Bernas.id – ?Sesungguhnya, dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang, terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), ?Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Mahasuci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka.? (QS. Ali-?Imran: 190-191)
Ayat di atas mengajarkan kita bagaimana cara memandang alam semesta yang telah Allah SWT ciptakan. Cara pandang yang bukan alakadarnya, tapi benar-benar membaca segala apa yang Allah ciptakan. Dahulu orang tidak pernah bisa membayangkan, pergi dari satu tempat ke tempat lain hanya dalam waktu singkat. Butuh berhari-hari lamanya karena memakai kendaraan hewan yaitu kuda dan keledai. Ataupun kita tak pernah membayangkan dapat berkomunikasi setiap saat hanya dalam waktu hitungan detik. Bahkan, dengan kemajuan teknologi sekarang bisa langsung bertatap muka melalui Smart Phone.
Kalau saja tidak ada Alexander Graham Bell penemu telepon versi lama atau Antonio Meucci penemu telepon versi baru, mungkin kita tidak akan bisa dengan mudah berkomunikasi seperti sekarang ini. Atau jika saja dunia tidak memiliki orang seperti Wright bersaudara (Wright brothers), Orville dan Wilbur, mungkin kita tidak bisa bepergian dalam waktu singkat dengan memakai pesawat terbang.
Empat belas abad yang lalu, tatkala baginda tercinta Rasululloh SAW menerima wahyu pertama, yaitu surah Al alaq ayat 1 ? 5, sangatlah jelas di sana. Wahyu yang diturunkan pertama kali oleh Allah SWT memerintahkan kita agar belajar Membaca. Membaca di sini bukan hanya membaca buku, melainkan membaca situasi yang ada dilingkungan serta membaca perkembangan zaman. Dengan melakukan itu, kita akan bisa menjadi penggerak dan pelopor untuk kemanfaatan dan kemaslahatan umat manusia.
Hal inilah yang patut kita renungkan dan eksekusi dalam kehidupan nyata. Merenung dengan membaca ayat-ayat kauliyah dan kauniyah, serta eksekusi untuk membumikan apa yang telah kita baca dan renungkan. Membaca bukan hanya sekedar membaca, tetapi membaca sebagai ulil albab, yaitu orang yang selalu mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi. Dengan memuji dan mengagungkan kebesaran Allah SWT yang telah diciptakan untuk kita semua.
Wallahu?alam
