini membocorkan project dalam waktu dekat dan impiannya ke depan. ?Project terdekat, merambah ke dunia teknologi. Saya ingin mengawinkan pekerjaan yang saya tekuni ini dengan IT sehingga tercipta peluang-peluang baru yang memudahkan masyarakat mengakses konten-konten bermanfaat, tentunya yang tidak mengandung hoax. Untuk impian terbesar, menjadikan masyarakat gemar membaca dan menjadikan buku sebagai kebutuhan utama. Saya sangat merindukan pemandangan di mana setiap orang di Indonesia nanti membawa buku ke mana-mana, bahkan saat berjalan ia masih membaca buku,? pungkasnya.
