Bernas.id ? Tikus selama ini dianggap sebagai hama dan biangnya wabah penyakit. Namun organisasi APOPO yang berbasis di Belgia memiliki pandangan berbeda. Pasalnya APOPO seperti yang dilansir oleh Reuters justru berniat melatih tikus untuk memberantas wabah penyakit.
Tikus yang bakal digunakan untuk keperluan itu sendiri bukanlah sembarang tikus, melainkan tikus berkantung Afrika. Kebetulan tikus spesies ini sudah lama digunakan untuk mendeteksi ranjau di negara-negara yang pernah dilanda perang.
Tikus ini juga pernah digunakan untuk mendeteksi kasus penyakit tuberkulosis (TBC) di Afrika Timur. Untuk mendeteksi ada tidaknya bakteri TBC, tikus ini hanya perlu mencium sampel lendir yang dimuntahkan oleh pasien.
Kelebihan utama deteksi TBC menggunakan tikus dibandingkan metode deteksi konvensional adalah metode deteksi memakai tikus memerlukan waktu dan biaya yang lebih rendah. Jika seorang petugas medis memerlukan waktu kurang lebih 4 hari untuk memeriksa sampel TBC, maka seekor tikus yang sudah terlatih bisa memeriksa 100 sampel sekaligus hanya dalam waktu 20 menit.
Selama beberapa tahun ke depan, APOPO berencana mendirikan fasilitas-fasilitas deteksi TBC memakai tikus di 30 kota yang tersebar di seluruh dunia. Kota-kota yang menjadi sasaran pendirian fasilitas ini adalah kota-kota dengan tingkat resiko infeksi dan penularan TBC yang tinggi.
TBC tergolong sebagai penyakit yang bisa dicegah dan diobati. Namun mudahnya penyebaran TBC melalui udara dan tidak meratanya akses menuju fasilitas kesehatan yang memadai menyebabkan tingginya kasus infeksi TBC hingga sekarang. Menurut data WHO, ada 10,4 juta penderita TBC di seluruh dunia pada tahun 2016.
