Bernas.id – Bari Arijono menceritakan pengalaman istimewanya yang menjadi titik balik dalam hidupnya sehingga menjadi seperti sekarang. Saat itu, ia melakukan business trip bersama Bapak Indra Widjaja ? putra Bapak Eka Widjaja, pemilik Sinarmas Group utuk berkunjung ke Kantor Pusat Huawei di Shenzhen, Tiongkok.
?Pada saat itu, kami (rombongan) menemui petinggi Huawei dan saya diminta memberikan speech (dalam bahasa Inggris, untung bukan bahasa mandarin) sebagai perwakilan Indonesia. Saya merasa kecil sekali di mata mereka yang memiliki bisnis trilyunan US Dolar, namun mereka percaya kalau saya bisa melakukannya dan di situlah muncul keyakinan saya juga kalau suatu saat nanti, saya juga bisa seperti mereka. Kedua, pada saat ibadah umroh ke Mekah, saya berdoa di Raudhah Masjid Nabawi dan depan Ka?bah langsung minta kepada Allah untuk bisa memiliki usaha sendiri dan Alhamdulillah tahun depannya do?a itu dikabulkan,? ungkapnya ke Bernas.
Diceritakan pengalaman uniknya di pekerjaan, ia sempat mengunjungi Silicon Valley India, tepatnya di Kota Puna yang disponsori salah satu perusahaan teknologi ternama dari India yang memiliki bisnis besar di Indonesia.
?Setiba di Bandara Mumbai (BOM) yang tergolong baru dan megah itu ternyata masih banyak penduduk kota yang di bawah garis kemiskinan. Di jalanan masih banyak di temukan lapak-lapak kaki lama, bangunan-bangunan tua nggak keurus, orang tua berpakaian lusuh naik sepeda dan budaya kerja yang konvensional sekali. Bertolak belakang sekali dengan visi misi pemerintah Digital India. Melihat pemandangan kota Mumbai saat itu mirip Kota Jakarta tahun 80 an. Masih banyak kendaraan umum kotak-kotak kayu dengan gaya yang sangat kuno. Naik taksi juga tidak semua bisa berbahasa inggris, tanpa AC & sering nyasar, untung saja nggak ditembak borongan. Ini pengalaman kerja unik saya dan tidak bisa dilupakan. Oh ya pintu tol nya juga jadul banget lho,? bebernya.
CEO Digital Enterprise Indonesia ini menjelaskan tentang alasan terus menekuni bidang pekerjaan sampai sekarang. ?Selama lebih dari dari 4 tahun ini, saya menekuni pekerjaan sebagai pengusaha digital, keluar dari comfort zone karena passion, passion menjadi pengusaha nasional yang concerns dengan kemajuan bangsa ini. Saya pilih bisnis digital yang memang menjanjikan growth yang lebih cepat daripada bisnis konvensional. Buktinya nilai transaki e-commerce kita terus naik dari tahun ke tahun dan diproyeksikan pada tahun 2025 nanti mencapai lebih dari 1000 trilliun Rupiah dan menjadi negara terbesar ekonomi digitalnya se-Asia Tenggara. Di mana DEI akan memegang peran penting membangun eco system digital yang lebih baik, membantu korporasi bertransformasi ke digital business, menghasilkan talent-talent digital dan tentunya ikut andil dalam menumbuhkan ekonomi digital Indonesia dengan mencetak lebih banyak lagi digital entrepreneur. Inilah mimpi saya bahwa Indonesia bisa menjadi Digital Nation di tahun 2030 kelak,? jelasnya.
Untuk permasalahan yang paling sering dihadapi dalam pekerjaan, ia menyebut sulitnya mencari talenta digital yang siap pakai.
?Permasalahan yang sering saya hadapi dalam memimpin bisnis ini, sulitnya mencari talenta digital yang siap pakai, persaingan dengan perusahaan asing yang skalanya lebih besar, dan kepercayaan orang Indonesia terhadap perusahaan lokal masih rendah. Oleh karena itu, awal tahun ini, saya membangun Pusat Pelatihan Digital Pertama www.digitaltrainingcenter.id untuk mendapatkan talenta-talenta baru yang siap dididik menjadi digital talent. Kalau masalah persaingan bisnis dengan perusahaan asing itu tidak bisa saya pungkiri, maka saya fokus di segmen SMB (Small Medium Business) seperti di perusahaan-perusahaan menengah dan kecil dengan budget lebih efesien. Dan untuk masalah kepercayaan, saya pikir kalau kita mampu mendeliver proyek dengan kualitas yang sama dengan perusahaan-perusahaan besar dengan budget local, maka lama-lama pasar bisa kita rebut. Apalagi basis perekenomian Indonesia ada di UMKM,?paparnya.
Untuk tantangan ke depan, ia berkeinginan untuk membangun perusahaan yang bisa berdampak sosial tinggi. ?Tantangan ke depan yang saya hadapi adalah membangun perusahaan ini menjadi perusahan nasional yang dikenal seluruh lapisan masyarakat, yang memiliki dampak sosial tinggi seperti apa yang dilakukan go-jek, tokopedia, bukalapak, traveloka, tiket.com, dsbnya. Mengembangkan DEI dan DTC menjadi perusahan bonafit yang dipercaya market dalam negeri dan mampu IPO dalam 5 tahun ke depan. Saya pikir tantangan-tantangan teserbut sekaligus sebagai peluang bagi saya karena memang belum ada satupun perusahaan local seperti DEI ini. Jadi, bisa dikatakan bisnis saya ini Blue Ocean,? katanya.
Ketua Umum, Asosiasi Digital Entrepreneur Indonesia (ADEI) ini pun meyakini bidang pekerjaannya ini penting dilakukan dan dibagikan kepada masyarakat. ?Sangat penting dan dibutuhkan oleh setiap orang, pelaku usaha UMKM hingga Korporasi besar dan juga tidak ketinggalan dunia pendidikan, kesehatan dan jasa lainnya. Transformasi Digital itu sudah menjadi kebutuhan saat ini, kalau tidak maka Anda harus siap-siap gulung tikar, maksudnya kalau Anda masih mengandalkan cara-cara lama maka bisnis Anda akan tergilas oleh perusahaan-perusahaan baru (digital start up) yang memiliki bisnis model yang lebih baik, lebih cepat, memudahkan masyarakat dan bisa jadi lebih murah. Apalagi melihat fenomena transportasi online yang kurang dari 3 tahun sudah mampu menganggu bisnis taksi konvensional yang sudah jalan puluhan tahun, bahkan saya dengar valuasi perusahaan Go-jek yang seumur jagung sudah melebihi Garuda Indonesia yang sudah karatan,? jelasnya panjang.
Membangun komunitas digital sebagai wadah sharing knowledge dan experiences, serta pentingnya digitalisasi di semua sektor industri menjadi habit khusus yang dibangunnya selama ini. ?Untuk meningkatkan literacy dan inklusi digital ini, saya sering dipanggil sebagai narasumber di beberapa seminar-seminar, workshop maupun pelatihan perusahaan seperti di Bank Indonesia Institute telah mempercayakan saya sebagai lecturer Digital Economy, Digital Transformation dan Financial Technology. Juga membantu perbankan lokal untuk segera mentas dari comzort zone, bertransformasi ke Digital Banking dan membangun FINTECH,? tukasnya.
Pengagum sosok Alm Ibu ini memberikan inspirasi dan sarannya kepada orang lain yang membaca kisahnya ini. ?Saya ingin anak-anak muda Indonesia itu mengubah mindsets menjadi pemuda yang siap berubah (CHANGE), bermimpi besar (BIG DREAM), berperilaku kreatif (CREATIFITY) dan selalu mengedepankan Inovasi (INNOVATION). Menjadi pengusaha itu pilihan dan akan datang masanya buat Anda semua. Kalau calling-nya sudah datang, jangan ragu-ragu untuk memulai dengan modal berapapun. Untuk saran, buat putra-putri Banga Indonesia, bekerja dan berkaryalah seolah-olah engkau ada 10 tahun kemudian sehingga engkau bisa menancapkan ide dan gagasan yang bermanfaat untuk masyarakat banyak. Bangsa ini butuh pemimpin-pemimpin muda visioner, ribuan pengusaha-pengusaha muda tangguh dan jutaan inovasi baru yang lahir. Money will follow kok, don?t worry keep focus & do the best saja,? urainya.
Penyuka hobi traveling dan olahraga ini membocorkan project dalam waktu dekat dan impiannya ke depan. Untuk project ke depan, membangun Indonesia Digital Nation dengan tagline ?This is our Big Dream, Digital Economy is our Future?. Yang akan saya tuangkan dalam sebuah buku sebagai referensi dunia dan semoga bisa menjadi acuan untuk calon Presiden kita nanti di 2019. Setelah itu, ingin mendirikan Komite Ekonomi Digital Indonesia bekerja sama dengan pemerintah dan swasta. Untuk impian, ingin menjadi Presiden Digital Republik Indonesia,? pungkasnya.
