Bernas.id – Mural bergambar mendiang penyanyi pop George Michael di Sydney telah dirusak oleh seseorang pada Sabtu (18/11) lalu. Namun warga setempat menanggapi aksi vandalisme itu dengan penuh cinta, dengan memberi tulisan pesan seperti “Terlambat. cinta menang,” dan “Tidak takut.”
Mural yang menutupi sisi teras di Erskineville, Sydney itu menampilkan George Michael dengan pakaian seperti pastor dengan selendang pelangi, yang mengesankan bahwa dia adalah seorang Santo atau orang suci yang pro LGBT. Mural itu dicat beberapa pekan setelah kematiannya tahun lalu.
Namun seorang pria berusia 23 tahun Sabtu lalu menutupi mural itu dengan cat hitam. Beruntung pria itu telah ditangkap oleh polisi karena pelanggaran berkaitan dengan grafiti. Dia akan menghadapi sidang di Pengadilan Tinggi Downing Center pada 7 Desember 2017.
Lewat sebuah tindakan solidaritas terhadap George Michael dan komunitas LGBT, penduduk setempat berkumpul di sekitar mural pada Sabtu malam dan menutupi cat hitam dengan pesan mereka sendiri, menunjukkan dukungan kepada George Michael yang merupakan seorang gay, dan dukungan untuk kaum LGBT pada umumnya.
Seorang penduduk lokal, Trent Maher, mengatakan kepada ABC bahwa komunitas warga di tempatnya tinggal “sangat toleran” meski muncul vandalisme.
“Ini tindakan yang sangat memecah belah tapi kami tidak diam saja dengan itu,” kata Maher. “Kami akan tetap kuat dan kami akan membuatnya menjadi lebih baik dan kami akan membuat sesuatu tentang cinta daripada sesuatu tentang kebencian.”
Tanggapan lain berupa tulisan dari warga pada mural yang dirusak tersebut termasuk slogan “Cinta akan menang” dan “Katakan tidak untuk kebencian dan intoleransi”.
Baca juga Tidak Meyakinkan, Autopsi Jenazah George Michael Diperdalam
Pencipta mural, Scott Marsh, merespons aksi perusakan itu lewat Instagram.
“Tempat ini telah menjadi tempat pemujaan yang dikunjungi oleh penggemar George Michael dari seluruh Australia dan dunia, meninggalkan bunga, kartu dan lilin di kaki tembok saat mereka berkabung dan mengingat George.”
“Saya merasa tidak enak dan saya minta maaf kepada semua penduduk setempat yang harus menanggung intimidasi dan omong kosong karena serangan semalam.”
Sebuah petisi ternyata telah diluncurkan pada change.org untuk membela perusak mural tersebut.
“Sebagai ibu, ayah, saudara laki-laki dan saudara perempuan Kristen, kami sangat terluka dan khawatir dengan meningkatnya tayangan kebencian publik, fitnah dan ejekan iman Kristen kami,” bunyi petisi yang digagas oleh Paul Bennett dari Carlingford.
“Mural ini secara terbuka menganjurkan kebencian agama, permusuhan agama dan hasutan religius terhadap iman Kristen.”
Pada Senin pagi ini petisi tersebut telah mendapatkan lebih dari 16.000 tanda tangan.
Mural George Michael adalah karya seni kedua karya Marsh yang dirusak dalam selang waktu beberapa hari. Sebuah mural kontroversial karyanya yang menunjukkan mantan Perdana Menteri Tony Abbott dengan tangannya berada di dalam celana Kardinal Australia George Pell telah dirusak pada hari Kamis pekan lalu.
Mural itu hanya berusia kurang dari satu hari.
