Bernas.id – Cukup menarik menyimak perhelatan Liga Champions musim 2017/2018 ini. Empat tahun terakhir, mulai dari 2014?2017 praktis menjadi milik tim-tim La Liga. Real Madrid dengan perolehan 3 kali juara yaitu tahun 2014, 2016 dan 2017. Tim yang diarsiteki oleh Zinedine Zidane, merupakan pemecah rekor Juara Liga Champions dua tahun berturut-turut. Barcelona dengan perolehan 1 kali yaitu 2015 yang saat itu diarsiteki oleh Luis Enrique, pelatih yang beberapa tahun sebelumnya merupakan salah satu pemain legenda Barcelona. Demikian juga dengan runner-up, dimiliki oleh Atletico Madrid tahun 2014 dan 2016. Atletico mampu memecah dominasi Real Madrid dan Barcelona di La Liga dalam kurun waktu 10 tahun terakhir ini, semenjak ditangani oleh Diego Simeone. Hanya Juventus yang mampu masuk menyusup menjadi salah satu tim pemecah Trio Spanyol ini. Juventus menjadi runner-up di tahun 2015 dan 2017, seperti yang dilansir goal.com (05/06/2017).
Bagaimana dengan tahun 2018? Akankah masih menjadi milik Trio La Liga ini? Jika melihat klasemen sementara di dua pertandingan Liga Champions 2017/2018, agaknya tidak mudah lagi bagi Real Madrid, Barcelona dan Atletico untuk mendominasi. Dengan berbenahnya tim-tim seperti Manchester United, Manchester City dan Chelsea, menjadi kekuatan baru yang cukup menjanjikan. Yang lebih menarik salah satu tim dari League 1, yaitu Paris Saint-Germain (PSG), secara mengejutkan dan dramatis, tim ini mampu mendatangkan Neymar dari Barcelona. Tidak cukup sampai disana, Mbappe pemain muda berbakat yang menjadi rebutan tim-tim raksasa berhasil berlabuh di PSG.
Kiprah PSG musim ini tidak bisa dipandang sebelah mata. Buktinya Bayern Munchen, tim yang dikenal tidak mudah dikalahkan dan mempunyai semangat spartan, dibuat bertekuk lutut dihadapan PSG. Tak tanggung-tanggung, 3 gol tanpa balas digelontorkan oleh PSG di stadion Parc des Princes, Rabu (27/9/2017). Bahkan pertandingan ini memakan korban. Satu hari setelah kekalahan ini, Carlo Ancelotti yang merupakan salah satu pelatih top dunia ini dipaksa angkat koper dari Munchen. Presiden Bayern Munchen, Karl-Heinz Rummenigge langsung mengumumkan pemecatan ini, dikutip dari Kompas.com (28/09/2017).
Jika melihat produktivitas gol PSG yang memasukan 8 gol dan tanpa kebobolan, seperti dilansir klasemenliga.com (28/09/2017), merupakan produktivitas terbaik sampai pertandingan penyisihan ke-2 ini. Trio Neymar, Cavani dan Mbappe, menjadi momok bagi pertahanan terbaik tim-tim Liga Champions. Hal ini harusnya mendapat perhatian lebih bagi arsitek sekelas Zinadene Zidane, Jose Mourinho, Pep Guardiola, Diego Simeone, jika tidak ingin bernasib sama dengan Carlo Ancelotti.
Cukup masuk akal jika tahun ini PSG menargetkan untuk menjadi juara Liga Champions. Boleh dibilang PSG saat ini bisa menjelma menjadi salah satu tim raksasa yang akan menjadi Raja di Eropa. Jika pola permainan mereka bisa dipertahankan, PSG akan mampu mengahiri puasa gelar Liga Champions yang mulai dihelat tahun 1955/1956. Hanya saja isu perpecahan antara Neymar dan Cavani akibat berebut pinalti harus segera diselesaikan, jika tidak ingin investasi 352 juta pounds atau sekitar Rp6,2 triliun, untuk mendatangkan Neymar dan 175 juta pounds atau senilai Rp2,3 triliun untuk mendatangkan Mbappe, menjadi sia-sia.
