Bernas.id – Usia remaja merupakan masa-masa yang rentan terhadap berbagai hal baru seperti pergaulan. Fase perpindahan dari masa anak-anak menuju dewasa inilah yang disebut sebagai masa remaja. Rasa penasaran yang tinggi terhadap sesuatu menimbulkan rasa ingin mencoba hal baru.
Pada masa inilah remaja akan berusaha mencari jati dirinya. Sedangkan pergaulan itu tidak selalu bersifat baik, berbagai faktor yang berasal dari diri maupun dari luar diri sendiri bisa mengakibatkan pergaulan yang buruk. Oleh karena itu lingkungan sangat berpengaruh pada pergaulan.
Keluarga merupakan bagian yang paling berperan dalam pengontrol pergaulan remaja. Sebagai pondasi dasar bagi keluarga untuk menentukan arah dan tujuan hidupnya. Namun bagaimana jika dalam keluarga sudah terdapat permasalahan terlebih dahulu? Seperti masalah ekonomi, atau bahkan broken home. Akhirnya berimbas bagi remaja yang tengah mencari jati dirinya, seolah tidak memiliki pegangan. Karena pondasi yang menjadi inti sudah terlebih dahulu rapuh.
Kasus seperti yang baru-baru ini terjadi tentang beredarnya PCC (Pharacetamol, Cafein, Carisoprodol) di Kendari justru yang menjadi sasaran utama adalah remaja. Mirisnya lagi kebanyakan korban yang merupakan siswa SD ini berasal dari kalangan menengah ke bawah. Obat-obatan berbahaya sejenis PCC dijual dengan harga murah meriah, bahkan ada kasus lain yang mengatakan diberikan cuma-cuma. Kasus serupa lainnya seperti over dosis miras yang dilakukan oleh pelajar pun disebabkan karena mengoplos minuman keras yang seharga lima ribuan saja. Sungguh miris jika melihat keadaan remaja yang sudah semakin tak terkendali demikian. Entah sebabnya dikarenakan oleh tangan orang lain atau justru karena ulah sendiri.
Jika ditelisik lebih jauh lagi, trouble yang terjadi pada remaja bukan semata hanya berasal dari faktor eksternal saja. Namun, faktor internalnya pun harus ditelusuri, selain berasal dari pergaulan yang bermasalah tentunya kondisi keluarga pun perlu diketahui. Apakah keadaan keluarganya baik-baik saja? Apakah remaja tersebut mendapat perhatian dan kasih sayang yang cukup? Apakah keadaan ekonomi keluarga stabil? Atau bahkan sebaliknya.
Faktor-faktor internal maupun eksternal tersebut menjadi rantai dan saling berkesinambungan akhirnya menjadi masalah yang kompleks bagi remaja. Keluarga yang tidak sejahtera sangat berdampak besar bagi perkembangan remaja dan pola pikir remaja. Kesejahteraan itu bisa diukur melalui kesejahteraan ekonomi maupun kesejahteraan sosial yang ada dalam lingkungan keluarga.
Dalam masyarakat keadaan kurang sejahtera ini atau terpinggirkan bisa dikatakan sebagai kaum marginal. Penyebab masyarakat dikatakan sebagai marginal karena keadaan status sosial maupun ekonomi yang terbelakang. Keadaan terpinggir ini akan semakin mudah untuk dimasuki oleh sesuatu yang bersifat kotor. Pemenuhan kebutuhan agar bisa terpenuhi bisa dilakukan dengan berbagai cara, bahkan pembentukan pola pikir serta penyaringan terhadap hal negatif jauh lebih sulit.
Jika sudah kompleks seperti ini, tentunya dibutuhkan pihak ketiga sebagai solusi untuk memecahkan masalah. Pihak ketiga bisa pemerintah, lembaga sosial, atau bahkan pihak sekolah dari tempat sekolah remaja tersebut. Meskipun begitu pihak ketiga hanya berperan sebagai pembantu bukan sebagai pokok perubahan keadaan yang akan terjadi. Ketiganya, antara remaja, keluarga dan pihak ketiga harus saling bekerja sama dalam problem ini.
