Bernas.id – Pemilik perusahaan memahami sekali bahwa tenaga kerja millenial atau terkenal dengan panggilan generasi Y mempunyai karakter ?kutu loncat?, yaitu karakter pekerja yang suka berpindah-pindah kerja. Hal ini diperkuat dengan pernyataan dari Faridah Lim, Country Manager Jobstreet Indonesia saat ditemui CNN Indonesia.com pada tanggal 15 Desember 2016,
?Perusahaan pun sudah sadar bahwa karakter pekerja saat ini yaitu generasi milenial adalah kutu loncat.?
Menurut survei di Amerika, 21 persen karyawan lebih dari tiga kali berganti kerja dalam setahun. Sedangkan di Indonesia, generasi kelahiran di sekitar tahun 1990-an menurut survei perusahaan pencari kerja Jobstreet Indonesia, gemar berpindah kerja kurang dari dua tahun.
Ada beberapa alasan, mengapa mereka doyan pindah kerja?
Pertama, dalam mencari kerja yang sangat diperhatikan oleh mereka adalah fasilitas dan kenyamanan bekerja. Tentunya hal ini terkait kompensasi, fasilitas kendaraan, rumah, kesehatan dan peluang mengenai pendidikan sebagai penunjang karier. Bila dilihatnya perusahaan dimana ia bekerja sudah tidak semenarik perusahan lain, maka ia segera angkat kaki.
Kedua, mereka mempunyai perilaku cepat bosan, jenuh dan kebutuhan sukses yang lebih cepat dari pendahulunya. Sifat seperti ini biasa hinggap pada orang yang kreatif dan inovatif. Di mana karakter ini memang dimiliki oleh kaum millenial.
Ketiga, menurut survei lembaga pencari kerja, Jobstreet Indonesia, bahwa tenaga kerja millenial ini mempunyai tabiat mudah menyerah atau kurang punya daya juang. Dimarahi sedikit oleh bosnya atau mungkin bentrok pendapat dengan sesama karyawan, maka dia mempunyai niat pindah kerja. Hal ini mungkin dilatarbelakangi bahwa anak-anak sekarang dalam perkembangannya kurang dengan kegiatan sosial. Akibatnya, tidak terbiasa dengan benturan-benturan sosial.
Dengan kondisi-kondisi di atas, tentunya menjadi tantangan bagi pimpinan perusahaan atau pelaku sumber daya manusia di perusahaan.
Bagi bos perusahaan besar seperti, CEO makanan kemasan, CEO Michael Miles mengatakan, “Anda tidak dapat mengecewakan orang-orang yang bagus, dan jika mereka mendapatkan kesempatan yang baik yang tidak dapat Anda berikan, tak dapat dihindari Anda akan kehilangan mereka. Tetapi itu merupakan harga yang harus Anda bayar untuk mendapatkan orang yang betul-betul luar biasa. “
Artinya, perusahaan yang banyak menampung tenaga kerja millenal harus dapat mengadopsi kebutuhan mereka. Seperti suasana kerja lebih menyenangkan, baju kerja lebih santai, jam kerja fleksibel, mengembangkan budaya yang lebih terbuka dan ekspresif sehingga akan menyebabkan karyawan lebih betah. Apabila hal ini semua tidak diperoleh mereka, maka siap-siaplah untuk kehilangan.
Menurut MC Keown, ada 4 kunci agar loyalitas karyawan dapat dijaga yaitu:
1. Komunikasi yang baik
Salah satu faktor target perusahaan tercapai yang sangat penting adalah komunikasi yang baik antara atasan dan bawahan. Sepanjang komunikasi dalam koridor manajemen, hal ini tidak akan mengurangi wibawa seorang pimpinan dimana saat menyapa, menegur atau berdiskusi dilakukan dengan sopan dan elegan.
2. Konsistensi
Tak sedikit karyawan resign dari perusahaan terkait perlakuan terhadap dirinya di kantor. Misalnya dia tidak percaya kepada dirinya, karena sering memperoleh instruksi yang berubah-ubah dari atasannnya.
3. Peluang untuk melakukan pekerjaan besar
Berikan kesempatan untuk mengembangkan diri bagi setiap karyawan, dengan memberikan kepada mereka pekerjaan besar. Dengan demikian, pimpinan dapat mengetahui kapasitas kemampuan yang dimiliki setiap karyawan.
4. Pilih manajer sumber daya manusia yang tepat
Pilihlah manajer sumber daya manusia yang sering turun ke ?bawah? dan menyelesaikan permasalahan yang ada pada karyawan. Manajer tersebut harus komunikatif, konsisten dan mampu menangkap potensi atau masalah yang ditimbulkan karyawan.
Semakin cepat perusahaan mengidentifikasi karakter serta memperlakukan kaum millenial sebagaimana mestinya, maka perusahaan akan semakin berkembang.
Apakah perusahaanmu sudah menjalankannya?
