Bernas.id ? Di era media sosial saat ini, informasi apapun dengan sangat mudah bisa kita dapatkan. Baik itu tentang peristiwa penting, politik, ekonomi, bahkan tentang kehidupan seseorang mulai dari publik figur sampai masyarakat biasa. Informasi yang muncul pun beragam, dari yang masih wajar-wajar saja sampai sesuatu hal yang mengundang kontroversi. Tak ayal banyak orang yang memberikan komentar positif dan negatif terhadap informasi tersebut. Sayangnya, tidak semua komentar yang disampaikan memberikan dampak positif, bahkan tidak sedikit malah menggunakan kata-kata kasar yang memprovokasi.
Sering mungkin kita melihat atau membaca, khususnya di media sosial para publik figur di mana ada golongan tertentu atau disebut haters yang tidak segan memberikan komentar pedas. Para haters ini seperti tidak pernah berhenti mencari celah untuk berkomentar, meskipun hanya sedikit kesalahan yang dilakukan oleh publik figur. Berkomentar, entah itu tujuannya untuk menasihati atau mengingatkan tentu harus beretika. Seperti halnya dalam kisah berikut
Harun ibn ?Abdillah, seorang ulama ahli hadits yang juga pedagang kain di kota Baghdad bercerita:
Suatu hari, saat mulai larut malam, pintu rumahku di ketuk oleh seorang laki-laki.
?Siapa?? Tanyaku.
?Ahmad.? Jawab orang diluar pelan.
?Ahmad yang mana?? Tanyaku makin penasaran.
?Ibn Hanbal.? Jawabnya pelan.
“Subhanallah, Itu guruku!? kataku dalam hati.
Maka kubuka pintu. Kupersilakan beliau masuk dan kulihat beliau berjalan berjingkat, seolah tak ingin terdengar langkahnya. Saat kupersilakan untuk duduk, beliau menjaga agar kursinya tidak berderit mengeluarkan suara.
?Wahai guru, ada urusan yang penting apakah sehingga dirimu mendatangiku selarut ini?? ?Maafkan aku ya Harun. Aku tahu biasanya engkau masih terjaga meneliti hadits selarut ini, maka aku pun memberanikan diri mendatangimu. Ada hal yang mengusik hatiku sedari siang tadi.?
Aku terkejut.
“Sejak siang? Apakah itu wahai guru??
?Begini ?? Suara Ahmad ibn Hanbal sangat pelan, nyaris berbisik.
“Siang tadi aku lewat disamping majelismu, saat engkau sedang mengajar murid-muridmu. Aku saksikan murid-muridmu terkena terik sinar mentari saat mencatat hadits-hadits, sementara dirimu bernaung di bawah bayangan pepohonan. Lain kali, janganlah seperti itu wahai Harun. Duduklah dalam keadaan yang sama sebagaimana murid-muridmu duduk!” Aku tercekat, tak mampu berkata. Maka beliau berbisik lagi, mohon pamit, melangkah berjingkat dan menutup pintu hati-hati.
Dari kisah di atas kita bisa mengambil pelajaran, bahwa jika ingin memberikan nasihat ada baiknya dilakukan dengan cara rahasia. Jika ingin menyampaikan nasihat atau komentar di media sosial bisa melalui inbox, jangan di kolom komentar. Sampaikanlah nasihat itu dengan kata-kata yang baik dan bijaksana, sehingga orang yang dinasihati pun bisa menerima dan mengubah kesalahannya.
?Siapa yang menasihatimu secara sembunyi-sembunyi maka ia benar-benar menasihatimu. Siapa yang menasihatimu dikhalayak ramai maka dia sebenarnya menghinamu.?
(Imam Asy-Syafii)
