Bernas.id – Bagaimana reaksi kita ketika bertemu ODGJ atau yang biasa dipanggil orang gila? Apakah kita akan berani mendekat? Atau malah, kita akan menjauh? Atau malah melakukan hal-hal kasar seperti mengusir dengan teriakan?
Sebagian besar dari kita mungkin akan menjauh ketika bertemu orang gila. Hal ini bisa jadi karena kita takut kalau tiba-tiba mereka marah dan tiba-tiba mengejar atau memukul kita. Sebagian orang mungkin menghindar karena tak tahan dengan bau badan mereka atau berbagai alasan lain. Namun, sesungguhnya mereka masih manusia yang juga membutuhkan kepedulian dari kita.
Jika bertemu dan diganggu oleh mereka, tak perlu kita melakukan hal-hal kasar. Mereka masih manusia yang punya hati, kita dapat menyelesaikannya secara baik-baik dengan mengajaknya mengobrol, mencoba memahami masalah mereka lalu bernegosiasi. Walau pikirannnya mereka terganggu, tetapi hati mereka masih bisa merasakan. Selayaknya manusia yang pasti akan luluh dengan kelembutan dan kebaikan.
Mereka juga membutuhkan uluran dari kita terutama para ODGJ yang sudah dalam tahap remisi, yaitu kondisi di mana tanda-tanda dan gejala gangguan jiwa sudah hilang baik secara sempurna ataupun parsial. Para ODGJ pada tahap remisi ini membutuhkan penerimaan dari kita agar mereka dapat percaya diri untuk kembali ke tengah-tengah masyarakat. Mereka membutuhkan bantuan agar dapat kembali produktif di masyarakat karena banyak dari mereka yang sudah tidak memiliki sanak keluarga.
Beberapa masyarakat kita sudah ada yang melakukan tindakan nyata untuk membantu mereka sebagai suatu bentuk kepedulian. Pak dadang Heriadi dari Tasik misalnya, beliau melakukan langkah luar biasa dengan membuka yayasan Keris Nantung, sebagai tempat untuk merawat ODGJ. Pak dadang tinggal bersama-sama para ODGJ dan berusaha memberikan pengobatan.
Ia merawat dengan ketulusan hati dan keterbukaan, sama sekali tanpa kekerasan. Para ODGJ yang ditampung biasanya adalah orang gila yang suka berada di jalanan dan sudah tidak punya atau sudah tidak mengenal lagi sanak saudaranya. Dari perjuangannya ini pun sudah banyak ODGJ yang sembuh dan dapat kembali produktif di masyarakat.
Selain pak Dadang, ada sebuah komunitas lain yang juga peduli dengan para ODGJ yaitu komunitas Glasanefa. Pada Minggu, 26 November 2017, komunitas ini mengadakan penggalangan dana di CFD (Car Free Day) Bandung untuk mengadakan acara bermain bersama ODGJ yang dalam tahap remisi. Harapan mereka, dengan adanya acara yang akan mereka adakan, para ODGJ tersebut dapat percaya diri untuk kembali ke tengah-tengah masyarakat.
Tak hanya Pak Dadang dan Glasanefa, Pak Soebagijono dari Malang pun melakukan langkah nyata sebagai bentuk kepedulian terhadap ODGJ. Pak Soebagijono melakukan aksinya dengan membebaskan para ODGJ yang dipasung oleh keluarganya sendiri. Setelah itu, beliau akan memberikan penyuluhan dan pendampingan kepada keluarga untuk mengobati ODGJ.
Alasannya karena sesungguhnya ODGJ akan lebih mudah sembuh jika mendapatkan perhatian terutama dari keluarga. Bukan malah dipasung atau dikucilkan. Pak Soebagijono pun membuat bengkel artis sebagai wadah untuk mengembangkan diri bagi para ODGJ agar dapat tetap berdaya. Di bengkel ini, pada ODGJ diajari berbagai kesenian dan keterampilan. Salah satunya adalah membuat bunga dari flanel yang bisa dijual.
Itulah beberapa orang yang telah melakukan aksi nyata untuk para ODGJ. Namun, para ODGJ ini membutuhkan lebih banyak lagi kepedulian dan penerimaan dari masyarakat. Dengan semakin banyak orang yang peduli, semoga dapat mengurangi jumlah ODGJ dan akhirnya mereka dapat kembali berdaya untuk kemajuan bangsa Indonesia. Yuk, mari kita peduli dengan ODGJ.
